Kiana sudah mengikat rambut dan merapikan tas ketika menyadari sepatu yang dipilihnya semalam bukan sepatu untuk berjalan jauh. Pantofel itu diletakkan dekat pintu karena hari ini ada pertemuan video dengan tim rumah sakit. Ia menatap jam, lalu menatap sepatu trekking yang masih perlu dibersihkan setelah perjalanan Sabtu.
'Aku bisa jalan pelan,' gumamnya.
Ia turun sebelum sarapan, membawa sneli terlipat di atas lengan. Di halaman, mobil Gian sudah menyala. Pria itu berdiri di samping pintu, memeriksa pesan sebelum memasukkan ponsel ke saku.
Kiana mengangkat tangan singkat dan berjalan ke gerbang.
'Kamu benar-benar mau jalan?'
'Iya.'
Gian melihat sepatunya, lalu mengangkat alis. 'Dengan itu?'
'Ini sepatu. Bukan kaca.'
'Aku tidak bilang kaca.'
'Kelihatan dari mukamu.'
Gian menahan senyum. Ia menutup pintu mobil yang tadi terbuka dan berdiri di dekatnya, tidak mengejar Kiana sampai jalan. 'Kalau berubah pikiran, aku berangkat sebentar lagi. Mau ambil map dulu.'
Kiana mengangguk tanpa mengatakan akan ikut. Ia keluar gerbang dan mulai berjalan. Lima menit pertama masih menyenangkan. Udara dingin membuatnya lebih terjaga, dan beberapa warga menyapanya ketika melewati halaman rumah. Namun sebelum sampai tikungan berikutnya, ia sudah memikirkan rapat yang harus dipersiapkan.
Ia berhenti di tepi jalan untuk memeriksa jam. Ada pesan tim mengenai perubahan urutan pembicaraan. Bagian yang akan disampaikannya maju lebih awal. Kiana menatap layar, lalu mengembuskan napas.
Janji kepada Hannah semalam belum berumur sehari.
Ia bisa memesan kendaraan lain, tetapi ia juga tahu ada mobil yang akan melewati klinik. Membuat pilihan itu terasa jauh lebih sulit daripada seharusnya. Akhirnya ia mengirim pesan kepada Gian, menanyakan apakah ia sudah berangkat.
Belum. Mau ikut?
Kiana menjawab iya, lalu menyebut tempatnya menunggu. Ia tidak berpura-pura mobil itu kebetulan berhenti dan dirinya tidak punya pilihan. Ketika Gian datang, ia membuka pintu penumpang sendiri.
'Aku perlu menyiapkan rapat lebih cepat,' katanya.
'Oke.'
'Tidak usah bilang soal sepatu.'
'Aku belum bilang.'
Kiana memasang sabuk dan memandang lurus ke depan. Gian menunggu sampai ia siap, kemudian melanjutkan perjalanan. Tidak ada kemenangan besar di wajah pria itu, hanya senyum yang cepat menghilang ketika harus memperhatikan kendaraan di depan.
Beberapa saat kemudian, lagu yang dikenalnya terdengar dari pengeras suara mobil.
Kiana menoleh. 'DAY6?'
'Kelihatannya.'
'Kamu tidak tahu apa yang kamu putar?'
'Kadang radio memilihkan.'
Kiana menunjuk perangkat yang terhubung di dekat dasbor. 'Itu dari penyimpananmu. Bukan siaran radio.'
Gian berdeham. 'Berarti kamu tidak perlu menebak judulnya.'
Kiana tertawa meskipun masih menahan rasa tidak enak. Di luar jendela, ladang-ladang mulai terang. Ia membiarkan lagu selesai sebelum bertanya apakah Gian membeli lagu itu setelah malam mereka pulang bersama Bayu.
'Aku cari karena kalian menyanyikannya terus,' jawabnya.
'Kamu suka?'
'Tidak seburuk suaramu.'
Kiana menyikut udara di dekatnya tanpa benar-benar mengenai lengan pengemudi. 'Fokus menyetir saja.'
