Hannah menunggu Kiana turun pada Sabtu pagi sebelum menunjukkan pesan Bayu. Pemuda itu menanyakan kabar setelah mendengar ada tamu membuat keributan di kafe, tetapi Hannah belum menjelaskan siapa atau apa yang terjadi.
'Boleh aku bilang kamu sekarang baik-baik saja?' tanyanya.
Kiana melihat nama di layar, lalu mengangguk. 'Boleh. Kalau dia mau bicara, aku bisa sebentar sebelum kami masuk kerja. Di sini saja.'
Hannah mengetik jawaban sesuai yang diminta. Ia tidak menambahkan bahwa Kiana sudah siap memaafkan, juga tidak menyebut pelukan di halaman sebagai kabar yang perlu diteruskan.
Bayu datang membawa dua bungkus sarapan. Ia berhenti di depan pintu, meminta izin masuk kepada Hannah meski sudah tahu Kiana bersedia ditemui. Wajahnya tampak kurang tidur, tetapi rambut dan pakaiannya rapi seperti orang yang akan bekerja.
Kiana menunggu di meja kafe yang berbeda dari tempat Gala duduk kemarin. Ia memilih kursi menghadap halaman. Ketika Bayu mendekat, ia menunjuk kursi di seberang.
'Sebentar saja, ya. Kita masih harus berangkat.'
'Iya, Kak.'
Bayu menaruh makanan tanpa langsung membukanya. Ia menatap tangan Kiana yang tidak dipakai memegang gelas, lalu segera mengangkat pandangan ketika sadar sedang memperhatikan terlalu lama.
'Kak Hannah bilang ada tamu membuat masalah. Kakak butuh bantuan?'
'Gala datang. Dia sudah pergi. Hannah dan Gian membantu.'
Bayu mengatupkan rahang. 'Dia ke sini?'
'Aku belum ingin cerita panjang soal itu.'
'Oke. Maaf.'
Kiana mengangguk. Bayu tidak memaksa meneruskan pertanyaan, meskipun kegelisahan terlihat pada tangannya yang meremas sisi bungkus makanan.
'Kamu boleh bilang apa yang ingin kamu bicarakan,' kata Kiana.
Bayu menarik napas. 'Aku mau minta maaf. Bukan supaya Kakak segera merasa baik lalu semuanya kembali seperti sebelum Sabtu. Aku tahu tidak sesederhana itu.'
Kiana menunggu.
'Aku membuat Kakak berharap. Aku terus mengajak keluar dan bertingkah seolah aku sudah tahu mau ke mana, padahal ketika ditanya aku baru sadar belum mau menjalankan hubungan itu.' Ia menunduk, kemudian memaksa dirinya kembali menatap Kiana. 'Aku seharusnya tidak menunggu Kakak yang membawa percakapan itu.'
'Kamu juga mungkin baru tahu ketika ditanya.'
'Mungkin. Tapi itu tidak membuat dampaknya hilang.'
Kiana mengusap permukaan gelas dengan ibu jari. Ia telah mengulang banyak bagian percakapan itu selama seminggu, mencari kalimat mana yang seharusnya dikenali sebagai peringatan. Mendengar Bayu mengakui ketidakjelasannya memberi ruang bagi Kiana untuk berhenti mencari semua kesalahan di dalam dirinya sendiri.
'Aku tidak minta kamu membalas perasaanku,' katanya. 'Tapi waktu kamu bilang kasihan, aku seperti tidak tahu harus menaruh semua kenangan yang lain.'
Bayu mengangguk. 'Aku memilih kata yang membuat semuanya tercampur. Aku tidak tertarik karena berita itu. Aku tertarik sebelum tahu. Sesudah baca, aku ingin menolong, dan aku terlalu senang ketika merasa berhasil membuat Kakak lebih ringan.'
'Aku bukan selalu perlu dibuat ringan.'
'Aku tahu sekarang. Kadang Kakak cuma ingin didengar. Kadang mau sendiri.'
'Kadang aku juga belum tahu maunya apa.'
