Senin pagi, Kiana tiba di klinik sebelum ruang tunggu ramai. Ia memilih berjalan dengan sepatu yang nyaman dan membawa botol minum, bukan melarikan diri lewat jalan yang tidak dikenalnya. Di halaman ia berhenti sebentar untuk mengatur napas sebelum masuk menyapa petugas.
Bayu belum terlihat. Kiana merasa lega, lalu segera menyesali kelegaan tersebut. Ia tidak ingin satu penolakan membuatnya menilai kemampuan kerja pemuda itu dengan cara yang berbeda.
Ketika Dokter Ali datang, ia meminta bicara sebentar.
'Ada hal pribadi yang sedang saya rapikan,' katanya setelah mereka berada di tempat yang cukup tenang. 'Untuk sementara, boleh evaluasi langsung Dokter Bayu lebih banyak ditangani Dokter Ali? Saya tetap menjalankan tugas saya, tapi saya tidak ingin urusan di luar kerja memengaruhi penilaian.'
Ali menatapnya tanpa segera menanyakan kejadian. Ia memeriksa pembagian yang sudah ada, lalu mengangguk.
'Saya memang pendampingnya. Untuk beberapa hari ini kita atur ulang pembahasan kasus. Kalau ada yang mendesak, tetap saling bantu. Pasien jangan ikut menunggu urusan kita selesai.'
'Tentu, Dok.'
Kiana merasa wajahnya panas, tetapi ia lega telah mengatakannya. Ali tidak mengumumkan alasan perubahan kepada orang lain. Ia hanya menyampaikan pengaturan kerja yang dibutuhkan ketika tim berkumpul.
Bayu datang saat Kiana sedang menyiapkan meja. Mata mereka sempat bertemu. Pemuda itu menyapa dengan panggilan dokter dan Kiana menjawab serupa. Tidak ada percakapan pribadi yang disisipkan di depan rekan-rekan.
Pagi berjalan lebih mudah daripada yang ditakutkannya. Ada pekerjaan yang meminta perhatian penuh, dan Kiana dapat memberikannya. Ia memeriksa satu kebutuhan perlengkapan yang jumlahnya tidak cocok, menghubungi petugas pencatatan, lalu menemukan barang yang tersimpan di rak berbeda. Kesalahan kecil itu membuatnya harus membaca ulang angka, mengingatkan bahwa pikirannya belum setenang yang ingin ia tunjukkan.
Saat makan siang, ia duduk di sisi meja yang kosong. Nafsu makannya sedikit, tetapi ia tidak membuang seluruh makanan. Ia menghabiskan bagian yang sanggup dimakan dan menyimpan sisanya dengan benar.
Bu Dyah berhenti ketika melihatnya hendak kembali bekerja terlalu cepat.
'Jam istirahatmu belum habis.'
'Saya mau menyiapkan catatan.'
'Catatannya bisa menunggu beberapa menit.'
Kiana menunduk pada jam, lalu kembali duduk. Bu Dyah tidak menyuruhnya bercerita. Ia hanya menarik kursi untuk berbicara mengenai jadwal kunjungan warga yang akan dibahas pekan berikutnya. Kiana menyimak, bersyukur memiliki hal lain untuk dipikirkan selain wajah Bayu di bawah bintang.
***
Sore hari, ia menemukan pesan Gian menanyakan apakah ingin ikut pulang setelah urusan kantor pria itu selesai. Kiana membaca pesan tersebut, merasakan dorongan untuk menerima, kemudian membalas bahwa hari ini ia ingin berjalan sendiri.
Gian menjawab singkat agar ia berhati-hati. Tidak ada mobil yang sengaja menunggu di depan pintu klinik sampai ia menyerah.
Kiana pulang melalui jalan yang biasa dilewati warga. Di dekat warung ia berhenti membeli buah, lalu duduk sebentar ketika kakinya mulai pegal. Seorang penjual menanyakan apakah ia hendak dibungkuskan makanan juga. Kiana hampir menolak otomatis, kemudian memesan satu porsi kecil untuk malam.
