Hannah memegangi pintu tempat penyimpanan ketika Gian membawa galon pertama masuk. Ia bergeser agar lelaki itu tidak perlu memutar tubuh terlalu jauh, lalu mengambil wadah kosong yang akan dipindahkan ke luar.
'Satunya masih di kendaraan?' tanyanya.
'Uhm. Tolong tutup pintu depan mobil sekalian kalau sudah selesai. Aku mau periksa sambungan air di belakang.'
Hannah mengangguk. Ia kembali ke kendaraan untuk menutup pintu yang masih terbuka. Pintu penumpang masih terbuka, dan di atas jok ada buku yang tidak dikenalnya sebagai milik Gian.
Halaman terbukanya memperlihatkan gambar seorang perempuan duduk menghadap gunung.
Hannah berhenti dengan tangan masih memegang pintu.
Garis-garis gambar itu sederhana, bahkan ada bagian tangan yang tampak diubah beberapa kali. Namun letak bangku, kuas, dan rambut setengah diikat membuatnya tidak perlu bertanya siapa yang sedang digambarkan. Tulisan di bawahnya pun segera dikenali.
Gian tidak pandai menggambar. Itu ditulisnya sendiri. Tetapi ia telah duduk mencoba, dan usaha yang sedikit berantakan tersebut terasa lebih berat di dada Hannah daripada gambar yang sempurna.
Ia tidak membalik halaman lain. Hannah menutup buku itu dengan hati-hati dan mengambilnya agar tidak tertinggal ketika kendaraan dipindahkan. Pintu ditutup sesudah buku diangkat.
Dari belakang bangunan, Gian masih berbicara dengan orang yang sedang membereskan kebutuhan air. Hannah sempat hendak memanggilnya dan bertanya apakah buku itu akan dikembalikan kepada Kiana. Namun jawabannya sudah dapat diperkirakan. Ia sendiri yang mencari alasan agar dapat mendengar penjelasan berbeda.
Hannah naik ke lantai dua. Kiana masih berada di dalam kamar dengan suara percakapan yang sesekali terdengar dari balik pintu. Hannah mengetuk ringan, tidak cukup keras untuk memotong teleponnya.
'Bukunya aku taruh di meja serambi, ya,' katanya setelah Kiana menjawab sedang menerima panggilan.
'Di luar saja, Kak. Makasih. Nanti aku ambil.'
Hannah meletakkan buku itu dengan posisi tertutup, jauh dari gelas air yang masih berisi. Ia tidak menyelipkan kertas, tidak memindahkan halaman gambar ke tempat tersembunyi, dan tidak membawa benda itu pulang seolah berhak menentukan apa yang boleh dilihat Kiana.
Ketika turun, ia tetap merasa ingin menangis.
***
Seorang tamu memanggil dari meja penerima. Hannah hampir memberinya kunci yang salah karena masih memikirkan tulisan Gian. Ia melihat angka pada gantungan tepat sebelum menyerahkan, lalu berhenti dan meminta maaf.
'Yang ini untuk kamar sebelah. Sebentar, saya ambilkan yang benar.'
Tamu itu tidak memarahinya. Ia menunggu sambil berbicara dengan teman di samping. Hannah menukar kunci, mencocokkan nama dan nomor, kemudian menjelaskan letak kamar dengan lebih pelan.
Sesudah tamu pergi, ia duduk beberapa saat di belakang meja. Kesalahan tersebut kecil dan berhasil diperbaiki, tetapi cukup membuatnya marah kepada diri sendiri. Ia telah mengurus tempat ini begitu lama. Ia tahu pekerjaan mana yang bisa dilakukan sambil berbicara dan mana yang harus dilihat baik-baik. Sore ini pikirannya membuat semua yang sederhana terasa tidak dapat dipercaya.
Gian muncul membawa galon kosong yang hendak disimpan di tempat semula. Ia melihat daftar di depan Hannah dan menanyakan apakah ada barang yang belum terbeli.
