Sabtu sore, Kiana sudah dua kali mengganti cara mengikat syalnya sebelum memutuskan membiarkannya terlipat di dalam tas. Belum tentu udara di tempat tujuan sedingin yang dibayangkan. Jika terus mencobanya di depan cermin, ia mungkin justru terlambat turun.
Pesan Bayu datang ketika ia sedang memeriksa pintu kamar.
Sif selesai. Serah terima sudah. Aku jemput sebentar lagi.
Kiana membalas, lalu merapikan rambut sekali lagi dengan telapak tangan. Ia tidak membawa buku sketsa malam ini. Ada sesuatu yang ingin dikatakannya tanpa bersembunyi di balik kegiatan lain.
Di halaman, Gian sedang membilas bagian samping mobilnya. Ia menoleh ketika mendengar langkah Kiana dan segera memindahkan selang agar jalan menuju gerbang tidak licin.
'Mau keluar?'
'Sama Bayu. Lihat bintang sebentar.'
Gian memandang tas yang dibawanya. 'Sudah bawa senter?'
Kiana mengangkat benda itu dari kantong samping. 'Beneran. Bukan ponsel.'
'Bagus.'
Ia hampir menanyakan mengapa Gian tidak mengejeknya lagi, tetapi bunyi motor bebek Bayu sudah terdengar dari luar. Pemuda itu berhenti di tempat yang cukup terang, mematikan mesin dan mengangkat tangan kepada Gian.
'Malam, Kak!'
'Sudah makan?'
'Belum. Bawa bekal.'
Gian mengangguk, lalu kembali mengarahkan air ke bagian mobil yang belum selesai. Ia tidak menahan keberangkatan mereka. Kiana mengenakan helm yang disiapkan Bayu dan memastikan duduknya nyaman sebelum pemuda itu bergerak.
Perjalanan berlangsung dengan percakapan yang terputus angin. Bayu sempat bertanya apakah tasnya terlalu berat. Kiana mengatakan isinya tidak cukup untuk dua belas orang, membuat pemuda itu tertawa karena teringat pesan mereka kemarin.
Sesampai di Bukit Selong, mereka memilih bagian yang tidak jauh dari pengunjung lain. Bayu menggelar tikar, lalu kembali ke tempat kendaraan untuk mengambil termos yang hampir tertinggal. Kiana menahan sisi tikar agar tidak terlipat dan meletakkan tas sebagai pemberat.
'Kalau termosnya tidak ikut, kita sudah lengkap membawa semua kecuali minum,' katanya ketika Bayu kembali.
'Aku sengaja uji ingatan.'
'Nilainya hampir jatuh.'
Bayu duduk di seberangnya dengan tawa yang membuat Kiana ikut tersenyum. Ia menuangkan teh setelah memastikan tutup gelas dapat berdiri dengan baik, kemudian meminta Kiana menggeser makanan agar tidak terkena percikan.
Salah satu bungkus makanan hampir terbang ketika Kiana membukanya. Bayu menangkap ujungnya dengan gerakan yang terlalu bersemangat sampai tutup termos berguling. Mereka serentak menoleh, lalu Kiana menahannya dengan sepatu sebelum jatuh lebih jauh. Bayu memungut benda itu dan mengakui perlengkapan piknik mereka memerlukan susunan yang lebih baik. Kiana memindahkan barang ringan ke dalam tas, menyediakan satu kantong untuk sampah, lalu menyerahkan makanan kepadanya. Kali ini mereka membuka bungkus di atas pangkuan masing-masing.
Mereka makan sedikit lebih dahulu. Kiana menanyakan pasien yang diceritakan Bayu beberapa hari lalu, dan pemuda itu menjawab dalam batas yang tidak membuka rincian pribadi. Sesudahnya mereka sepakat tidak menghabiskan malam membicarakan kerja.
'Kalau bukan kerja, kamu mau cerita apa?' tanya Kiana.
Bayu mengambil ponsel dan membuka aplikasi langit. 'Aku mau membuktikan kemampuanku yang lain.'