Sesampainya di klinik, ia berterima kasih lalu langsung masuk menyiapkan rapat. Ia baru membuka percakapan Hannah ketika waktu istirahat tiba. Setelah beberapa kali menghapus kalimat, ia menulis bahwa pagi ini dirinya meminta tumpangan Gian karena kebutuhan kerja. Ia tidak ingin mengatakan akan selalu berjalan sendiri lalu membiarkan Hannah melihat hal yang berbeda tanpa penjelasan.
Balasannya tidak segera datang. Kiana meletakkan ponsel dan kembali menangani tugasnya.
***
Sore itu, Hannah berdiri dekat meja penerima tamu ketika Kiana pulang. Perempuan itu sedang membantu seorang tamu memeriksa barang sebelum berangkat. Kiana menunggu sampai urusannya selesai, kemudian mendekat.
'Aku sudah baca,' kata Hannah sebelum ditanya.
Kiana merapatkan tas. 'Maaf. Aku terlalu gampang menjanjikan sesuatu semalam.'
Hannah menghela napas. 'Aku juga terlalu gampang memintanya.'
Kiana tidak menyahut. Hannah memindahkan kunci ke laci, lalu mengangkat wajah.
'Aku tidak bisa terus menanyakan kamu naik mobil siapa setiap hari. Nanti yang kita bicarakan cuma itu.'
'Aku tetap ingin menjaga perasaan Kakak.'
'Aku tahu. Tapi aku perlu bicara sama Gian juga.'
Kiana melihat ujung lengan Hannah basah, lalu menanyakan apakah ia tadi kehujanan. Hannah menggeleng dan menunjukkan kain lap yang dipakainya membersihkan tumpahan air. Kiana mengambil kain kering dari tempat yang ditunjuk dan membantu mengangkat buku tamu yang terancam terkena sisanya. Mereka bekerja beberapa saat tanpa membicarakan Gian. Ketika meja sudah bersih, Hannah mengucapkan terima kasih, dan Kiana baru menyadari ia tadi menahan napas menunggu jawaban yang lebih tajam.
Ada jeda yang tidak sepenuhnya nyaman. Kiana akhirnya mengangguk. Ia tidak menawarkan diri menjadi penyampai pesan, dan Hannah tidak memintanya. Sebelum naik, Kiana menanyakan apakah ajakan memasak bersama kemarin masih boleh dilakukannya lain waktu. Hannah menjawab boleh dengan senyum kecil.
***
Selasa, Kiana membawa sepatu yang lebih nyaman. Ia berjalan sampai jalan utama, lalu berhenti di tempat yang tidak menghalangi orang lewat untuk memeriksa pesan klinik. Satu tugas yang harus diselesaikannya pagi itu sudah dapat dikirim dari ponsel. Ia mengetik jawaban sebelum kembali memasukkan benda tersebut ke dalam tas.
Mobil Gian muncul dari arah paviliun. Kiana yang melihatnya mengangkat tangan, meminta ikut tanpa menunggu klakson. Mereka berbicara mengenai hujan semalam, bukan janji kepada Hannah. Sesampai klinik, Kiana turun dengan perasaan yang belum dapat diberinya nama.
Rabu sore, ia meminta dijemput setelah pekerjaan Gian selesai, lalu menunggu sambil menyelesaikan catatan. Ketika mobil datang, keduanya tidak perlu saling membentak untuk menentukan siapa duduk di mana.
Malam Rabu, Kiana memeriksa lukisannya sambil mengingat perjalanan pulang tadi. Ia tidak merasa perlu mengisi seluruh keheningan. Gian pun tidak menanyai mengapa ia berhenti menyenandungkan lagu di tengah jalan. Kebiasaan kecil itu membuatnya nyaman, dan justru kenyamanan tersebut yang belum ingin ia jelaskan.
Kamis pagi, Kiana sudah menunggu di halaman saat Gian keluar membawa tas. Ia memberikan satu bungkus clorot yang baru dibelinya di warung yang sudah buka, lalu segera menambahkan bahwa itu bukan bagian dari belanja untuk Bayu.
'Aku tidak menagih,' kata Gian.
'Bagus. Jangan semua dimasukkan tagihan bulanan.'
Gian menerima makanan itu sambil tersenyum. Kiana ikut tersenyum, kemudian memalingkan wajah ketika menyadari ia menunggu senyum tersebut lebih lama daripada menunggu pintu mobil dibuka.