Kiana menyelesaikan catatan terakhir sebelum meninggalkan klinik pada Jumat sore. Ada pekerjaan yang belum selesai, tetapi sudah diteruskan kepada petugas yang mengambil giliran berikutnya. Ia memeriksa tas, menyapa Ali, kemudian keluar dengan keinginan sederhana untuk mandi dan beristirahat.
Di perjalanan pulang, ia singgah membeli makanan. Ia tidak ingin kembali lupa makan hanya karena terlalu lama duduk memikirkan hal yang tidak dapat diubah. Kantong kecil itu masih hangat ketika ia melewati gerbang paviliun.
Lalu ia melihat lelaki yang duduk di meja paling depan kafe.
Kemeja biru. Jam tangan yang dikenalnya. Wajah yang pernah begitu mudah membuatnya memercayai setiap janji.
Gala.
Kiana berhenti di dekat pintu. Hannah yang sedang berada di belakang meja kasir menoleh mengikuti arah pandangannya. Senyum yang semula hendak diberikan kepada Kiana menghilang ketika melihat wajah perempuan itu.
Lelaki tersebut berdiri.
'Kak. Akhirnya ketemu.'
'Kamu sedang apa di sini?'
'Aku mau bicara. Duduk dulu, ya?'
Kiana tidak bergerak mendekati kursi. Ia menaruh kantong makanan di meja kosong di sisinya agar tangan tidak perlu terus memegang sesuatu yang terasa mendadak terlalu panas.
Hannah mendekat beberapa langkah. 'Kamu kenal?'
'Gala. Mantan tunanganku,' jawab Kiana tanpa mengalihkan mata.
Gala tersenyum canggung kepada Hannah. 'Saya sudah bilang mau ketemu Dokter Kiana.'
'Tapi belum bilang siapa,' sahut Hannah. Ia memandang Kiana, menunggu apakah tamu itu ingin ditemuinya atau justru diminta pergi.
Kiana menarik napas. 'Bicara di sini saja. Sebentar.'
Hannah mengangguk dan kembali ke meja kasir, cukup dekat untuk melihat, tetapi tidak berdiri menonton percakapan mereka. Kiana memilih kursi di sisi yang jalan keluarnya tidak tertutup Gala. Tas tetap berada di pangkuannya.
Gala melihat gerakan itu, kemudian duduk lagi. 'Kakak kelihatan capek.'
'Aku memang habis kerja. Jadi langsung saja.'
Ia tampak hendak tersenyum seperti dulu ketika meminta sesuatu yang biasanya akan diterima Kiana. Namun senyum itu tidak mendapatkan balasan.
'Soal uang WO,' katanya akhirnya. 'Mereka sudah transfer pengembaliannya, kan? Tujuh puluh persen.'
Kiana memandangnya lama. 'Kamu datang ke Lombok untuk menanyakan itu?'
'Aku juga mau ketemu Kakak. Tapi aku butuh uangnya. Ada cicilan apartemen dan kebutuhan lain. Kakak tahu sendiri jadi residen belum bisa banyak menghasilkan.'
'Jadi menurutmu uang pengembalian itu milikmu?'
Gala mengangguk, seperti merasa percakapan mereka akhirnya menuju hal yang mudah diselesaikan. Ia menyebut pernyataannya dulu bahwa seluruh biaya yang dibayarkan Kiana akan dianggap sebagai pinjaman dan diganti setelah ia menjadi dokter spesialis.
Kiana membuka ponsel. Bukan untuk melakukan transfer seperti yang mungkin diharapkan Gala, melainkan mencari catatan pembayaran yang masih disimpannya. Ia menaruh layar di atas meja, cukup dekat untuk dilihat tanpa menyerahkan perangkat tersebut.
'Ini pembayaran ke WO dari rekeningku,' katanya. 'Dan ini pengembalian yang dikonfirmasi Ci sesudah pembatalan.'
Ia membuka bukti penerimaan yang sesuai, mencocokkan keterangan dengan pesan pihak WO. Dana yang dulu dijanjikan itu benar-benar sudah diterimanya, dalam persentase yang disepakati. Ia tidak menyebut jumlah keras-keras di kafe.
