'Aku menyesal, Kak.'
Kiana tetap berdiri dengan tas di bahu. Gala mengucapkan kalimat itu dengan suara yang lebih rendah daripada ketika mereka membahas uang, seolah kelembutan dapat membuat jarak di antara mereka segera hilang.
'Aku terlalu cepat mengambil keputusan waktu berita itu muncul,' lanjutnya. 'Aku emosi. Semua orang tanya macam-macam, keluargaku juga panik. Aku tidak bisa berpikir jernih.'
'Kamu bisa mendengarkan penjelasanku waktu itu.'
'Aku tahu. Makanya sekarang aku ke sini.'
Kiana melihat lelaki itu mengambil satu langkah mendekat, lalu ia sendiri bergeser ke sisi meja. Ia tidak ingin kembali duduk dan memberi Gala kesempatan menganggap percakapan tersebut akan berlangsung sampai ia puas.
'Terus Karin?' tanyanya.
Perubahan di wajah Gala cukup cepat untuk terlihat. Ia terdiam, kemudian menggeleng sambil mengangkat tangan seolah sedang menolak tuduhan yang baru didengarnya pertama kali.
'Dia bukan siapa-siapa sekarang.'
'Sekarang?'
'Kami cuma sempat dekat. Sudah selesai. Kakak jangan terus memakai itu buat marah sama aku.'
Kiana merasa perutnya mengeras. 'Kamu datang meminta aku melupakan sesuatu yang bahkan belum kamu jelaskan dengan jujur.'
'Kalau aku bilang salah, Kakak mau dengar?'
'Aku sedang dengar. Tapi bukan berarti aku harus kembali.'
Gala menatap tas yang masih dipegangnya, lalu menunjuk kursi sekali lagi. 'Setidaknya duduk dulu. Orang melihat kita seperti sedang ribut.'
'Kita tidak akan ribut kalau kamu menerima jawabanku.'
Hannah yang berada di belakang kasir menoleh. Kiana melihatnya dari sudut mata, lalu sedikit menggeleng untuk menunjukkan ia masih ingin menyelesaikan penolakan itu sendiri. Perempuan tersebut tidak menjauh, hanya melanjutkan menyusun gelas dengan perhatian yang jelas terbagi.
Gala menarik napas. 'Aku tahu kamu kecewa. Tapi lima tahun tidak bisa dibuang begitu saja.'
'Yang melepaskan cincin dan meninggalkanku waktu itu kamu.'
'Aku bilang aku salah.'
Kiana menatapnya. Permintaan maaf tersebut terdengar semakin menyerupai benda yang telah dibayarkan dan kini ditunggu imbalannya. Ia sudah beberapa kali menjawab, tetapi Gala masih berbicara seolah mereka baru belum menemukan susunan kata yang membuatnya setuju.
'Aku tidak ingin kembali menjadi pasanganmu,' katanya, memperjelas setiap kata. 'Kamu boleh menyesal. Aku tetap boleh tidak mau.'
Gala mengusap rahangnya. 'Terus bayi yang kamu singgung waktu di lift itu? Kamu percaya omongan Karin begitu saja?'
Kiana terdiam sebentar, bukan karena mempercayainya, melainkan karena ia tidak menyangka lelaki itu akan menggunakan kebohongan lain untuk menutup yang sebelumnya.
'Apa maksudmu?'
'Bayinya bukan urusanku. Dia bisa mengaku apa saja. Dia cuma ingin dapat perhatian.'
Kiana teringat wajah Karin ketika berdiri di depan apartemennya, senyum yang seperti penggemar, lalu amplop yang mengubah seluruh sisa harinya. Ia teringat foto yang dilihatnya sendiri. Foto itu tidak dapat menjelaskan seluruh kejadian hanya dari tanggal cetaknya, tetapi cukup membuat ia tahu Gala tidak sedang memberi kisah yang utuh.
'Aku tidak akan menyelesaikan urusanmu dengan Karin di meja ini,' katanya. 'Dan aku tidak perlu menunggu sampai kamu mau mengaku semua hal sebelum boleh pergi.'
