Kiana tidak langsung menjawab. Ia menatap Bayu, mencoba memahami mengapa pemuda yang begitu lekat dengan ibunya itu menyimpan sesuatu yang belum pernah mereka bicarakan.
'Ibu mengadopsi aku waktu umur dua tahun,' katanya. 'Dari panti di Mataram. Aku tahu dari surat yang kutemukan waktu SMP.'
'Kamu pernah tanya?'
Bayu menggeleng. 'Tidak. Waktu itu aku takut kalau tanya, Ibu mengira aku tidak senang jadi anaknya.'
Kiana melihat pemuda itu mengusap satu titik pada tikar yang sebenarnya tidak kotor. Ujung jarinya bergerak berulang-ulang sebelum akhirnya ia menyadari sendiri dan berhenti.
'Di surat itu ada cerita aku ditemukan di dekat masjid waktu masih bayi. Tidak ada keluarga yang datang menjemput. Aku tidak tahu bagian lainnya. Aku juga tidak pernah berani mencari tahu lebih jauh.'
Angin kembali menggerakkan rumput di tepi tempat duduk mereka. Kiana merapatkan jaket, bukan karena ingin menjauh, melainkan karena tubuhnya mulai terasa dingin setelah lama diam. Bayu memperhatikannya, lalu menurunkan tangan yang sempat bergerak hendak membetulkan syalnya.
'Jadi foto yang ada di rumah...'
'Kebanyakan sesudah aku dibawa pulang. Yang bayi memang tidak ada.'
Kiana mengingat deretan pigura yang pernah dilihatnya di rumah Bayu. Ia juga mengingat ibu Bayu sempat berhenti menggosok piring di dapur, kemudian suara air dan peralatan terdengar lagi. Saat itu ia tidak memiliki alasan untuk menanyakan lebih jauh. Sekarang jeda kecil itu terasa berbeda, meskipun ia tetap tidak tahu apa yang sedang dipikirkan perempuan tersebut.
'Aku tidak pernah dengar Ibu bilang tidak mau aku,' kata Bayu. 'Justru aku yang selalu takut. Kalau aku bikin salah, aku ingin cepat memperbaiki. Kalau ada yang bisa kubantu, aku ingin jadi yang pertama.'
'Kamu tidak perlu membuat ibumu terlihat tidak sayang untuk menjelaskan ketakutanmu.'
'Aku tidak bilang begitu, Kak. Ibu sayang banget. Makanya kadang aku merasa tidak tahu diri karena masih takut.'
Kiana terdiam. Ia tahu ada ketakutan yang tidak hilang hanya karena seseorang sudah diberi alasan untuk merasa aman. Namun ia belum mampu menempatkan pengertian itu di atas lukanya sendiri. Barusan ia menyatakan cinta kepada seorang laki-laki, dan kini ia sedang berusaha menahan diri agar tidak kembali menjadi dokter yang menenangkan setiap orang kecuali dirinya.
'Aku dengar ceritamu,' katanya akhirnya. 'Tapi aku tidak bisa langsung mengobati perasaanmu malam ini, Bay.'
Bayu mengangguk, matanya semakin merah. 'Aku tidak minta Kakak melakukan itu.'
'Tadi kamu bilang bisa merasa berguna kalau membuat aku tertawa. Aku takut nanti aku harus tertawa supaya kamu tidak merasa ditinggalkan.'
'Jangan. Jangan begitu.'
'Tapi aku sedang merasa begitu.'
Kata-kata itu membuat Bayu menunduk. Kiana tidak ingin menyebutnya orang jahat. Ia juga tidak ingin membebaskan semua tanggung jawabnya hanya karena pemuda itu memiliki cerita yang menyakitkan.
Ia mencoba memisahkan hal-hal yang sedang berdesakan di dalam kepala. Ada Bayu yang sungguh tertarik ketika mereka bertemu. Ada Bayu yang membaca berita dan ingin menghiburnya. Ada Bayu yang terus mendekat meski belum memikirkan akan menjadi apa kedekatan tersebut. Semua itu dapat terjadi pada orang yang sama, tetapi Kiana belum tahu cara menyimpannya tanpa merasa setiap kenangan berubah bentuk.
