Kiana menghapus satu kalimat dari percakapan Bayu sebelum sempat mengirimkannya. Ia menatap layar beberapa saat, kemudian menaruh ponsel dengan posisi terbalik di meja. Di seberang ruang, pemuda yang hendak diajaknya bicara sedang menuliskan sesuatu dengan wajah serius.
Mereka tidak perlu membuat janji lewat pesan padahal berada di tempat yang sama. Kiana tahu itu. Ia hanya belum terbiasa menjadi orang yang lebih dahulu menyatakan keinginan setelah begitu lama menerima segala rencana yang disusun Gala.
Ketika Bayu selesai dengan catatannya dan menutup map, Kiana memanggil.
'Bay, kalau Sabtu malam kamu sudah selesai kerja, ada acara?'
Bayu mengangkat kepala. 'Besok?'
'Iya. Sabtu sesudahnya masih lama.'
Pemuda itu tertawa. Kiana ikut tersenyum meski telapak tangannya terasa hangat. Ia menyelipkan ujung pulpen ke dalam buku supaya tidak terus memutarnya.
'Mau ke mana, Kak?'
'Lihat bintang lagi. Kalau cuacanya memungkinkan.'
Bayu sempat diam. Ia lalu meraih ponsel dan memeriksa jadwal yang difotonya. Kiana berusaha tidak menganggap jeda itu sebagai penolakan. Orang memang perlu memastikan waktu, apalagi setelah mereka baru menukar giliran untuk perjalanan pekan sebelumnya.
'Boleh,' jawabnya. 'Aku pastikan dulu sama Dokter Ali supaya tidak salah.'
'Tidak apa-apa kalau tidak bisa. Kita bisa hari lain.'
'Bisa, sepertinya. Aku cuma mau jawab sesudah jelas.'
Sikap itu membuat Kiana lebih tenang. Mereka melanjutkan tugas masing-masing sampai waktu istirahat tiba. Bayu menemui Ali membawa jadwalnya, meminta penjelasan mengenai pekerjaan Sabtu dan waktu berakhirnya. Dokter itu menunjukkan giliran yang harus ia selesaikan, lalu menanyakan rencana pemuda tersebut setelahnya.
'Keluar sebentar, Dok. Sesudah serah terima.'
'Kalau ada kebutuhan tambahan, beri tahu dari sekarang. Jangan pergi sebelum penerimanya ada.'
Bayu mengangguk. Ia menanyakan kemungkinan dibutuhkan lebih lama, lalu menyepakati siapa yang akan dihubungi bila ada perubahan. Ali menegaskan bahwa waktu di luar jadwalnya tidak perlu dipakai berjaga hanya karena ia lupa menutup pekerjaan dengan benar.
Kiana tidak menyela dari tempat duduknya. Ia hanya memastikan gilirannya sendiri telah selesai sebelum waktu yang mereka rencanakan. Setelah semua cocok, barulah Bayu kembali menghampirinya.
'Bisa, Kak. Kita berangkat sesudah aku selesai dan pulang tanpa terlalu malam.'
'Bukan naik sampai jauh. Aku ingin duduk saja.'
'Siap. Duduk juga kemampuan penting.'
Kiana tertawa. Bayu menawarkan membawa tikar dan termos, sedangkan ia diminta menyiapkan pakaian hangat serta senter yang baterainya cukup. Mereka memilih tempat yang sudah pernah dikunjungi bersama, dengan kesepakatan membatalkan bila keadaan berubah.
'Kalau mendung, pindah minum di bawah saja,' kata Kiana.
'Kalau hujan, kita bisa menatap bintang di layar aplikasi.'
'Itu bisa dilakukan dari rumah.'
'Tapi tidak bisa sambil lihat Kakak mengomel.'
Kiana mengangkat pulpen seolah hendak melempar. Bayu buru-buru menjauh sambil tertawa, kembali ketika seorang perawat memanggil namanya. Kegembiraan kecil itu mengikuti Kiana sampai ia berhadapan dengan pasien berikutnya. Ia harus beberapa kali mengingatkan diri agar berhenti memikirkan kalimat pembuka yang akan dipakainya besok.
