Garis senyum itu belum juga terasa benar ketika Kiana mengangkat wajah dari buku sketsanya. Malam Rabu sudah lebih sunyi daripada yang disadarinya. Dari bawah hanya terdengar kursi terakhir digeser dan pintu kafe ditutup.
Ia mengusap mata, lalu menyandarkan punggung pada bangku serambi. Buku tetap terbuka di pangkuan, pensil ditahan di antara halaman supaya tidak menggelinding. Ia hanya ingin berhenti sebentar sebelum membereskan semuanya.
Matanya terpejam lebih lama daripada yang direncanakan.
Ketika tubuhnya sedikit miring, buku bergeser. Pensil jatuh lebih dahulu, menyusul bunyi kertas mengenai lantai. Kiana belum terbangun sepenuhnya. Ia menarik napas dan membetulkan posisi kaki tanpa menyadari apa yang telah jatuh.
Gian yang hendak turun setelah memeriksa kebutuhan salah satu kamar tamu berhenti mendengar bunyi itu. Ia melihat Kiana tidur di bangku, lalu buku yang tergeletak tidak jauh dari sandalnya. Ia memungutnya dengan menahan kedua sisi agar halaman tidak terlipat, menutupnya, dan meletakkannya di meja kecil.
Pensilnya diambil setelah itu.
Ia tidak membuka kembali buku tersebut. Gian mengambil kain penutup tipis yang dilipat di sisi bangku, kemudian berhenti sebelum menariknya. Ia tidak tahu apakah Kiana akan merasa terganggu bila terbangun dan mendapati dirinya terlalu dekat.
'Kiana,' panggilnya pelan.
Perempuan itu mengerjap, menarik napas pendek ketika menyadari ada orang berdiri di dekatnya. Gian langsung menunjuk meja, memberi tahu apa yang tadi jatuh.
'Bukumu. Aku taruh di sana.'
Kiana melihat pangkuannya yang kosong, lalu meraih buku. 'Aku ketiduran?'
'Sebentar. Mungkin lebih baik tidur di dalam.'
'Uhm.' Ia mengusap pipi, menegakkan punggung. 'Terima kasih. Aku belum selesai malah tidur.'
Gian mengangguk dan hendak berbalik, tetapi Kiana membuka halaman yang tadi sedang dikerjakan. Ia melihat satu sudut sedikit tertekuk, meratakannya dengan ujung jari, lalu memastikan catnya sudah kering.
'Itu gambar siapa?' tanya Gian setelah melihat bagian wajah dari tempatnya berdiri. 'Boleh lihat?'
Kiana memandang buku dan mendekapkannya sejenak, ragu memperlihatkan hasil yang belum sesuai harapannya. Setelah jeda kecil, ia menggeser duduk dan mengangkat halaman menghadap Gian.
'Boleh. Tapi belum selesai.'
Gian duduk di ujung bangku yang ditunjuknya, tidak mengambil buku sebelum Kiana sendiri menyerahkan. Ia memegangnya jauh dari gelas air yang masih ada di meja.
'Inaq yang jual nasi balap di pertigaan,' katanya setelah memperhatikan.
Kiana menoleh cepat. 'Kelihatan?'
'Kelihatan. Tahi lalatnya di sini. Kalau ketawa, matanya hampir menutup.'
'Iya. Itu yang susah kugambar.'
Gian mendekatkan halaman secukupnya untuk melihat, lalu mengembalikannya pada jarak semula. Ia mengatakan perempuan itu sudah berjualan ketika dirinya masih kecil. Ada satu masa ia dan ibunya membeli makanan di sana sebelum pulang, dan ia masih ingat cara inaq tersebut menyisipkan tambahan sambal untuk orang dewasa.
'Pernah sekali aku datang dengan baju penuh lumpur,' katanya. 'Aku pikir bakal dimarahi karena mengotori bangku. Dia malah menyuruhku duduk di pinggir, lalu Ibu yang membersihkan bekasnya sambil mengomel sepanjang makan.'
