Sarapan berlanjut dengan percakapan yang jauh lebih sedikit. Sesekali Bayu menggeser bungkus agar kuah tidak tumpah, sementara Kiana memisahkan sambal yang belum ingin dihabiskannya. Keheningan itu masih canggung, tetapi tidak lagi terasa menunggu seseorang mengubah jawaban.
Di tengah sarapan, Bayu meletakkan sendok.
'Ada satu hal yang mungkin Kakak mau tahu. Soal Ibu.'
Kiana mengangkat pandangan. 'Boleh cerita. Tapi kalau terlalu pribadi, kamu tidak harus menjelaskannya sebagai permintaan maaf.'
'Bukan. Aku cuma ingin bilang aku sudah bicara dengannya.'
'Kapan?'
'Malam setelah kita pulang dari Bukit Selong. Aku sampai rumah, lihat Ibu masih menunggu, terus aku tidak sanggup pura-pura biasa.'
Kiana terdiam. Sementara ia menangis di kamar lima, rupanya Bayu juga sedang membuka pintu percakapan yang selama bertahun-tahun dihindarinya. Ia tidak mengetahui hal itu ketika bangun keesokan paginya, dan pemuda tersebut tidak memakainya untuk meminta dirinya segera membalas pesan.
'Aku bilang tahu soal adopsi sejak SMP,' lanjut Bayu. 'Ibu kaget. Yang pertama ditanyakan malah suratnya aku simpan di mana.'
'Kamu masih menyimpannya?'
'Aku tidak bawa. Waktu itu kusimpan lagi di tempat semula. Ibu yang ambil malam itu, lalu kami baca sama-sama.'
Bayu melihat gelasnya beberapa saat. Ia tidak tertawa ketika menceritakan air mata ibunya. Ada sesuatu yang lebih tenang dalam caranya mengingat, meskipun beberapa kali suaranya masih tersendat.
'Ibu takut aku mengira selama ini dia bohong karena tidak sayang. Aku bilang justru aku takut kalau bertanya, dia sedih karena merasa tidak cukup buat aku.'
'Jadi kalian sama-sama menunggu.'
'Iya. Lama sekali.'
Kiana mengangguk pelan. Ia tidak menawarkan kesimpulan bahwa semua ketakutan Bayu sekarang selesai. Satu percakapan dapat membuka sesuatu yang penting, tetapi tidak mengubah masa kecil atau membuat rasa takut kehilangan berhenti hanya karena diberi nama.
'Besok paginya, Ibu mengeluarkan foto yang selama ini belum dipajang,' kata Bayu. Ia meraih ponsel, lalu menunggu. 'Boleh kutunjukkan?'
Kiana mengiyakan.
Di layar terlihat foto lama yang dipotret kembali dengan ponsel. Seorang perempuan lebih muda menggendong anak kecil yang wajahnya sedikit berpaling. Tepi kertas sudah tidak terlalu rata, tetapi kedua tangan yang menopang tubuh anak tersebut tampak mantap.
'Umur dua tahun. Waktu pertama dibawa pulang,' jelas Bayu. 'Ibu bilang aku tidak mau lepas dari ujung bajunya.'
Kiana melihat wajah anak itu, kemudian wajah Bayu yang duduk di seberangnya. Bentuk senyum tidak dapat dibandingkan karena anak kecil di foto tidak tersenyum. Namun sorot matanya membuat ia mengenali pemuda yang sering bicara terlalu cepat ketika gugup.
'Ibu memasangnya di tempat yang kemarin kosong,' lanjutnya. 'Bukan foto bayi. Tapi sekarang tidak disimpan karena takut aku bertanya.'
Di sebelah foto lama itu ada gambar yang diambil pekan ini. Bayu dan ibunya berdiri di salon, sama-sama mencoba menahan tawa karena hasil percobaan pertama terpotong di bagian kepala. Bayu menjelaskan mereka memakai penyangga seadanya dan baru mendapat gambar utuh sesudah beberapa kali salah. Kiana ikut tersenyum ketika melihat tangan ibunya merangkul bahu putra yang sekarang jauh lebih tinggi. Ia tidak perlu mengetahui seluruh percakapan mereka untuk melihat ada kelegaan pada kedua wajah itu.
