Kiana turun membawa buku sketsa pada Kamis pagi. Ia menyelipkannya di antara tas dan botol minum, berniat menggambar sebentar bila ada waktu istirahat. Gian yang sedang menaruh tas di kendaraan melihat ujung buku itu dan mengangguk, tetapi tidak meminta membukanya.
'Mau ikut?'
'Iya. Aku sudah siap.'
Kiana naik dan meletakkan barang di kakinya agar tidak menghalangi sabuk. Sepanjang jalan mereka berbicara mengenai makanan yang hendak dibeli siang nanti. Tidak ada yang mengulang percakapan tentang tangis di serambi, meski Kiana masih mengingatnya ketika membuka buku untuk memastikan sudut kertas tidak terlipat.
'Aku memperbaiki kerudungnya,' katanya.
Gian melirik sekilas sebelum mengembalikan mata ke jalan. 'Nanti kalau berhenti.'
Kiana menutup buku. Ia baru menyerahkannya ketika kendaraan sudah terparkir di tempat aman dekat klinik, dengan mesin dimatikan dan tidak ada orang menunggu mereka segera bergerak.
Halaman inaq kini memiliki garis yang lebih ringan. Kiana menunjuk perubahan yang dibuatnya sesudah percakapan semalam, lalu bertanya apakah wajahnya masih dapat dikenali.
'Masih,' jawab Gian. 'Ini seperti dia sedang mendengarkan pesanan yang terlalu panjang.'
Kiana tertawa. Ia senang karena jawabannya tidak sekadar mengatakan bagus tanpa melihat apa pun.
Pada halaman lain ada sketsa cucu nenek yang dikunjunginya bersama Ali. Wajah anak itu belum selesai, tetapi tangan yang memegang layangan sudah terlihat. Kiana menjelaskan bahwa ia baru menambah garis tersebut berdasarkan ingatan sesudah meminta izin keluarga.
'Dia ingin jadi pilot,' katanya. 'Katanya biar bisa melihat ladang dari lebih tinggi.'
Gian menatap arah mata anak pada gambar, lalu mengangguk. 'Kamu membuatnya seperti sedang melihat sesuatu yang belum sampai.'
'Itu kedengarannya jauh lebih bagus daripada yang kupikirkan waktu menggambar.'
'Aku cuma menjawab pertanyaanmu.'
Kiana mengambil buku kembali. Ia sempat ingin meminta komentar untuk halaman berikutnya, tetapi jam kerja sudah mendekat. Ia menutupnya, berterima kasih, lalu turun setelah memastikan tidak ada barang lain tertinggal.
Sepanjang pagi, pikirannya beberapa kali kembali pada kalimat Gian. Bukan untuk menganggap ia dapat menilai setiap hasil dengan benar, melainkan karena ada orang yang mau berhenti dan benar-benar melihat.
***
Sore itu mereka pulang bersama setelah jadwal masing-masing selesai. Gian lebih dahulu meminta waktu singgah mengambil galon air untuk kebutuhan paviliun. Kiana menunggu di tempat yang tidak mengganggu kegiatan toko, membuka buku pada halaman kosong untuk mencatat ide gambar berikutnya.
'Kamu mau menggambar galon juga?' tanya Gian ketika kembali.
'Mungkin. Kalau pemiliknya tidak terus menghalangi pemandangan.'
Gian melihat dirinya, lalu bergeser dengan wajah sangat serius sampai Kiana tertawa. Ia menutup buku ketika pria itu mulai mengemudi. Dua galon yang dibawa sudah diletakkan dan diamankan di bak sesuai tempatnya, tidak berada di antara kaki penumpang.
Di halaman paviliun, Kiana turun sambil meraih tas. Ponselnya berbunyi, menampilkan panggilan dari tim klinik mengenai catatan yang perlu diperiksa. Ia mengangkat dan menunjuk ke arah tangga sebagai tanda akan masuk lebih dahulu.
Gian mengangguk. Ia mengambil tasnya sendiri dari belakang kursi, lalu melihat buku sketsa Kiana masih berada di jok. Belum sempat memanggil, ia sudah melihat perempuan itu naik sambil mendengarkan telepon.
Ia mengirim pesan bahwa bukunya tertinggal dan akan dibawakan nanti. Sambil menunggu jawaban, ia memeriksa apakah ada halaman yang terlipat karena tertindih tas. Buku dibuka pada bagian belakang yang kosong, tidak pada tulisan pribadi yang mungkin tersimpan di dalamnya.
Kiana membalas singkat bahwa ia masih menyelesaikan panggilan dan dapat mengambilnya setelah selesai.
Gian memandangi halaman putih itu. Dari tempat duduknya, ia dapat melihat sudut serambi tempat Kiana biasa melukis. Ada kuas yang ditaruh dalam wadah, kain pelindung kanvas, dan kursi yang terlalu sering dipakainya sampai lupa waktu.
Ia membuka percakapan lagi dan menanyakan apakah boleh memakai satu halaman kosong untuk mencoba menggambar.
Jawaban Kiana datang sesudah jeda.
'Boleh. Asal tidak menggambar wajahku seperti hantu.'
Gian tersenyum sendiri. Ia mengambil pensil dari perlengkapan kerja di tasnya dan mencoba membuat garis. Percobaan pertama terlalu kecil. Ia beralih ke bagian yang lebih lapang pada halaman yang sama, lalu menggambar bangku serta sosok perempuan dengan kuas di tangan.
Tidak ada yang proporsional seperti di buku Kiana. Lengannya kaku, rambutnya hanya beberapa garis, dan gunung di belakang tampak lebih mirip lipatan kain. Gian menatap hasilnya dengan wajah yang perlahan menjadi geli.
Ia mencoba membuat tangan pada sosok itu memegang kuas, lalu baru sadar jumlah garis jarinya membingungkan. Gian berhenti, menghitung jarinya sendiri, dan menggeleng. Tidak ada pekerjaan yang memintanya menyelesaikan gambar tersebut sore ini. Ia bisa menutup buku dan melupakan percobaan itu. Namun bayangan Kiana yang pasti akan menertawakannya justru membuat ia ingin menyelesaikan satu bagian lagi sebelum menyerah.
Ia hampir menghapus semuanya. Namun ia sudah meminta izin untuk mencoba, bukan menjanjikan dapat menghasilkan sesuatu yang bagus.
Di bawah gambar ia menulis bahwa itulah yang dilihatnya dari halaman ketika Kiana duduk melukis. Setelah berpikir sebentar, ia menambahkan satu kalimat pendek tentang dirinya yang tidak pandai menggambar.
Ia menyimpan pensil di tas, lalu meninggalkan buku terbuka agar garis yang baru dibuat tidak tergesek benda lain ketika ia membereskan barang. Dari arah gerbang Hannah datang sambil membawa kunci motor dan daftar kebutuhan paviliun.
'Galonnya sudah diambil?'
'Di bak. Bantu pegang pintunya nanti, aku angkat ke tempat penyimpanan.'
Hannah mengangguk dan meletakkan barangnya di meja dekat pintu. Gian keluar dari kendaraan untuk menurunkan galon pertama. Ia belum membawa buku kepada Kiana karena panggilan dari lantai atas masih terdengar, terputus-putus oleh langkah perempuan itu yang bergerak dekat jendela.
Sore semakin teduh. Di jok depan, buku sketsa tetap terbuka pada satu gambar yang bukan dibuat oleh pemiliknya. Tidak ada pengakuan yang tertulis di sana. Hanya sosok kecil yang duduk menghadap gunung, dibuat oleh seseorang yang selama ini lebih sering menyembunyikan apa yang diperhatikannya.