***
Jumat sore, Kiana meminta Gian menurunkannya di dekat warung sebelum paviliun. Ia ingin membeli sesuatu untuk dibawa pada pertemuan Sabtu. Gian menunjuk tempat berhenti yang tidak mengganggu kendaraan lain, lalu menanyakan apakah ia ingin ditunggu.
'Tidak usah. Dekat, kok. Aku jalan setelah belanja.'
Gian mengangguk dan melanjutkan perjalanan ketika Kiana sudah turun dengan aman. Kiana membeli makanan ringan yang tidak mudah tumpah. Ia hampir memilih dua macam lagi, kemudian menggeleng pada dirinya sendiri.
Mereka tidak sedang mengadakan pesta.
Di kamar, ia menata hasil belanja di meja dan memeriksa senter. Cahaya bundarnya jatuh pada dinding, melewati tepi meja dan jaket yang tergantung di kursi. Kiana mengarahkannya ke lantai, tersenyum karena teringat ponsel yang pernah mati saat ia berjalan sendirian.
Ada banyak hal yang dulu ia anggap cukup dilakukan sambil lalu. Sekarang, bahkan mengajak orang bertemu pun membutuhkan keberanian untuk menerima bahwa jawabannya mungkin berbeda dari harapan.
Ia duduk di tepi ranjang. Bagaimana kalau Bayu hanya menganggap mereka teman? Bagaimana kalau ia merasa terganggu, lalu suasana kerja ikut berubah? Pertanyaan itu membuat Kiana ingin mengambil ponsel dan mengubah ajakan besok menjadi pertemuan ramai-ramai.
Namun ia belum melakukannya. Ketertarikan tidak akan menjadi lebih jelas hanya karena selalu disembunyikan di balik lelucon. Ia sudah cukup lama menunggu orang lain memberi petunjuk yang dapat ditafsirkan sesukanya.
Kiana membuka buku sketsa pada halaman Pergasingan. Sosok Bayu yang digambarnya tidak begitu mirip jika diperhatikan lama-lama. Garis bahunya terlalu tinggi dan tangannya tampak seperti memegang benda jauh lebih besar daripada ponsel. Meski begitu, ia masih merasakan kehangatan pagi itu setiap melihatnya.
Ia tidak jatuh hati kepada gambar yang sempurna. Ia menyukai orang yang tertawa, mengingat kebutuhannya, dan membuat hari kerja yang melelahkan terasa dapat dilewati.
Ia mengambil pensil dan memperbaiki satu garis tangan pada sketsa. Percobaan pertama justru membuatnya tertawa, lalu ia berhenti menghapus terlalu keras agar kertas tidak rusak. Pada akhirnya ia membiarkan beberapa garis lama tetap tampak dan menambahkan bayangan tipis di sisi jaket. Hasilnya belum seperti yang dibayangkan, tetapi lebih hidup daripada sebelum disentuh. Ia menuliskan tanggal pengerjaan kecil di sudut halaman, menutup buku setelah selesai, dan membersihkan serpihan penghapus dari meja.
Ponselnya bergetar. Bayu mengirim foto termos yang sudah diperiksanya, diikuti pertanyaan apakah ia lebih suka teh atau minuman hangat lain.
Kiana menjawab teh, lalu menambahkan bahwa ia akan membawa makanan.
'Jangan banyak-banyak,' balas Bayu. 'Kita bukan rombongan dua belas orang.'
Kiana tertawa sendiri. Ia memasukkan kembali satu bungkus ke lemari, menyisakan jumlah yang wajar untuk berdua.
Sesudah itu ia memilih jaket dan syal, lalu meletakkannya di kursi. Belum ada janji mengenai perasaan di antara mereka. Besok ia ingin memberanikan diri menanyakannya, tanpa menjadikan semua kebaikan Bayu sebagai utang yang harus dibayar dengan jawaban iya.
Ia mematikan senter dan menaruhnya di dalam tas. Malam di luar jendela masih terang oleh lampu halaman. Untuk sekali ini, menunggu hari berikutnya membuatnya gugup dengan cara yang ingin tetap ia rasakan.