Bayu tersenyum sedih. 'Aku juga.'
Mereka diam. Dari arah dapur terdengar piring diletakkan, kemudian bunyi air. Tidak ada orang mendekat menanyakan apakah mereka sudah berdamai. Kiana bersyukur Hannah memberi mereka ruang tanpa menjadikan pertemuan itu acara yang harus berakhir manis.
'Aku baca pesanmu setelah Minggu,' katanya. 'Aku sengaja tidak membalas yang pribadi. Satu balasan waktu itu sudah menjelaskan aku perlu jarak.'
'Iya. Aku seharusnya tidak menulis lagi hanya karena aku gelisah menunggu.'
'Kalau nanti aku bilang belum mau bicara, tolong percaya. Bukan berarti kamu perlu mencari cara yang lebih lucu untuk membuatku menjawab.'
Bayu mengangguk dengan sungguh-sungguh. Ia melepaskan bungkus makanan dari tangannya yang mulai kusut, merapikan ujungnya di meja, lalu berhenti karena Kiana sedang menatap gerakan tersebut.
'Maaf. Tanganku mencari kerjaan.'
Kiana hampir tertawa. Kali ini ia membiarkan tawa kecil itu keluar tanpa merasa sedang memberi janji bahwa semua rasa sakit sudah hilang.
'Kamu membawa sarapan untuk dimakan atau dipijat?'
Bayu melihat bungkus di tangannya, lalu tertawa pendek. 'Dimakan. Tapi kalau Kakak tidak mau, aku bawa lagi.'
'Aku mau. Kita masih punya waktu sedikit.'
Ia menerima satu bungkus dan membukanya sendiri. Makanan yang hangat membantu percakapan bergerak ke tempat yang tidak terus menekan dada. Namun Kiana tidak ingin menggunakan jeda tersebut untuk menghindari kalimat terakhir yang masih perlu diucapkan.
'Untuk sementara, kita berteman biasa dulu. Di klinik aku tetap bantu sesuai tugas, tapi jangan jadikan setiap percakapan kerja alasan melanjutkan urusan ini.'
'Boleh, Kak.'
'Dan aku belum ingin diperlakukan seperti kakak perempuan untuk membuat penolakanmu lebih mudah diterima.'
Bayu berhenti membuka sendok. 'Iya. Aku tidak akan memutuskan sebutan itu buat Kakak.'
Kiana menatapnya, lalu mengangguk. Ia tidak menyentil dahi pemuda itu atau langsung memeluknya. Pagi ini cukup dengan duduk dan menerima bahwa orang yang disukainya dapat tulus sekaligus membuat kesalahan yang menyakitkan.
Ujung bungkus makanan Kiana terlipat ke arah lauk. Bayu sempat mengulurkan tangan untuk membantunya, lalu berhenti dan bertanya lebih dahulu. Kiana menggeleng, membetulkan sendiri bagian itu, kemudian meminta sendok yang masih berada di dekat pemuda tersebut. Bayu menyerahkannya tanpa wajah tersinggung. Hal kecil itu membuat Kiana lebih mudah bernapas. Ia dapat menolak satu bantuan dan menerima bantuan lain, tanpa harus menjelaskan bahwa keduanya bukan ukuran seberapa banyak ia memaafkan. Ia mengambil suapan pertama sementara Bayu membuka makanannya sendiri.
Bayu mengambil gelas yang disediakan Hannah, menuangkan air setelah bertanya apakah Kiana mau ditambah. Kali ini tawaran itu tidak mengandung permintaan agar ia tampak lebih bahagia. Kiana mengiyakan dan menyaksikan air mengisi gelas tanpa harus memaksa dirinya tersenyum lebar.
Di luar, cahaya pagi mulai menyentuh halaman. Mereka masih duduk berhadapan, tetapi Kiana tidak lagi menunggu jawaban yang berbeda dari Sabtu lalu. Ia belum sembuh. Ia hanya merasa ada satu pertanyaan yang akhirnya dapat diletakkan tanpa terus dibawa ke setiap hari berikutnya.