Kiana menunggu Bayu menyelesaikan kalimatnya. Tangan pemuda itu berpindah dari gelas ke ujung tikar, kemudian kembali lagi, seolah ada benda yang perlu dipegang supaya ia dapat berbicara.
'Aku suka waktu sama Kakak,' katanya.
Kiana belum tersenyum. Ada kelanjutan yang tertahan di wajahnya.
'Waktu jemput di bandara, aku benar-benar tertarik. Sampai bingung sendiri dan salah tingkah. Itu bukan pura-pura.' Bayu mengangkat wajah. 'Aku ingin dekat sama Kakak. Aku senang waktu Kakak balas bercanda, waktu Kakak ngajak jalan, waktu kita pulang dari klinik.'
'Lalu sekarang?'
Pertanyaan Kiana membuat Bayu terdiam lebih lama. Ia melihat orang-orang yang sedang berfoto di tempat lain, lalu kembali menatapnya tanpa menemukan tempat untuk menyembunyikan kegelisahan.
'Sekarang aku tidak yakin bisa menawarkan hubungan yang Kakak maksud.'
Kiana mengangguk sekali, terlalu cepat. Ia merasa perlu melakukan sesuatu agar wajahnya tidak terlihat membeku.
'Tidak yakin karena belum tahu perasaanmu, atau sebenarnya tidak mau?'
Bayu menelan ludah. 'Aku tidak mau bilang iya kalau yang aku pikirkan masih cuma bagaimana menjaga semua ini tetap menyenangkan.'
'Hubungan memang tidak selalu menyenangkan.'
'Aku tahu. Tapi selama ini aku seperti sengaja berhenti mikir sebelum sampai ke sana.'
Angin mengangkat salah satu sisi tikar. Bayu menahannya dengan lutut, lalu memindahkan termos agar mereka tidak perlu terus mengurusnya. Kiana memperhatikan gerakan itu karena lebih mudah daripada menatap matanya.
'Aku kagum sama Kakak,' lanjutnya. 'Waktu tahu Kakak dokter di klinik, aku sempat takut karena ternyata Kakak seniorku. Lalu Kakak tetap baik. Aku merasa... setiap kali bisa bikin Kakak tertawa, aku melakukan sesuatu yang benar.'
'Itu salah?'
'Bukan ketawanya. Aku yang mulai menganggap itu cukup untuk semua hal.'
Kiana mengusap ibu jari dengan jari lainnya. Ia mengingat Bayu yang berlarian setelah acara perkenalan, minuman sarang burung yang dibawanya, dan wajahnya saat mereka berjalan sambil menuntun sepeda. Ia tidak ingin kenangan itu tiba-tiba dipindahkan ke tempat yang sama dengan kebohongan Gala.
'Kalau kamu juga senang dekat denganku, apa yang sebenarnya kita jalani selama ini?' Suara Kiana mulai menegang. 'Aku sampai berani berharap lebih, Bay.'
Bayu menggeleng cepat. 'Aku tidak membatalkannya, Kak. Aku memang tertarik. Aku memang senang ngajak Kakak keluar. Sampai sekarang aku masih senang dekat sama Kakak.'
'Tapi bukan untuk jadi pacar.'
Bayu menunduk. 'Aku tidak siap menjalankannya. Dan kalau aku terus bilang belum tahu, Kakak mungkin menunggu aku berubah. Aku tidak bisa meminta itu.'
Kiana menarik napas, tetapi napas tersebut berhenti di dadanya sebelum terasa cukup. Ia sudah memberi izin agar Bayu jujur. Mendengar jawaban yang tidak diharapkannya ternyata tetap menyakitkan.
'Aku tidak pernah minta kamu menjamin apa-apa yang sempurna,' katanya.
'Aku tahu.'
'Aku cuma tanya apakah kamu mau mencoba.'
Bayu menutup mata sesaat. 'Aku tidak bisa menjawab iya, Kak.'
