Di dekat tempat kendaraan, Bayu menghubungi pengelola travel. Kiana berdiri beberapa langkah darinya, menunggu sambil memegangi tali tas. Senter di tangannya sudah dimatikan karena lampu di situ cukup terang untuk melihat jalan.
Bayu menjelaskan kebutuhan kendaraan dan alamat paviliun. Ia menoleh untuk menanyakan apakah Kiana bersedia menunggu sebentar. Perempuan itu mengangguk, lalu meminta perkiraan kedatangan sebelum memberikan persetujuan akhir.
Sesudah panggilan selesai, Bayu menyebut waktu yang disampaikan pengelola. Ada kendaraan yang dapat menjemput setelah mengantar tamu lain di jalur yang memungkinkan. Kiana meminta nomor pengemudi dan ciri kendaraan diteruskan ke ponselnya. Ia sendiri akan memastikan biaya serta perjalanan langsung menuju paviliun.
'Aku yang bayar,' kata Bayu.
'Aku bisa bayar sendiri.'
'Bukan maksudku...'
'Aku tahu.' Kiana menatapnya sekilas. 'Malam ini biarkan aku mengurus bagian itu.'
Bayu mengangguk. Ia menyimpan ponsel dan tidak meneruskan perdebatan. Mereka menunggu di dekat tempat yang masih digunakan beberapa pengunjung, tidak kembali ke tikar seolah percakapan sebelumnya belum terjadi.
Seorang penjual yang sedang membereskan dagangan menanyakan apakah mereka membutuhkan minum. Kiana menolak dengan sopan. Tenggorokannya masih terasa kering, tetapi ia takut menerima sesuatu akan membuat air mata yang sejak tadi ditahannya jatuh di hadapan orang asing.
Bayu memperhatikan wajahnya, lalu menunduk sebelum Kiana merasa harus menjelaskan.
'Kak, soal tadi...'
'Aku dengar jawabanmu, Bay.'
'Aku cuma ingin minta maaf.'
'Aku dengar juga.'
Pemuda itu mengusap kedua telapak tangannya pada celana. Kiana hampir mengatakan sesuatu untuk meringankan keadaan, sebuah lelucon atau kalimat yang membuat mereka dapat berdiri lebih mudah. Namun ia sedang tidak ingin tertawa. Ia membiarkan keheningan itu tinggal tanpa segera menyelamatkan siapa pun darinya.
Ponselnya berdering. Pengemudi mengabari sudah mendekati titik penjemputan. Kiana menjawab, melihat kendaraan yang datang, lalu mencocokkan keterangan yang dikirim kepadanya. Bayu membantu menunjukkan tempat berhenti, tetapi tidak langsung membuka pintu sampai Kiana sendiri mendekat.
Pengemudi memastikan nama dan tujuan. Kiana mengiyakan, menanyakan lagi bahwa perjalanan tersebut langsung ke paviliun, kemudian masuk ke kursi yang dipilihnya.
Bayu berdiri di luar jendela yang masih terbuka.
'Kalau sudah sampai, kabari sekali saja, ya, Kak.'
Kiana mengangguk. 'Kamu juga hati-hati pulang.'
Itulah kalimat paling panjang yang sanggup diberikannya sebelum kendaraan bergerak. Ia menutup jendela setelah udara menjadi lebih dingin, lalu menyandarkan kepala tanpa melihat ke belakang.
Di luar, cahaya warung dan rumah warga lewat satu per satu. Kiana mengenali sebagian tikungan, tetapi tidak menghitung jarak yang tersisa. Ia hanya ingin sampai sebelum suara di kepalanya menjadi lebih keras daripada yang dapat ditahannya.
Pengemudi menanyakan apakah pendingin perlu dikecilkan. Kiana mengiyakan dan berterima kasih. Ia menyukai pertanyaan sederhana itu karena dapat dijawab tanpa membicarakan apa yang baru saja hilang dari harapannya.
Ketika gerbang paviliun terlihat, ia meminta berhenti di tempat yang mudah untuk turun. Pembayaran diselesaikannya sendiri. Ia menunggu sampai pengemudi memastikan tidak ada barang tertinggal, lalu mengucapkan selamat malam.
