Buku itu masih berada di meja serambi ketika Kiana keluar pada Jumat pagi. Panggilan tim semalam berakhir lebih lama daripada perkiraan, dan ia tertidur setelah menyelesaikan catatan yang diminta. Ia sempat mendengar Hannah meletakkan buku di luar dan bermaksud mengambilnya, tetapi rasa kantuk membuatnya melupakan itu setelah telepon berakhir.
Sekarang ia mengambil benda tersebut sambil membawa gelas. Ia ingin memasukkannya ke tas sebelum lupa lagi, tetapi ketika membuka bagian belakangnya, ia berhenti.
Di sana ada gambar yang tidak dibuatnya.
Seorang perempuan duduk menghadap gunung dengan kuas di tangan. Garis tubuhnya kaku, dan salah satu tangan tampak pernah diubah lebih dari sekali. Tulisan di bawahnya jauh lebih mudah dikenali daripada sosok yang digambarkan.
Aku tidak pandai menggambar. Tapi ini yang kulihat dari halaman ketika kamu melukis.
Kiana tersenyum sebelum sempat menahannya. Ia ingat telah mengizinkan Gian memakai halaman kosong, tetapi tidak menyangka yang akan dipilihnya justru sudut serambi yang setiap hari mereka lewati.
Ia memandang bangku, lalu gambar, mencoba menemukan bagaimana pria itu melihatnya dari bawah. Ada sesuatu yang hangat sekaligus membuatnya gugup dalam kesadaran bahwa ia diperhatikan ketika tidak sedang berusaha menampilkan dirinya yang paling baik.
Pintu rumah Gian terbuka di bawah. Kiana menutup buku, hampir menyembunyikannya seperti anak kecil ketahuan membawa benda rahasia. Lalu ia menggeleng pada dirinya sendiri dan mengangkat buku tersebut ketika Gian menoleh.
'Tangannya terlalu banyak garis,' serunya.
Gian berhenti di halaman. 'Aku sudah mengingatkan soal kemampuan.'
'Tapi aku suka.'
Lelaki itu menatapnya sejenak, kemudian tersenyum. Ia tidak meminta penjelasan lebih panjang. Kiana pun tidak memberikannya. Mereka berangkat setelah masing-masing siap, membawa percakapan kecil itu ke dalam perjalanan tanpa menjadikannya pengakuan yang belum pernah diucapkan.
***
Jumat malam, Hannah datang sesudah kafe hampir selesai dibereskan. Ia sudah mengatakan kepada staf bahwa urusan terakhir akan diperiksanya sebelum pulang. Gian menunggu di teras paviliun, bukan di dalam kamar yang membuat perempuan itu sulit memilih pergi bila percakapan terasa berat.
'Aku duduk sini?' tanya Hannah sambil menunjuk sisi bangku.
Gian mengangguk dan menggeser map pekerjaan yang tadi diletakkan di sana. Ia menutupnya sebelum Hannah mulai bicara. Peredam tetap berada di telinga kiri, seperti ketika mereka berbincang pada banyak hari sebelumnya.
Hannah menatap benda kecil itu sebentar, lalu mengalihkan pandangan ke halaman.
'Aku sudah lama mau bertanya,' katanya. 'Tapi setiap ada waktu, aku malah bicara soal tamu, uang, atau barang yang perlu dibeli.'
Gian menunggu, kedua tangannya berada di atas lutut.
'Dulu kamu pernah suka sama aku. Waktu sekolah.'
'Iya.'
Jawaban singkat itu membuat Hannah tertawa kecil dengan mata yang mulai basah. 'Kamu selalu bisa membuat sesuatu yang susah terdengar gampang.'
'Aku tidak menganggap ini gampang, Han.'
Hannah mengangguk, lalu mengusap telapak tangannya pada celana. Ia tidak ingin membawa penantian lima belas tahun seperti tagihan yang tinggal disodorkan. Namun menyebutkannya tanpa terdengar menuntut ternyata tetap sulit.