'Sudah cukup,' jawabnya.
'Buku Kiana tadi?'
'Sudah kukembalikan. Di meja serambi. Dia masih telepon.'
Gian mengangguk. 'Makasih.'
Hannah ingin bertanya mengapa ia menggambarnya. Kalimat itu sudah berada di ujung lidah, tetapi yang keluar justru pertanyaan tentang persediaan tamu. Gian menjawab, lalu pergi setelah mengatakan akan makan sebentar sebelum melanjutkan pekerjaan kecil di rumah.
Ia tidak menyembunyikan buku itu. Ia tidak tampak takut ketahuan. Hannah mulai menyadari bahwa yang paling menyakitkan bukan adanya rahasia, melainkan betapa wajarnya Gian melakukan hal-hal yang selama ini ia tunggu untuk dirinya sendiri.
***
Di kios nomor tiga malam itu, Hannah membuka laci yang sudah lama tidak dibereskan. Beberapa nota lama dikeluarkan, disisihkan dari surat dan buku catatan yang masih ingin disimpan. Di bagian bawah ada buku kuliah dengan tulisan namanya yang lebih muda.
Ia menyentuh sampulnya.
Lima belas tahun lalu, panggilan mengenai kebakaran datang ketika hidupnya masih diisi jadwal perkuliahan dan keinginan yang terasa luas. Setelah kehilangan keluarganya, ia pulang dengan barang yang jauh lebih sedikit daripada yang ingin dibawa. Gian mengulurkan pekerjaan ketika ia tidak tahu lagi tempat untuk kembali.
Ia bersyukur atas pertolongan tersebut. Namun rasa syukur perlahan tercampur dengan penantian yang tidak pernah mereka sepakati bersama.
Hannah mengingat menunggu Gian pulang dari Jakarta, menyiapkan urusan paviliun agar liburnya tidak dipenuhi masalah, lalu merasa senang hanya karena lelaki itu memujinya dapat mengurus tempat dengan baik. Ia mengingat Anjani yang masih ada pada tahun-tahun sesudah kehilangan orang tua mereka, kemudian kabar bencana yang kembali membuat rumah itu berduka. Tidak setiap hari dalam lima belas tahun tersebut berisi penantian romantis. Ada pekerjaan, tawa, kelelahan, dan kedukaan yang sungguh mereka lalui.
Tetapi ia telah memakai semuanya untuk menunda satu pertanyaan.
Hannah meletakkan buku di meja, lalu mengambil ponsel. Ia membuka percakapan Gian dan mengetik apakah besok malam dapat bicara sebentar setelah pekerjaan selesai. Tidak ada nama Kiana dalam pesan itu.
Jawabannya datang ketika ia sedang menutup laci. Gian bersedia dan meminta ia mengabari bila ada perubahan waktu.
Hannah memandang kata-kata tersebut, merasakan lega dan takut sekaligus. Ia tidak dapat lagi menganggap ketersediaan waktu sebagai jawaban atas perasaannya. Besok ia harus menanyakan hal yang sebenarnya.
Buku kuliah dibiarkannya di meja. Ia belum memutuskan akan melakukan apa dengannya. Malam ini ia hanya ingin berhenti menyimpan seluruh bagian hidupnya sendiri di bawah tumpukan alasan untuk menunggu orang lain.
Sebelum tidur, ia memeriksa alarm kerja dan mematikan lampu. Air matanya jatuh ketika kamar menjadi gelap, tetapi ia tidak mengirim pesan tambahan meminta Gian segera menjawab sesuatu yang bahkan belum ditanyakannya.
Besok malam, ia akan mengatakannya dengan jelas. Apa pun jawabannya, kali ini ia ingin mendengarnya tanpa menyuruh Kiana menjauh agar ruang di samping Gian tampak hanya tersedia untuk dirinya.