Kiana menyerahkan ponsel kembali. 'Aku senang kalian bisa bicara.'
'Aku juga. Tapi aku masih harus belajar berhenti menjadikan ketakutanku alasan buat menolong orang tanpa tahu apa yang dia mau.'
Kiana menunduk pada makanannya. Ada bagian dari kalimat itu yang masih menyentuh tempat perih. Ia dapat menyukai Bayu sebagai orang baik, bersyukur ibunya memeluknya, dan tetap sedih karena hubungan yang diharapkan tidak terjadi. Tidak ada satu perasaan yang harus menghapus lainnya.
'Pelan-pelan saja,' katanya.
Bayu mengangguk. Mereka menghabiskan sarapan tanpa membuat janji untuk kembali melihat bintang berdua. Ketika waktunya berangkat mendekat, Bayu merapikan bungkus kosong dan menanyakan tempat membuangnya kepada Hannah.
Ia berpamitan kepada Kiana tanpa menawarkan tumpangan yang sudah diketahui belum ingin diterimanya. Kiana menjawab sampai bertemu di klinik. Itu kalimat sederhana, tetapi dapat diucapkannya dengan lebih wajar daripada beberapa hari sebelumnya.
***
Kiana masih punya waktu sebelum gilirannya dimulai. Ia naik membawa botol minum, lalu berhenti di depan kanvas yang kembali ditutupnya beberapa hari lalu. Tangannya sempat mengambang di atas lipatan sebelum ia menariknya perlahan.
Langitnya masih sama. Bagian puncak yang sudah selesai tidak berubah hanya karena ia beberapa hari tidak ingin melihatnya. Lereng di bawahnya tetap kosong, menunggu keputusan yang tidak dapat dibuat orang lain untuknya.
Ia mengambil satu kuas dan duduk. Pada palet kecil ia mencampurkan warna, mencoba di kertas terpisah sebelum menyentuh kanvas. Percobaan pertama terlalu gelap. Ia menambahkan sedikit warna lain, menatapnya, kemudian memutuskan memulai dengan bidang yang lebih kecil.
Hanya beberapa garis tanah dan tanaman. Bukan seluruh lereng. Ia memilih warna yang benar-benar dilihatnya dari halaman, bukan yang diminta ingatannya.
Saat menyapukan warna, ia sempat teringat Bayu berdiri di Pergasingan. Dada Kiana terasa ngilu, cukup untuk membuat kuasnya berhenti. Ia tidak menutup kanvas lagi. Ia meletakkan kuas, minum, lalu kembali bekerja setelah tangannya lebih mantap.
Ketukan ringan terdengar dari sisi tangga. Hannah membawa kain lap yang diminta seorang tamu, lalu berhenti melihat Kiana sedang melukis.
'Sudah dilanjutkan?'
'Sedikit.'
Hannah mengangguk. Ia tidak memuji dengan kata sembuh atau mengatakan sebaiknya semua kesedihan dilupakan. Ia hanya menanyakan apakah jendela perlu dibuka karena bau cat mulai terasa di serambi. Kiana membuka sedikit daun jendela yang dekat, kemudian berterima kasih.
Ketika alarm persiapan kerja berbunyi, ia berhenti. Warna di lereng belum seluruhnya kering, jadi kanvas dibiarkannya terbuka di tempat yang tidak menghalangi jalan. Kuas dicuci, pakaian diganti, dan tas diperiksa sebelum ia turun.
Dari halaman ia menoleh sekali. Lukisan itu belum selesai, tetapi ada bagian yang pagi tadi masih kosong dan kini sudah diisinya sendiri. Kiana mengangkat wajah menuju jalan, membawa ngilu yang belum hilang tanpa harus menjadikannya satu-satunya hal yang akan ia lakukan hari itu.