Kiana terbangun karena cahaya menembus sisi tirai yang belum ditarik rapat. Ia sempat mengira harus segera berangkat ke klinik. Tangannya sudah mencari jam ketika ingatan mengenai jadwal Minggu kembali, disusul percakapan semalam yang membuat ia menarik selimut lebih tinggi.
Ponselnya berada di dalam tas. Setelah beberapa lama menatap tas itu dari ranjang, ia akhirnya bangkit dan mengambilnya. Ada pesan Bayu yang dikirim setelah ia mengabari tiba. Ada ucapan terima kasih karena sudah memberi kabar, lalu permintaan maaf yang belum sanggup dibacanya sampai selesai.
Pagi ini muncul pesan baru, menanyakan apakah Bayu boleh datang sebelum berangkat mengantar tamu travel.
Kiana duduk dengan punggung menempel di dinding. Ia tidak ingin kedatangan yang akan membuat mereka mengulangi setiap kalimat hanya karena semalam berakhir dengan tangis.
'Aku perlu waktu dan jarak dulu,' ketiknya. 'Tolong jangan datang hari ini. Untuk urusan klinik kita tetap sesuai jadwal.'
Ia membaca ulang sebelum mengirim. Jemarinya tertahan di atas layar, ingin menambahkan maaf supaya permintaannya terdengar lebih lembut. Namun yang dibutuhkannya memang jarak. Ia mengirim pesan itu sebelum kembali mengubahnya menjadi percakapan yang belum sanggup diteruskan.
Balasan Bayu datang beberapa saat kemudian. Ia menyetujui dan mengatakan akan berangkat bekerja sesuai jadwal. Kiana meletakkan ponsel di meja. Untuk sementara ia membisukan percakapan pribadi tersebut, tetapi tetap membiarkan jalur tim klinik dapat masuk.
Ia tidak ingin dihukum oleh bunyi pesan, juga tidak ingin menghilang dari tanggung jawabnya sendiri.
***
Hannah mendengar pintu kamar lima terbuka ketika sedang memeriksa lorong. Kiana muncul membawa gelas kosong dan wajah yang membuat perempuan itu menghentikan langkah.
'Kamu sakit?'
'Tidak. Kurang tidur.'
Hannah tidak langsung mempercayai jawaban itu, tetapi ia juga tidak menempelkan tangan ke kening Kiana tanpa bertanya. Ia menunjuk gelas yang dibawanya.
'Mau air panas?'
'Iya. Mau bikin teh.'
'Aku ambilkan. Kamu boleh tunggu di sini.'
Kiana mengangguk, kemudian menambahkan bahwa ia belum ingin sarapan bersama di bawah. Hannah berhenti sejenak di dekat tangga, lalu bertanya apakah makanan boleh dibawa ke atas.
'Sedikit saja, Kak.'
Hannah menerima jawaban itu tanpa menanyakan Bayu. Ia turun dan kembali dengan teh, air minum, serta porsi kecil makanan yang tidak dipaksakannya harus habis. Kiana membuka pintu cukup lebar untuk menerima nampan, lalu berterima kasih dengan suara yang hampir hilang.
'Kalau kamu perlu ditemani, bilang,' kata Hannah.
Kiana mengangguk. 'Hari ini aku ingin sendiri dulu.'
'Baik.'
Perempuan itu pergi setelah memastikan ia dapat membawa nampan tanpa menumpahkannya. Kiana menutup pintu dan meletakkan makanan di meja, jauh dari kuas serta cat. Ia makan beberapa suap karena perutnya kosong, kemudian berhenti ketika tenggorokannya terasa sesak lagi.
Di luar, tamu paviliun mulai turun membawa barang. Ada tawa, bunyi roda koper, dan percakapan mengenai tempat yang hendak dikunjungi. Hidup orang lain berjalan dengan mudahnya, pikir Kiana, sebelum menyadari bahwa ia tidak mengetahui kesulitan yang mungkin dibawa masing-masing.
