Gian berhenti di ujung meja, tidak menutup jalan yang sudah dibuka Hannah. Ia melihat tangan Gala masih mencengkeram pergelangan Kiana, lalu menatap lelaki itu tanpa mengalihkan perhatian kepada suara-suara lain di kafe.
'Kamu mendengar dia meminta dilepaskan,' katanya.
Gala menegakkan tubuh. 'Kamu siapa?'
'Pemilik tempat ini. Hannah menghubungiku karena kamu menahan tamu kami.'
'Ini urusan pribadi. Kami sudah hampir menikah.'
'Mantan tunangan,' kata Kiana. 'Dan aku sudah bilang tidak mau bicara lagi.'
Gian tidak menjawab klaim hubungan itu dengan menantang siapa yang lebih berhak atas Kiana. Ia menunjuk tangan yang masih tertahan.
'Lepaskan. Setelah itu tinggalkan tempat ini.'
Gala tertawa pendek, tetapi tidak ada yang ikut tertawa. Di belakangnya, Hannah memegang ponsel dengan layar menyala. Ia mengatakan akan menghubungi petugas bila Gala tetap menahan Kiana atau mengancam orang lain.
'Kalian mau membesar-besarkan?' tanya Gala.
'Kamu bisa mengakhirinya dengan melepaskan tangan saya,' jawab Kiana.
Lelaki itu menatapnya. Ada kemarahan yang selama ini selalu dibuatnya tampak sebagai kekecewaan. Kiana tidak meminta maaf untuk meredakannya. Ia berdiri dengan kedua kaki menapak, menunggu ruang untuk menjauh.
Akhirnya genggaman itu terbuka.
Kiana langsung menarik tangannya ke dekat tubuh. Gian bergeser agar ia dapat melewati sisi meja tanpa berdesakan dengan Gala. Hannah mengambil kantong makanan yang hampir jatuh dan meletakkannya kembali di tempat aman.
'Kalau kamu keluar sekarang, jangan harap aku datang lagi,' kata Gala.
'Aku tidak meminta kamu datang.'
Gala meraih tasnya dari kursi. Ia sempat hendak mendekati Kiana lagi, tetapi Gian bergerak berdiri di antara jalan menuju perempuan itu dan pintu keluar, memberi pilihan yang jelas tanpa menyentuhnya.
'Pintunya di sana.'
Hannah membuka jalan sampai ke halaman. Gala melirik orang-orang yang memandangnya, lalu berjalan cepat menuju gerbang. Suaranya masih terdengar mengomel ketika menelepon seseorang, menanyakan kendaraan yang menunggunya. Beberapa saat kemudian mesin mobil dinyalakan dan menjauh.
Kiana tetap berdiri di dekat meja. Ia mendengar bunyinya menghilang, tetapi tubuhnya belum dapat percaya bahwa tidak ada tangan yang akan kembali meraihnya.
Hannah masuk lebih dahulu setelah memastikan tamu tersebut benar-benar pergi. Ia tidak mengunci seluruh penghuni kafe di dalam. Ia hanya memberi tahu petugas yang sedang berada dekat penerima tamu agar tidak mengarahkan Gala mencari kamar Kiana bila ia kembali.
Gian menoleh kepada Kiana. 'Mau duduk?'
Kiana mengangguk, lalu menyadari lututnya terasa lemas. Ia duduk di kursi yang ditarik Hannah. Tasnya diletakkan di meja, sedangkan tangan yang tadi ditahan tetap berada dekat perut.
'Saya ambil air baru,' kata Hannah.
Kiana hendak menjawab, tetapi suaranya tidak keluar. Ia hanya mengangguk lagi. Gian berjongkok pada jarak yang membuat wajah mereka sejajar, tidak meraih tangan yang sedang dijaganya.
'Pergelangannya sakit?'
Kiana melihat warna merah pada kulitnya. 'Iya.'
'Mau dibantu periksa? Atau kamu perlu waktu dulu?'
