'Kiana?' tanya Hannah akhirnya.
Gian mengangkat wajah. Ia tidak berpura-pura tidak memahami nama yang baru diucapkan, tetapi ia juga tidak langsung menjawab dengan kalimat yang dapat dipakai sebagai janji kepada orang lain.
'Aku ingin mengenalnya lebih dekat,' katanya.
Hannah menutup mata. Meskipun sudah menduga, mendengarnya tetap membuat ia seperti kehilangan sesuatu yang selama ini hanya ada dalam bayangan.
'Dia bilang kalian tidak ada apa-apa.'
'Kami memang belum punya hubungan seperti yang kamu tanyakan.'
'Tapi kamu menginginkannya.'
Gian terdiam, lalu mengangguk. 'Aku sedang memahami perasaanku. Tapi jawaban kepadamu tadi tetap jawabanku, bahkan kalau Kiana tidak ada.'
Hannah mengambil tisu baru. Ia ingin mempercayai bagian itu, ingin berhenti menjadikan perempuan lain sebagai alasan mengapa lima belas tahun tidak berakhir sesuai keinginannya. Namun keinginan dan kemampuan menerima ternyata belum bergerak secepat yang diharapkan.
'Aku pernah meminta dia menjaga jarak,' akunya.
Gian menatapnya. Hannah segera mengangkat tangan sedikit, bukan untuk menghentikan pertanyaan, melainkan memberi dirinya waktu menyelesaikan pengakuan.
'Aku mengundangnya makan, lalu aku minta begitu. Dia bilang suka sama Bayu. Dia berusaha menjelaskan. Tapi aku masih memperhatikan setiap kali kalian berangkat bersama.'
'Kiana tidak bertanggung jawab membuat penantianmu terjawab, Han.'
'Aku tahu. Aku mulai tahu betapa tidak adilnya itu.'
Ia menunduk pada tisu yang sudah basah. Gian tidak menyuruhnya segera meminta maaf malam itu juga. Kiana bukan orang yang perlu dipanggil turun agar mereka dapat menyelesaikan percakapan di hadapannya.
Lama mereka duduk tanpa bicara. Dari dalam bangunan terdengar pintu terakhir ditutup dan langkah staf menjauh setelah pamit. Hannah mengangkat tangan membalas, lalu kembali menatap halaman yang hampir seluruhnya sepi.
'Aku bisa menangis sebentar lagi?' tanyanya, mencoba tertawa.
Gian mengangguk. Ia tidak meraih bahu Hannah atau memeluknya untuk membuat penolakan terasa lebih lembut. Ia hanya tetap duduk, memberi perempuan itu waktu sampai isaknya tidak lagi memotong setiap tarikan napas.
Ketika Hannah kembali mengangkat wajah, suara sebuah motor terdengar dari jalan. Mesin yang keras memecah keheningan sebelum menjauh. Gian menegang, tangannya bergerak menyentuh sisi kepala, lalu berhenti pada tepi peredam di telinga kiri.
Hannah melihat rahangnya mengeras.
'Tadi sakit lagi?'
'Sudah lewat.'
'Gian, aku tidak sedang menanyakan apakah motornya masih di jalan.'
Pria itu menarik napas dan menurunkan tangan. Wajahnya kembali ditata datar, tetapi Hannah tidak tertipu. Ia sudah lama melihat perbedaan antara diam karena tidak ingin berbicara dan diam karena sedang menahan sakit.
'Aku tahu kamu mengenali itu,' katanya akhirnya.
'Ya. Dan kamu tahu aku sudah tahu.' Hannah meletakkan tisunya di atas meja, lalu membalikkan tubuh sedikit agar dapat melihat wajahnya lebih jelas. 'Tapi belakangan kamu makin sering terlihat begini, bahkan waktu alatnya tidak lepas.'
Gian menatap halaman. 'Kadang memang begitu.'
'Dulu juga kamu bilang begitu. Lalu beberapa malam tidak bisa tidur.'
Hannah tidak sedang mengungkap rahasia yang baru ditemukannya. Rasa sakit pada telinga Gian, ketergantungannya pada peredam, dan malam-malam panjang di teras sudah menjadi bagian dari kehidupan yang mereka saksikan bersama. Yang membuatnya cemas sekarang ialah semakin sedikit waktu ketika Gian tampak benar-benar beristirahat.