'Aku cinta sama kamu,' katanya. 'Sudah lama. Setelah kita mulai kerja bersama, perasaan itu makin besar. Aku menunggu karena mengira suatu hari kamu akan kembali merasakan yang dulu.'
Gian menunduk sebentar. Hannah melihat gerakan tersebut dan hampir buru-buru mengganti pembicaraan. Kebiasaan menyelamatkan diri dari jawaban yang tidak diinginkan terasa begitu kuat sampai ia harus menahan ujung bangku agar tidak berdiri.
'Aku mau bertanya sekarang. Kamu masih menginginkan hubungan seperti itu sama aku?'
Angin menggerakkan kain yang digantung dekat pintu. Gian tidak langsung menjawab, tetapi ia juga tidak memandang ke arah tangga seolah mencari alasan untuk pergi.
'Aku sayang kamu,' katanya akhirnya. 'Tapi bukan dengan perasaan waktu sekolah itu lagi.'
Hannah menarik napas melalui mulut. Matanya terpaku pada satu titik di lantai kayu.
'Aku tidak ingin kamu terus menunggu karena aku membiarkan jawabannya kabur,' lanjut Gian. 'Aku tidak ingin menjalani hubungan sebagai pasangan, Han.'
Air mata jatuh sebelum Hannah sempat berkedip. Ia mengusapnya dengan ujung jari, kesal karena tubuhnya bereaksi lebih cepat daripada niatnya untuk tetap tenang.
'Selama ini kamu tahu?'
'Aku tahu kamu punya perasaan. Kita pernah membicarakannya meskipun tidak sejelas ini.'
'Kenapa kamu tidak menghentikanku?'
Gian menatap tangannya. 'Aku membiarkan banyak hal tidak dibicarakan karena lebih mudah begitu. Kamu tetap bekerja, kita tetap bertemu, dan aku tidak perlu menghadapi percakapan seperti sekarang. Itu bukan berarti aku tidak ikut membuatmu berharap.'
Hannah menggigit bibir. Ia ingin marah, tetapi juga tahu dirinya beberapa kali memilih bertahan pada tanda kecil daripada menanyakan hal yang sebenarnya.
'Rumah itu, pekerjaan...'
'Aku menawarkan karena percaya kamu bisa mengurusnya dan kamu butuh tempat untuk mulai lagi. Bukan sebagai janji kalau nanti kita akan menikah.'
'Aku tahu,' bisik Hannah. 'Aku cuma terlalu lama berharap bisa begitu.'
Gian tidak menyentuh bahunya. Ia mengambil kotak tisu dari meja samping dan meletakkannya dalam jangkauan. Hannah menarik beberapa lembar, menekannya pada mata, lalu membiarkan dirinya menangis tanpa mencoba membuat bunyinya lebih sopan.
'Besok aku tetap datang bekerja?' tanya Hannah sesudah isaknya sedikit mereda.
'Kalau kamu ingin. Urusan pekerjaan tidak berubah karena jawaban ini. Kalau perlu waktu, kita atur tugasnya supaya kamu bisa istirahat.'
Hannah menatapnya, lalu mengangguk kecil. Ia belum ingin memutuskan apa pun mengenai pekerjaannya ketika matanya masih penuh air. Untuk sekarang, mengetahui ia tidak sedang diminta meninggalkan seluruh hidupnya sekaligus sudah membantu menahan kepanikan yang datang.
'Kamu penting buatku,' kata Gian setelah beberapa saat. 'Kamu menemani tahun-tahun yang berat. Tapi aku tidak mau memakai kata penting untuk membuatmu menunggu lagi.'
Hannah mengangguk, meski anggukan itu belum berarti ia sanggup menerima semuanya. Di hadapannya masih ada halaman yang sama, rumah yang sama, dan lelaki yang selama ini diperhatikannya setiap hari. Yang berubah malam ini hanyalah ia tidak dapat lagi menyebut ketidakjelasan sebagai kemungkinan.
Ia mengambil napas yang tersendat, lalu menatap Gian. Masih ada pertanyaan yang membuat dadanya sesak, dan ia tidak ingin membawanya pulang untuk diduga-duga sendirian sekali lagi.