Ia menatap Gian, dan pertanyaan sederhana itu membuat matanya mendadak panas. Selama percakapan dengan Gala ia terus diminta mendengar, memahami, dan mengurangi kemarahannya sendiri. Kini seseorang menunggu jawabannya tanpa menyentuh atau menentukan apa yang harus ia lakukan.
'Aku perlu duduk dulu.'
'Oke.'
Air datang bersama beberapa lembar tisu. Hannah meletakkannya dalam jangkauan, lalu menarik kursi lain agar orang yang masih melihat dapat kembali pada meja mereka. Ia tidak mengumumkan penjelasan tentang mantan tunangan atau berita Kiana. Kepada tamu yang bertanya apakah membutuhkan bantuan, ia mengucapkan terima kasih dan mengatakan mereka sedang menanganinya.
Kiana mengangkat gelas dengan tangan yang lain. Air menetes sedikit karena jemarinya bergetar. Ia meletakkan kembali gelas sebelum memaksa diri menghabiskannya.
'Aku kesal karena masih bisa gemetar begini,' katanya.
'Kamu baru ditahan meski sudah minta dilepaskan,' jawab Gian. 'Tidak perlu membuktikan apa-apa sekarang.'
Kiana memejamkan mata. Satu air mata jatuh, kemudian yang lain menyusul. Ia mengusapnya terlalu cepat sampai tisu menempel di pipi.
'Aku sudah bilang tidak berkali-kali.'
'Aku dengar.'
'Aku tidak mau kembali sama dia.'
'Itu jawabanmu. Dia yang tidak mau menerima.'
Kiana menarik napas yang bergetar. Gian tetap di dekatnya, tidak menyuruh berhenti menangis. Ketika perempuan itu mengangkat wajah seolah ingin mencari sesuatu untuk dipegang, ia mengulurkan tangan dengan telapak terbuka.
'Mau?'
Kiana menerima uluran itu menggunakan tangan yang tidak sakit. Ia memegangnya sebentar, lalu berdiri setelah tubuhnya lebih mantap. Air mata justru mengalir lebih deras ketika ia merasa cukup aman untuk tidak menahannya.
'Boleh aku peluk?' tanyanya hampir tanpa suara.
Gian mengangguk dan membuka lengannya. Kiana mendekat sendiri, menempelkan kening di dadanya tanpa membiarkan pergelangan yang sakit tertekan. Gian merangkul punggungnya dengan hati-hati.
Mereka tidak berdiri lama di tengah jalan kafe. Setelah Kiana sanggup menarik napas, Gian menanyakan apakah ia ingin berpindah ke tempat yang lebih sepi. Ia memilih bangku di sisi halaman yang masih terlihat dari kafe, dan Hannah membawa air mereka ke sana.
Makanan yang dibeli Kiana sudah tidak hangat. Hannah menawarkannya untuk dihangatkan lagi nanti. Kiana mengangguk, baru teringat kantong yang sempat ditahannya sepanjang percakapan.
'Makasih, Kak.'
Hannah tersenyum kecil. Ada rasa sakit yang belum selesai ketika ia melihat kedekatan mereka, tetapi kali ini ia tidak membawanya kepada Kiana. Ia kembali ke kafe dan membereskan meja yang tadi dipakai Gala, menyingkirkan gelas sebelum tamu baru duduk di sana.
Di halaman, Kiana masih memegang tisu. Gian duduk di ujung bangku yang lain, membiarkan jarak setelah pelukan berakhir. Ketika Kiana akhirnya menoleh dan meminta ia tetap di sana sebentar, lelaki itu mengangguk.
Kiana membuka tas untuk memastikan ponselnya masih ada. Ia menyimpan pesan kedatangan Gala yang baru dilihat setelah kejadian, lalu mengatakan kepada Gian bahwa bila lelaki itu datang lagi, ia ingin Hannah langsung memberi tahu dirinya dan meminta bantuan. Ia tidak ingin ada orang mengatur pertemuan damai tanpa bertanya lebih dahulu. Gian menyetujui.
Kali ini tidak ada pertanyaan mengenai kapan ia akan kembali ceria. Mereka hanya duduk sampai getaran di tangan Kiana perlahan berkurang dan ia dapat mengangkat gelasnya sendiri.