'Pak Huda masih tahu keadaanmu yang sekarang?' tanyanya.
'Beliau sudah tahu masalahku sejak lima tahun lalu.'
'Aku tahu beliau tahu. Aku tanya keadaanmu sekarang.'
Gian mengusap wajah. 'Kami pernah membicarakan pilihan kerja. Beberapa pekan lalu, di gazebo kantor. Beliau bilang aku bisa bicara kalau sudah tidak kuat.'
Hannah mengangguk, mendengarkan. 'Waktu Rama datang ke paviliun, aku dengar kamu takut kehilangan wewenang kalau pindah kerja. Aku mengerti kamu tidak mau melepaskannya. Tapi apakah setiap pilihan harus menunggu sampai kamu tidak bisa menahan sakit sama sekali?'
'Waktu itu kamu menjawab apa kepada Pak Huda?'
'Aku masih ingin bertahan.'
'Itu keinginan. Bukan jawaban apakah tubuhmu sanggup.'
'Aku sudah bertahan delapan tahun.'
'Dan selama itu kamu tidak selalu terlihat seperti sekarang.' Hannah menatap tangan yang beberapa kali bergerak ke telinga. 'Bicaramu bahkan terputus setiap ada bunyi dari jalan. Aku tidak bilang satu motor berarti kamu tidak bisa bekerja. Aku bilang kamu terus menepis setiap hal kecil sampai tidak ada yang boleh dianggap penting.'
Gian menggerakkan tangannya, tetapi tidak jadi menyentuh peredam. Hannah menunggu ia kembali menatapnya.
Gian menatapnya dengan sorot yang mulai menajam. Hannah mengenali tanda bahwa ia sedang mendekati bagian yang paling sulit dibicarakan. Biasanya ia akan berhenti di sana, menyiapkan minuman atau mengganti topik agar pertemuan mereka tidak berakhir buruk.
Malam ini ia tidak ingin melakukan itu lagi.
'Aku bekerja setiap hari di tempat ini. Aku lihat kapan lampu rumahmu masih menyala. Aku lihat kamu menahan kepala ketika tamu tertawa terlalu keras, lalu marah kalau ada yang bertanya,' katanya. 'Aku tidak bisa memeriksa telingamu. Aku juga tidak tahu keputusan apa yang paling tepat. Tapi aku tahu kamu tidak terlihat sebaik yang kamu katakan.'
'Aku tidak bisa berhenti menjaga hutan hanya karena ada hari yang buruk.'
'Aku tidak menyuruhmu tidak peduli pada hutan.'
'Kalau aku tidak turun, siapa yang akan...'
Gian menghentikan kalimatnya, mengatupkan rahang. Hannah mendengar nama-nama rekan yang tidak disebut dalam pertanyaan itu, orang yang juga bekerja menjaga tempat yang mereka cintai. Ia tidak ingin meremehkan keberanian Gian, tetapi ia juga tidak ingin keberanian dipakai untuk menutup semua pertolongan.
'Bicaralah dengan Huda lagi,' katanya. 'Bukan dengan jawaban yang sudah kamu siapkan supaya beliau membiarkanmu pergi seperti biasa.'
Gian memalingkan wajah. Hannah menahan tangis yang kembali naik, kali ini karena kecemasan yang tidak berhubungan dengan apakah lelaki itu mencintainya.
Ia meraih lengan Gian, menggenggamnya agar permintaannya tidak hilang bersama keheningan.
'Tolong. Soal perasaanku tadi boleh tidak terjawab seperti yang kuinginkan. Aku harus belajar menerimanya. Tapi soal ini, aku tidak bisa cuma duduk dan berpura-pura tidak melihat kamu makin kesulitan.'
Gian menatap tangan yang memegang lengannya, kemudian wajah Hannah yang masih basah. Ia belum menyatakan setuju menghubungi siapa pun. Di antara mereka, permintaan itu tetap terbuka, lebih berat daripada kalimat-kalimat yang sepanjang malam sudah berhasil diucapkan.