Gala memiringkan tubuh untuk melihat. 'Iya. Itu yang aku maksud.'
'Kamu pernah mengirim dana untuk pembayaran ini?'
'Aku sudah bilang akan mengganti.'
'Itu pertanyaanku, Gala. Pernah ada uangmu yang masuk untuk membayar ini?'
Lelaki itu mengalihkan mata sebentar. 'Belum. Tapi rencananya begitu.'
Kiana mematikan layar dan memasukkan ponselnya kembali. Suara kursi dari meja lain membuat ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan volume lebih rendah.
'Kamu belum memberikan dana. Kamu juga belum mengganti biaya yang kubayar. Pengembalian itu dikirim kepada orang yang membayar, sesuai kontraknya. Janjimu membayar kelak tidak membuat tabunganku tiba-tiba menjadi uangmu.'
Gala mengusap wajah. 'Kakak selalu begini kalau lagi marah. Semuanya dihitung.'
'Aku sedang menjelaskan uang yang kamu minta.'
'Aku tidak akan pakai semuanya.'
'Aku tidak sedang menawarkan sebagian.'
Kalimat itu membuat wajah Gala berubah. Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap Kiana dengan cara yang dahulu selalu membuat perempuan itu merasa terlalu keras karena menanyakan hal sederhana.
'Kak, aku datang jauh. Setidaknya kita bisa bicara baik-baik.'
'Kita sedang bicara. Aku menjawab tidak.'
Hannah melintas membawa gelas milik tamu lain. Ia berhenti sebentar untuk menanyakan apakah Kiana membutuhkan minum. Kiana meminta air putih, lalu mengucapkan terima kasih ketika gelas disiapkan. Jeda itu memberinya kesempatan melepaskan tangan yang sejak tadi saling mencengkeram di bawah meja.
Gala menunggu sampai Hannah menjauh. 'Aku cuma pikir, setelah lima tahun, Kakak masih bisa peduli sama aku.'
Kiana memandangi permukaan air. Lima tahun dahulu menjadi alasan untuk memaafkan banyak hal kecil yang terus menumpuk. Sekarang lelaki itu menggunakannya lagi untuk meminta sesuatu yang tidak pernah menjadi haknya.
'Aku pernah peduli,' jawabnya. 'Itu tidak berarti aku harus membayar kebutuhanmu setelah kita berpisah.'
'Seperti itu kamu melihatku?'
'Aku sedang melihat orang yang datang meminta uangku dengan mengatakan itu uangnya.'
Kiana menyadari ibu jarinya menekan sisi ponsel melalui kain tas. Dahulu, sesudah nada kecewa seperti itu, ia sering lebih sibuk mencari jalan untuk membuat Gala tenang daripada memeriksa apa yang dimintanya. Ia hampir mendengar dirinya sendiri menawarkan bantuan lain. Namun sebelum kata-kata itu keluar, ia mengingat pesan yang dulu dikirim sambil menuntut pengembalian masuk ke rekeningnya. Bukan sekali lelaki itu mengabaikan jawabannya. Kiana mengendurkan pegangan pada tas, meletakkan kedua kaki dengan mantap, dan membiarkan penolakan yang sudah diucapkan tetap berlaku.
Gala tidak langsung membalas. Ia menatap sekitar kafe, seolah baru menyadari orang lain dapat mendengar bila suaranya meninggi. Lalu ia memajukan kursi, merendahkan nada.
'Oke. Kita lupakan uang dulu.'
Kiana meraih tasnya dan berdiri. 'Kalau tidak ada hal lain, aku mau istirahat.'
'Tunggu, Kak.' Gala ikut berdiri. 'Aku ke sini bukan cuma karena uang. Ada hal yang dari tadi belum sempat aku bilang.'
Kiana menahan gerakan, tetapi tidak meletakkan tas kembali. Di seberangnya, Gala menarik napas dengan wajah yang sudah dipasangnya menjadi lebih lembut.