Ia tidak ingin setiap perhatian terasa seperti ancaman terhadap kemampuan mengurus diri sendiri.
Sesampai paviliun, Hannah sedang memindahkan kursi yang tersenggol tamu. Kiana membantu mengangkat sisi yang lain. Mereka tidak membicarakan kunjungan Bayu ataupun pesan Gian. Hannah hanya menanyakan apakah ia ingin air minum, dan Kiana menerimanya.
***
Hari berikutnya, jarak itu tetap dijaga di tempat kerja. Kiana dapat membahas kebutuhan pasien dengan Bayu tanpa melanjutkan pembicaraan tentang malam Sabtu. Kadang setelah percakapan selesai, ia perlu pergi ke ruang belakang dan menarik napas lebih panjang. Bayu tidak mengikutinya.
Selasa sore, Bayu menyerahkan catatan yang diminta Kiana melalui jalur kerja biasa. Ada satu bagian yang perlu diperiksa kembali bersama Ali. Kiana menunjukkannya dengan nada yang dijaganya tetap sama seperti kepada intern lain. Bayu mendengarkan, bertanya mengenai bagian yang belum dipahami, lalu memperbaikinya tanpa menyisipkan permintaan maaf pribadi. Sesudah ia pergi, Kiana menyadari betapa tegang bahunya sejak tadi. Ia menurunkannya perlahan dan melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.
Pada Rabu siang, ia baru sadar roti yang dibawa sejak pagi belum dibuka. Ia makan beberapa gigitan sambil menunggu panggilan tugas berikutnya, lalu merasa kesal karena tubuhnya seolah ikut menolak semua hal yang diperlukan untuk bertahan.
Malamnya ia membuka lukisan sebentar. Setelah melihat bidang lereng yang masih kosong, ia kembali menutupnya. Ia tidak ingin mengisi warna hanya agar dapat mengatakan telah sembuh.
Kamis pagi, Gian menemukannya duduk di serambi sebelum berangkat. Sebungkus roti yang dititipkan Hannah terletak di meja, belum tersentuh. Pria itu membawa botol airnya sendiri dan berhenti di dekat tangga.
'Rotinya tidak cocok?'
Kiana menoleh dengan mata yang langsung menegang. 'Kenapa semua orang harus tahu aku makan apa?'
Gian terdiam.
'Aku tidak butuh diawasi terus,' lanjut Kiana, lebih keras daripada yang direncanakannya. 'Aku bisa urus diri sendiri.'
'Aku tanya soal roti.'
'Ya, aku dengar.'
Kiana meraih bungkus itu, lalu berhenti sebelum gerakannya membuat roti jatuh. Ia melihat Gian tidak mendekat. Pria itu berdiri dengan tangan yang masih memegang botol, wajahnya tidak marah, tetapi juga tidak tersenyum menganggap bentakannya lucu.
'Aku tidak sedang menghitung suapanmu,' katanya. 'Kalau tidak mau ditanya, bilang. Aku akan berhenti.'
Kiana menunduk. Napasnya yang tadi memburu mulai memelan.
'Aku tidak lapar.'
'Oke.'
Gian melangkah turun. Kiana hampir membiarkannya pergi begitu saja, lalu memanggil sebelum ia sampai halaman.
'Maaf. Aku terlalu keras.'
Pria itu menoleh. 'Aku dengar.'
Ia tidak menunggu permintaan maaf yang lebih panjang. Kiana membiarkannya menuju rumah, kemudian duduk kembali. Ia membuka roti dan memakan sebagian, bukan untuk membuktikan Gian benar, melainkan karena ia tahu tubuhnya tetap membutuhkan tenaga meski hatinya sedang menolak banyak hal.
Sebelum berangkat, ia memasukkan sisanya ke tas. Ia belum ingin menerima tumpangan pagi itu. Namun kali ini ia mengatakannya lewat pesan yang jelas, tanpa membuat orang lain harus menebak dari pintu yang dibanting atau sapaan yang tidak dijawab.