Kiana mengambil gelasnya, lalu baru menyadari tehnya sudah dingin. Ia tetap meminumnya sedikit karena tenggorokannya terasa kering. Bayu mengulurkan termos, menawarkan tambahan yang lebih hangat. Kiana menggeleng dan menaruh gelas di samping tas. Tawaran sederhana yang tadi mudah diterimanya sekarang membuatnya bingung harus bersikap seperti apa. Ia ingin percakapan ini berhenti, tetapi ia juga tahu akan terus mengulangnya dalam kepala bila pulang tanpa memahami bagian yang masih mengganjal.
Kali ini Kiana tidak bertanya lagi untuk memperhalus kata itu. Ia menatap titik terang di langit, menunggu sampai pandangannya tidak terlalu bergetar sebelum kembali melihat Bayu.
'Kenapa masih terus ajak aku ke sini? Kenapa menggenggam tanganku waktu aku cerita?'
'Aku ingin dekat. Aku juga ingin jadi orang yang bisa Kakak cari kalau lagi susah.' Bayu mengusap matanya dengan punggung tangan. 'Aku tidak berhenti buat mikir kalau sikapku membuat Kakak berharap sesuatu yang lebih jelas. Aku senang dibutuhkan. Aku senang kalau Kakak merasa lebih baik setelah cerita sama aku.'
Kiana mendengar kalimat terakhir itu lebih keras daripada suara apa pun di sekitarnya.
'Kamu kasihan sama aku?'
Bayu menunduk. 'Sesudah aku baca berita itu, aku memang kasihan. Aku marah lihat orang ngomong macam-macam. Aku ingin nemenin Kakak.'
'Sesudah kapan?'
'Waktu awal-awal kita kerja bareng. Malam sebelum aku bangun pagi dan bingung mau ngajak Kakak jalan. Bukan sebelum Kakak datang. Waktu jemput itu aku bahkan belum tahu Kakak dokter.'
Ia berhenti, lalu menambahkan bahwa ia tidak ingin mengaku memahami seluruh cerita hanya karena membaca artikel. Kiana menekan bibirnya. Bayu baru mendengar beberapa bagian kehidupannya beberapa hari lalu, dan ia tadi telah merasa begitu aman bercerita.
'Jadi setelah tahu aku punya masalah, kamu merasa harus menyelamatkan aku?'
'Aku pikir kalau aku bisa bikin Kakak tidak sendirian, aku akan merasa... berguna.'
'Berguna buat siapa, Bay?'
Pertanyaan itu membuat Bayu membuka mulut tanpa suara. Tangannya bergetar ketika ia meraih gelas, lalu meletakkannya kembali. Kiana mulai melihat bahwa ia bukan satu-satunya orang yang membawa harapan ke tikar itu. Bedanya, harapan Bayu tidak memiliki bentuk yang dapat dijadikannya hubungan.
'Aku tidak ingin jadi orang yang membuat kamu merasa baik cuma karena bisa menolongku,' kata Kiana pelan.
'Aku tahu. Aku tidak menyangka caraku berpikir akan terdengar seperti itu ketika aku mengatakannya.'
'Kamu baru dengar karena aku bertanya.'
Bayu mengangguk. Ia tidak mengelak dengan lelucon. Air matanya jatuh ketika ia mencoba meminta maaf, tetapi Kiana belum sanggup menenangkan orang yang barusan membuatnya merasa kehilangan pijakan.
'Kenapa perasaan dibutuhkan itu penting sekali buat kamu?'
Bayu mengusap pipinya. Lama ia diam, sampai Kiana hampir mengatakan tidak perlu menjawab. Namun pemuda itu sudah mengangkat kepala dengan wajah yang tampak lebih muda daripada biasanya.
'Aku takut gampang ditinggalkan,' katanya. 'Walaupun Ibu tidak pernah membuatku merasa begitu.'
Kiana menatapnya, tidak memahami hubungan kalimat tersebut dengan ibu yang begitu sering dipujinya.
'Ada hal yang belum pernah aku ceritakan ke Ibu kalau aku sudah tahu.' Bayu meremas ujung jaketnya. 'Aku bukan anak kandung Ibu, Kak.'