Kiana tersenyum membayangkan Gian kecil yang tidak sedingin sekarang. 'Kamu dari dulu suka bikin orang mengomel?'
'Itu satu kejadian.'
'Yang lain belum diceritakan.'
Gian menatapnya dengan pura-pura curiga, kemudian menunjuk wajah pada halaman. Ia mengatakan senyum itulah yang diingatnya, senyum orang yang sudah tahu seorang anak akan datang lagi dengan kenakalan berbeda. Kiana kembali melihat garis mulut yang sejak tadi ingin dihapusnya.
'Kamu juga diberi sambal?'
'Aku belum suka pedas waktu itu.'
'Waktu itu saja?'
Gian mengangkat alis. Kiana tertawa kecil, mulai lebih terjaga. Ia menunjuk bagian mulut yang telah beberapa kali dihapus, menjelaskan bahwa semakin dipaksakan mirip, senyumnya justru terasa kaku.
'Yang ini sudah bagus,' kata Gian. 'Dia kelihatan sedang menahan tawa sebelum menegur orang.'
Kiana berhenti menggerakkan jari.
'Kamu benar-benar melihatnya begitu?'
'Iya. Seperti kalau ada yang minta sambal banyak, lalu kepedasan sendiri.'
Kiana menatap gambar itu. Selama ini ia terlalu sibuk mencari garis yang salah sampai tidak menyadari ada bagian yang sudah bekerja. Mendengar seseorang mengenali bukan hanya wajah tetapi juga kebiasaannya membuat matanya mendadak panas.
Ia mengambil buku kembali dengan hati-hati. Gian segera melepaskan pegangan, tampak bingung ketika satu air mata jatuh di sisi kertas yang masih kosong.
'Aku salah ngomong?'
'Enggak.' Kiana tertawa sambil menggeleng. 'Jangan panik. Kamu tidak salah.'
Gian menunggu. Ia melihat Kiana mengusap pipi dengan ujung lengan, lalu mengambil tisu dari meja agar tidak terus mengenai kertas.
'Aku pernah terlalu lama menunggu orang bilang gambarku bagus,' katanya setelah suaranya lebih tenang. 'Kadang sekarang pun aku masih menunggu, padahal belum tentu orang itu tahu aku sedang menunggu.'
Ia tidak menyebut nama atau menjelaskan seluruh masa kecilnya. Gian tidak mendesak. Ia hanya mengatakan bahwa bagian yang disukainya tadi memang ada di halaman, bukan dibuat untuk menghiburnya karena ia tampak lelah.
'Kamu boleh tidak setuju,' tambahnya. 'Tapi kalau ditanya aku lihat apa, ya itu.'
Kiana menunduk, mengangguk. Air matanya mereda sebelum ia merasa perlu meminta maaf karena menangis. Ia merapikan sudut kertas, lalu menunjukkan satu garis kerudung yang menurut inaq terlalu lebar.
'Kalau ini?'
Gian memiringkan kepala. 'Aku mungkin bukan orang yang tepat buat ukuran kerudung.'
Kiana tertawa lebih lepas. Ia menutup buku sebelum mulai meminta penilaian pada setiap garis hanya karena senang menerima satu jawaban.
'Besok saja kulanjutkan. Sekarang aku harus tidur.'
'Itu dari tadi rencananya.'
Ia mengangkat pensil seolah memperingatkan, lalu berdiri mengumpulkan barang. Gian membawa gelas kosong setelah ditanya apakah boleh dititipkan ke bawah. Di depan pintu, Kiana menoleh dan mengucapkan terima kasih sekali lagi, kali ini bukan hanya karena bukunya dipungut.
Sesudah masuk, ia meletakkan sketsa di meja dengan halaman tertutup. Ia tidak memotretnya untuk meminta orang lain memastikan pujian Gian benar. Malam itu cukup dengan mengingat bagaimana wajah inaq dapat dikenali oleh seseorang yang mengenalnya sejak kecil, dan bagaimana hasil tangannya sendiri ternyata mampu menyimpan sebagian kehidupan yang dilihatnya.