'Yang sudah diuji siapa?'
'Aplikasi.'
Kiana menahan tawa. Mereka mendongak, bergantian membandingkan titik-titik terang dengan gambar di layar. Bayu menyebut satu nama dengan yakin, kemudian mengernyit ketika arah yang ditunjukkannya tidak cocok.
'Itu planet atau pesawat?' tanya Kiana.
'Tunggu. Kalau pesawat, sebentar lagi kita tahu.'
Mereka menunggu sampai cahaya itu bergerak. Kiana tertawa lebih dulu, disusul Bayu yang mengakui ia perlu berhenti berbicara seolah paling mengerti setiap benda di langit.
'Bagus. Aku tadi hampir mencatat.'
'Jangan. Nanti salahnya jadi resmi.'
Angin menggerakkan ujung jaket Kiana. Ia mengambil syal dan memakainya tanpa diminta. Ketika Bayu bertanya apakah ia kedinginan, Kiana menjawab masih nyaman. Pemuda itu menggeser termos lebih dekat, lalu duduk memeluk lutut.
Hening yang datang sesudah tawa terasa menenangkan. Kiana memandang sisi wajahnya. Tidak setiap hal yang terjadi selama sebulan terakhir menyenangkan. Ada hari ketika ia bangun dengan marah, ada percakapan yang dihindarinya, dan ada lukisan yang beberapa kali ingin ditinggalkan. Namun Bayu selalu menjadi bagian dari hari yang ingin ia ingat.
Kini justru karena malam itu terasa baik, ia takut merusaknya.
'Bay,' panggilnya.
'Hm?'
'Aku mau ngomong serius.'
Bayu meletakkan ponselnya dengan layar menghadap tikar. Ia mengubah posisi duduk, menunggu sampai Kiana mengangkat wajah.
'Boleh. Kenapa, Kak?'
Kiana meremas ujung syal di pangkuan. Kalimat yang sejak kemarin disiapkan mendadak terdengar terlalu panjang. Ia tidak ingin memulai dengan daftar seluruh hal buruk yang pernah dialaminya, seolah pemuda itu harus bertanggung jawab memastikan dirinya tidak sedih lagi.
'Aku senang waktu sama kamu,' katanya. 'Bukan cuma karena kamu bikin suasana jadi ramai. Aku suka cara kamu memperhatikan orang, termasuk waktu kamu mengajak peserta istirahat di Pergasingan tanpa membuat dia merasa menyusahkan.'
Bayu menatapnya, tidak menyela.
'Aku juga tahu kamu punya hidup sendiri. Ada kerja, ada Ibu, ada rencana yang belum tentu sama denganku.' Kiana menarik napas. 'Jadi aku tidak mau terus menebak dari sikapmu.'
Ia melepaskan ujung syalnya. Kedua tangannya kini terbuka di atas lutut meski jemarinya masih sedikit bergetar.
'Aku suka sama kamu, Bay. Sebagai laki-laki. Aku ingin tahu apa kamu ingin mencoba hubungan yang lebih dari teman.'
Suara pengunjung lain terdengar dari undakan yang lebih jauh. Seseorang memanggil temannya untuk melihat bintang, lalu tertawa ketika nama yang disebutnya salah. Kiana hampir ikut menoleh hanya untuk menghindari wajah Bayu yang terdiam.
Namun ia tetap duduk di sana.
Bayu menelan ludah dan melihat tangannya sendiri. Senyumnya yang tadi begitu mudah muncul kini tidak ada. Ia mengangkat kepala, membuka mulut, lalu berhenti sebelum satu kata pun selesai.
'Kamu tidak harus jawab iya supaya aku tidak kecewa,' kata Kiana, lebih pelan. 'Tapi aku ingin jawaban yang kamu percaya.'
Bayu mengangguk. Ia menggeser gelas agar tidak tersenggol, kemudian menatap Kiana lagi. Kali ini wajahnya memperlihatkan kegelisahan yang tidak dapat disembunyikan di balik lelucon.
'Kak, aku harus jujur tentang sesuatu.'