Kendaraan berbalik dan pergi. Kiana berdiri di bawah lampu halaman, membuka percakapan Bayu, dan mengetik bahwa ia sudah tiba. Pesan itu terkirim sebelum ia memasukkan ponsel ke tas. Ia tidak menunggu balasan.
'Kiana?'
Gian muncul dari arah rumahnya membawa cangkir. Ia berhenti ketika melihat wajah perempuan itu. Kiana memaksa tersenyum, tetapi otot di pipinya terasa sakit.
'Udah pulang.'
'Uhm. Bayu?'
'Pulang sendiri. Aku diantar kendaraan travel.'
Gian mengangguk. Ia melihat Kiana memegangi tas terlalu erat, kemudian menaruh cangkir di meja kecil dekat pintu rumah, bukan membawanya mendekat.
'Mau duduk sebentar?'
Kiana menggeleng. 'Aku capek. Mau masuk.'
'Perlu sesuatu dibawakan?'
'Tidak. Terima kasih.'
Gian menepi dari jalan menuju tangga. Ia tidak menanyakan apakah Bayu berbuat salah atau meminta Kiana menatapnya. Ketika perempuan itu menaiki anak tangga, ia hanya mengingatkan bahwa lampu dekat belokan atas belum menyala dan ia dapat memakai senter kalau diperlukan.
Kiana menekan tombol senter, melihat bidang kayu di depannya, lalu melanjutkan sampai kamar. Tangannya sempat salah memutar kunci. Ia menarik napas dan mencoba sekali lagi, kali ini berhasil.
Kanvas di serambi masih berdiri di tempat yang sama. Bagian langit yang kemarin membuatnya senang kini tampak terlalu terang di bawah lampu. Ia menutup bagian depan dengan kain pelindung yang biasa digunakan, lalu masuk dan menutup pintu.
Di dalam, Kiana meletakkan tas sebelum duduk di tepi ranjang. Ia membuka ikatan rambutnya. Jepit kecil jatuh ke lantai dan ia membiarkannya untuk sesaat, menatap benda itu sampai bentuknya mengabur.
Air mata akhirnya turun tanpa perlu dipaksa.
Ia marah karena sudah berharap. Lalu ia marah kepada dirinya sendiri karena menganggap berharap sebagai sesuatu yang memalukan. Bayu telah menjawab tidak. Jawaban itu tidak membuat keberaniannya bertanya menjadi salah, tetapi malam ini Kiana belum mampu memisahkan keduanya dengan tenang.
Ia menangis sambil menekan ujung selimut ke wajah, berhenti hanya untuk mengambil tisu dan air minum. Ketika ponsel bergetar dari dalam tas, ia tidak membukanya. Untuk malam ini, ia tidak ingin menjadi orang yang mudah dihubungi.
Beberapa saat kemudian ia bangkit untuk mencuci muka. Bayangannya di cermin membuatnya terdiam: syal yang dipilih begitu lama masih menggantung, sementara rambut yang dirapikan berkali-kali sudah berantakan. Kiana melepas syal itu, menggantinya dengan pakaian tidur, dan menggantung jaket agar tidak dilempar ke lantai. Ia kembali memungut jepit yang tadi jatuh sebelum mematikan lampu utama. Urusan kecil tersebut tidak memperbaiki perasaannya, tetapi memberinya sesuatu yang dapat diselesaikan ketika pikirannya belum sanggup menerima apa pun yang lebih besar.
Di bawah, Gian menunggu sampai cahaya senter di tangga tidak lagi terlihat. Ia mengambil cangkir yang ditinggalkannya, memeriksa pintu halaman seperti biasa, lalu masuk ke rumahnya. Dari jendela ia sempat melihat lampu kamar lima masih menyala.
Ia menutup tirai tanpa naik mengetuk. Kiana sudah mengatakan ingin masuk, dan ia tidak akan mengubah penolakan itu menjadi alasan untuk terus berjaga di depan pintunya.