Senin pagi, Bu Dyah meminta Kiana duduk sebelum ia menambahkan namanya pada kegiatan berikutnya. Daftar kunjungan warga terbuka di meja, di antara jadwal pelayanan klinik dan catatan kebutuhan tim.
'Kamu bisa ikut yang ini bersama Dokter Ali,' katanya sambil menunjuk. 'Yang satunya dikerjakan tim lain. Jangan semuanya diambil.'
'Saya masih punya waktu, Bu.'
'Waktumu ada. Tenagamu perlu dibagi.'
Kiana menatap nama-nama yang hendak dikunjunginya, lalu mengangguk. Ia tahu bekerja dapat membuat kepalanya lebih tenang, tetapi pasien tidak seharusnya menjadi tempatnya bersembunyi dari hal yang belum selesai. Ia mengikuti pembagian yang disetujui dan menyiapkan barang bersama petugas yang akan mendampingi.
Di salah satu rumah, seorang nenek sudah menunggu dengan kain rapi di pangkuan. Cucunya berdiri di pintu sambil memegangi layangan yang belum dipasangi ekor. Kiana menyapanya, lalu membiarkan Ali memulai percakapan agar keluarga tidak merasa didatangi rombongan yang langsung mengambil alih rumah.
Pemeriksaan berlangsung tanpa terburu-buru. Kiana membantu sesuai kebutuhan, mendengarkan keluhan yang disampaikan dengan cara berputar-putar karena nenek itu lebih ingin menceritakan kebunnya. Ali beberapa kali mengembalikan pembicaraan dengan sabar.
'Kalau Ibu mulai cerita hasil panen, nanti kami lupa pulang,' candanya.
'Kalau tidak pulang, makan dulu di sini.'
Kiana tertawa. Kerutan di sekitar mata perempuan tua itu berubah ketika tersenyum, membuatnya ingin mengambil pensil. Ia menahan keinginan tersebut sampai pekerjaan selesai dan mereka sedang membereskan barang.
'Bu, saya suka menggambar. Boleh lain waktu saya membuat sketsa Ibu? Tidak harus hari ini.'
Nenek itu tampak terkejut, lalu merapikan rambut di bawah kerudung. 'Saya tua begini mau digambar?'
'Justru wajah Ibu menarik.'
'Kalau menggambar, jangan lupa senyum saya.'
Kiana menyanggupi. Ia tidak mengeluarkan ponsel tanpa bertanya atau memasukkan urusan kesehatan ke dalam catatan gambar. Setelah keluarga mengizinkan, ia menyimpan beberapa garis singkat di buku kecil pada waktu istirahat, cukup untuk mengingat sudut wajah yang ingin dicobanya nanti.
Di perjalanan kembali, Ali melihat buku itu ketika Kiana memasukkannya ke tas.
'Mulai melukis lagi?'
'Pelan-pelan, Dok.'
'Bagus. Asal tetap ada waktu tidak mengerjakan keduanya.'
Kiana tersenyum, mengerti maksud tegurannya. Ia tidak harus selalu memiliki sesuatu untuk diselesaikan agar hari terasa berguna.
***
Sore itu ia singgah di warung nasi balap. Pemiliknya yang sudah beberapa kali menyapanya bertanya apakah porsi sambalnya perlu dikurangi. Kiana mengangguk dan duduk menunggu, melihat tangan perempuan tersebut membungkus makanan dengan gerakan yang nyaris tidak perlu diperhatikan lagi.
Ada bekas kerja pada jari-jarinya. Ada cara mencondongkan kepala ketika mendengar pesanan yang kurang jelas. Kiana mulai menyadari wajah-wajah yang selama ini hanya dilewatinya di antara jadwal berangkat dan pulang.
'Inaq, boleh saya menggambar sebentar sambil menunggu?' tanyanya setelah menunjukkan buku.
Perempuan itu tertawa, lalu menyuruh Kiana memastikan makanannya tidak dingin karena terlalu sibuk menggambar. Ia setuju dibuatkan sketsa, tetapi tidak dapat duduk diam karena pembeli masih datang.