Gala menggeleng dengan gerakan semakin cepat. 'Kamu keras sekali sekarang.'
'Mungkin karena sekarang kamu tidak suka jawabannya.'
Kiana meraih kantong makanan yang tadi diletakkan di meja kosong. Tindakannya membuat Gala bergerak lebih dekat. Ia menahan lengannya, jari-jari menutup pada pergelangan sebelum perempuan itu sempat menghindar sepenuhnya.
Kiana langsung berhenti.
'Lepas.'
'Kak, dengar dulu.'
'Aku sudah mendengarkan. Lepaskan tanganku.'
Gala tidak melepaskan. Ia mencondongkan tubuh sambil menurunkan suara, tetapi genggamannya justru membuat Kiana meringis.
'Kita bisa mulai lagi. Nikahnya nanti saja, setelah programmu selesai. Aku akan bicara sama keluarga. Aku bisa memperbaiki semuanya.'
'Tidak.'
'Kamu belum pikir baik-baik.'
Kiana menatap tangan yang menahannya, lalu wajah lelaki itu. Ia mencoba menarik lengannya tanpa menghantam apa pun di meja. Kantong makanan bergeser dan nyaris jatuh. Hannah sudah keluar dari belakang kasir.
'Mas, tolong lepas,' katanya.
'Ini urusan kami,' sahut Gala tanpa menoleh.
'Ini tempat kami,' jawab Hannah. Ia berhenti pada jarak yang tidak membuat Kiana terjepit di antara dua orang, lalu meraih ponselnya.
Kiana mendengar Hannah menyebut nama Gian ketika panggilan tersambung. Ia tidak mengikuti seluruh kalimatnya, hanya tahu perempuan itu sedang meminta orang datang ke kafe. Pengetahuan bahwa seseorang melihat kejadian ini membantunya menarik napas, tetapi rasa sakit pada pergelangan belum berkurang.
'Kamu sedang menyakitiku,' katanya kepada Gala.
Lelaki itu menatap tangannya sendiri sejenak, kemudian kembali menatap Kiana. 'Jangan bikin seperti aku orang jahat. Aku cuma tidak mau kamu pergi sebelum kita selesai.'
'Aku sudah selesai.'
Wajah Gala memerah. 'Siapa lagi yang mau mengerti hidupmu seperti aku, Kak? Kamu pikir orang di sini tahu semuanya? Kalau mereka tahu ayahmu di rumah sakit jiwa, tahu beritamu, mereka akan tetap memandangmu sama?'
Seorang tamu di meja dekat jendela sudah berhenti berbicara. Ia bangkit dan menjauhkan anak kecil yang sedang berdiri di dekat kursi, memberi ruang di jalur keluar. Tidak ada yang tertawa atau menganggap genggaman itu pertengkaran pasangan yang lucu. Kiana melihat perubahan tersebut, dan untuk sesaat rasa malu karena diperhatikan bergeser menjadi kelegaan. Ia tidak perlu berpura-pura tenang agar orang lain dapat melanjutkan minum mereka.
Ucapan Gala mengenai ayahnya membuat Kiana merasa seluruh kafe mengecil. Ia ingin menamparnya, ingin menangis, ingin mengatakan nama ayahnya tidak boleh dipakai sebagai senjata. Namun yang keluar justru suara yang lebih tenang daripada yang diperkirakannya.
'Aku tidak akan kembali karena takut tidak ada orang lain yang mau.'
Gala membuka mulut, tetapi Kiana belum selesai.
'Dan aku tidak akan menerima kamu menahan tanganku supaya bisa bicara lebih lama.'
Dari arah pintu samping terdengar langkah cepat. Hannah menyingkirkan kursi yang menghalangi jalan, sementara Kiana masih berhadapan dengan Gala yang belum juga membuka genggamannya.
'Lepaskan tangannya.'
Suara Gian membuat Gala menoleh. Kiana tidak menggunakan kesempatan itu untuk berbicara lagi. Ia hanya mengulang permintaannya, kali ini dengan orang lain berdiri cukup dekat untuk mendengar dengan jelas.
'Lepas, Gala. Sekarang.'