'Waktu aku cerita soal Ayah, kamu merasa harus membalas dengan genggam tangan?' tanyanya.
'Aku ingin menemani. Aku tidak sedang merencanakan membuat Kakak jatuh cinta.'
'Aku tahu kamu tidak punya rencana seperti itu. Tapi aku menerimanya sebagai sesuatu yang lain.'
Bayu mengangkat kepala. 'Aku seharusnya lebih jelas.'
Kiana tertawa pendek, hampir tanpa suara. Mereka bahkan belum pernah menanyakan apa yang diinginkan masing-masing sebelum malam ini. Ia pun memiliki bagian dalam dugaan-dugaan tersebut. Tetapi menerima bahwa dirinya berharap tidak berarti ia harus menyalahkan diri karena harapan itu tidak dibalas.
Untuk sesaat pikirannya kembali pada masa kecil, pada orang dewasa yang datang membawakan makanan lalu segera pergi. Ia hampir menyimpulkan bahwa semua orang mendekatinya karena iba. Namun ia tidak mengetahui isi hati semua orang itu. Ia hanya sedang terluka, dan luka membuat kenangan yang berbeda-beda tampak memiliki warna serupa. Kiana mengusap pipinya sebelum menatap Bayu lagi. Ia tidak perlu memutuskan makna seluruh hidupnya di tempat ini malam ini. Ia hanya perlu mengakui bahwa ia kecewa dan belum sanggup menerima hiburan.
Di bawah lampu yang lebih jauh, sepasang pengunjung mulai mengemasi barang. Bunyi kantong plastik membuat Kiana tersadar bahwa mereka sudah duduk cukup lama. Ia meraih tas, memeriksa apakah senter masih berada di tempatnya, lalu memasukkan bungkus makanan yang kosong ke kantong sampah kecil.
'Aku ingin pulang,' katanya.
Bayu bergerak hendak berdiri. 'Aku antar.'
'Aku belum ingin berboncengan sama kamu sekarang.'
Pemuda itu berhenti. Kiana melihat kesedihan di wajahnya, tetapi tidak mengubah jawabannya agar ia merasa lebih baik.
'Aku bisa cari kendaraan lain,' lanjutnya. 'Aku tidak akan jalan sendirian sampai paviliun.'
Bayu mengangguk pelan. 'Aku bisa tanya ke pengelola travel. Kalau ada kendaraan yang bisa mengantar.'
Kiana berpikir beberapa saat. Ia tidak ingin menerima tawaran yang diam-diam mengharuskannya duduk bersama Bayu lebih lama, jadi ia menyebutkan dengan jelas bahwa ia ingin pergi sendiri di dalam kendaraan itu.
'Aku tunggu sampai jemputannya datang,' jawab Bayu. 'Habis itu aku pulang sendiri.'
'Boleh. Terima kasih.'
Mereka mulai merapikan barang. Kiana melipat bagian tikar di sisinya, lalu menunggu Bayu memasukkan termos. Mereka tidak lagi saling bercanda soal siapa yang membawa terlalu banyak makanan. Setiap gerakan kecil terasa memiliki ruang kosong yang belum tahu harus diisi apa.
Ketika Bayu hendak mengambil tasnya, Kiana mengatakan ia dapat membawanya sendiri. Pemuda itu langsung melepaskan pegangan. Kali ini ia tidak mengubah penolakan menjadi lelucon.
Mereka berjalan menuju tempat kendaraan, dengan jarak yang cukup untuk tidak saling bersentuhan. Kiana menyalakan senter di tangannya. Cahaya itu membantu melihat pijakan, tetapi tidak menjawab pertanyaan yang masih berulang di kepalanya: bagaimana mungkin beberapa kata dapat membuat perjalanan pulang terasa begitu berbeda dari perjalanan berangkat?