'Tidak apa-apa. Saya coba dari sini saja.'
Kiana menggambar beberapa garis wajah, berhenti ketika makanan diberikan. Sebelum pergi ia memperlihatkan hasil awal. Inaq menunjuk satu bagian kerudung yang menurutnya terlalu lebar, membuat Kiana tertawa dan berjanji mencoba memperbaikinya.
Malamnya, sketsa itu dibuka di serambi. Kiana tidak langsung menyelesaikannya. Ia mencoba beberapa bentuk mulut di kertas terpisah, gagal membuat senyum yang sama, lalu meninggalkan buku terbuka ketika turun mengambil air.
Di meja penerima tamu, Hannah sedang menerima kiriman. Ia menunjukkan satu paket kecil atas nama Gian, kemudian menanyakan apakah Kiana melihat lelaki itu pulang. Kebetulan mobilnya baru masuk halaman. Kiana menawarkan memanggil, bukan membuka paket yang bukan miliknya.
Gian datang dan membaca label, lalu terlihat sedikit canggung ketika Hannah menyerahkannya di hadapan Kiana.
'Untukku?' tanya Kiana setelah ia menyebut namanya.
'Cat air. Aku pesan dari toko di Mataram. Kalau kamu tidak cocok, masih bisa ditukar sebelum dibuka.'
Kiana menatap paket itu. 'Kenapa beli?'
'Kamu mulai sering pakai buku sketsa. Cat yang kupunya untuk kanvas, beda dengan yang kamu pakai di kertas.'
Ia tidak menyebut dirinya tahu apa yang terbaik bagi seorang pelukis. Ia hanya menunjukkan nota dan nama barang agar Kiana dapat memeriksa apakah memang dapat digunakan. Kiana membuka kemasan luar setelah memastikan Gian tidak sedang meminta pembayaran.
Warna-warna baru tampak rapi di dalam kotak. Ia membandingkannya dengan kebutuhan yang selama ini ditunda karena sibuk, kemudian mengangkat wajah dengan senyum kecil.
'Terima kasih. Aku mau pakai.'
Gian mengangguk, tampak lebih lega daripada saat menerima paketnya sendiri. Hannah menyimpan plastik pembungkus yang hendak terbang dari meja, lalu menyuruh mereka tidak meninggalkan sampah di ruang penerima tamu.
***
Selasa malam, Kiana menaruh cat baru di samping alat lama yang dibawanya sendiri. Ia memberi ruang terpisah dari akrilik yang digunakan pada kanvas. Tidak semua warna harus diganti; beberapa masih cukup, dan sebagian hanya perlu dicampurkan dengan lebih sabar.
Kiana mencoba warna baru di sudut kertas, menuliskan namanya agar kelak tidak perlu menebak hasil campuran. Satu warna tampak berbeda setelah kering. Ia menunggu, mengubah perbandingan pada percobaan berikutnya, lalu tertawa kecil ketika mendapati tangannya sendiri terkena noda. Lama sekali ia tidak menghabiskan malam dengan kesalahan yang dapat diperbaiki hanya dengan mencoba di lembar lain.
Ia mulai memberi warna tipis pada wajah inaq di buku. Senyumnya belum persis, tetapi kerutan di dekat mata mulai terlihat seperti yang diingatnya. Pada halaman lain ada garis wajah nenek saat kunjungan warga. Ia tidak terburu-buru menjadikan buku penuh.
Ketika suara kendaraan masuk halaman terdengar, Kiana menoleh sebentar. Gian keluar membawa tas kerja dan mengangkat tangan melihatnya di atas. Kiana membalas, lalu mengangkat kotak cat untuk menunjukkan ia sudah mencobanya.
Pria itu tersenyum tanpa naik meminta melihat hasil. Kiana kembali menunduk pada halaman, menyelesaikan satu sapuan yang sejak tadi belum berani ditaruhnya. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, ia melukis lebih lama daripada waktu yang dihabiskannya memikirkan siapa yang mungkin menilai hasilnya.