Ia memindahkan nampan sesudah minum tehnya, lalu kembali duduk. Selimut tidak terasa nyaman lagi, tetapi ia belum ingin membuka pintu untuk melihat siapa yang mungkin berdiri di halaman.
***
Gian sedang memeriksa lampu lorong ketika Hannah menanyakan apakah ia melihat Kiana pulang semalam. Tangannya berhenti pada sakelar, kemudian kembali bergerak setelah lampu menyala.
'Pulang diantar travel,' jawabnya.
'Kelihatannya habis nangis.'
Gian tidak mengatakan ia tahu penyebabnya. Ia hanya menyebut Kiana sudah menolak tawaran duduk dan memilih masuk kamar. Hannah mengangguk, menatap tangga beberapa saat sebelum merapikan kain lap di tangannya.
'Jangan diketuk terus,' katanya. 'Dia bilang ingin sendiri.'
'Aku belum mengetuk.'
'Bagus. Pertahankan.'
Gian memandang Hannah, tetapi perempuan itu sudah melangkah menuju kafe. Ia menguji lampu sekali lagi, lalu menutup kotak perkakas. Ada dorongan untuk mengirim pesan menanyakan apakah Kiana membutuhkan sesuatu. Ia menahannya sampai sore, ketika Hannah memberi tahu bahwa gelas serta nampan sudah dikembalikan melalui meja kecil di lorong.
Barulah ia mengirim pesan singkat: apakah Kiana ingin makanan dititipkan malam ini.
Jawabannya baru datang setelah ia selesai merapikan perkakas. Kiana mengatakan boleh, dalam jumlah sedikit, dan meminta tidak perlu menunggu ia membuka pintu.
Gian menunjukkan pesan itu kepada Hannah ketika meminta satu nampan. Perempuan itu memilihkan makanan, lalu menyuruhnya membawa teh yang baru diseduh agar tidak keburu dingin. Gian mengambil kertas kecil dari meja, hendak menulis sesuatu, kemudian menyadari ia tidak perlu membuat kalimat panjang.
Ia hanya menulis bahwa makanan sudah ditaruh sesuai permintaan.
Di samping nampan, ia meletakkan sebungkus pengharum stella jeruk yang pernah dibelinya di warung. Ia sempat menatap benda itu dengan wajah ragu, lalu tetap meninggalkannya dalam kemasan tertutup. Sesudah mengirim pemberitahuan, ia langsung turun ke rumahnya.
Kiana membuka pintu beberapa menit kemudian. Tidak ada orang menunggu. Di lorong hanya terdengar suara tamu bercakap dari kamar lain. Ia mengambil nampan dan melihat benda kecil berwarna cerah di sampingnya.
Stella jeruk.
Ia menatapnya lama, lalu mengeluarkan tawa pendek yang mengejutkan dirinya sendiri. Orang yang dulu begitu keras menentang aroma itu ternyata dapat membelinya tanpa harus mengumumkan bahwa pendapatnya sudah berubah.
Kiana membawa semuanya masuk. Ia makan sedikit lebih banyak daripada pagi tadi, lalu meminum teh sambil duduk di dekat jendela. Kemasan pengharum itu tidak dibukanya. Ia menaruhnya di laci, terpisah dari barang medis serta cat, kemudian membalas pesan Gian dengan ucapan terima kasih.
Sebelum tidur ia memeriksa jadwal Senin yang dikirim tim, menyiapkan sneli bersih, dan memasukkan botol minum ke tas kerja. Ia tidak menambahkan giliran hanya untuk menghindari pikiran sendiri. Jari-jarinya sempat berhenti di atas percakapan Bayu, tetapi kali ini ia membiarkannya tertutup tanpa mengetik alasan baru. Batas yang disampaikan pagi tadi masih cukup untuk hari ini.
Malam itu ia belum ingin bercerita. Ia juga belum ingin melanjutkan lukisan. Namun pintu kamarnya dapat ditutup tanpa membuat ia merasa harus menolak semua hal yang datang dari luar.