Kiana belum menyentuh tehnya ketika Hannah selesai bicara. Tangannya tetap rapat di pangkuan. Dari luar terdengar kendaraan berbelok di persimpangan, lalu suara seorang anak memanggil temannya. Di dalam kios, keduanya seperti sedang menunggu satu sama lain mengambil napas.
'Aku tidak tahu harus jawab bagaimana supaya Kakak tidak salah mengerti,' kata Kiana akhirnya.
Hannah menunduk. 'Kalau kamu juga punya perasaan sama dia, bilang saja.'
'Bukan begitu.' Kiana menggeleng. 'Aku sama Gian tidak sedang pacaran. Aku juga tidak pernah berjanji apa-apa sama dia.'
'Aku tahu. Tapi orang bisa dekat sebelum punya nama buat hubungannya.'
Kiana membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Ia sempat hendak menjelaskan bahwa semua tumpangan itu hanya karena tempat kerja mereka searah. Namun kata hanya terasa terlalu mudah. Gian memang telah melakukan lebih dari mengantarkannya ke klinik. Ia menemaninya ke makam, mengizinkan alat lukis digunakan, dan berbicara mengenai seseorang yang masih sulit dikenangnya.
Meski begitu, perhatian bukanlah pernyataan hubungan.
'Aku tidak ingin mengambil kesimpulan atas hal yang dia lakukan,' ujar Kiana. 'Kamar itu sudah dipersiapkan sebelum aku datang. Waktu itu aku bahkan belum tahu siapa Kak Anjani. Aku baru memahami kisahnya belakangan.'
Hannah mengusap ujung matanya dengan jari. 'Aku tahu kamu tidak merencanakan semua itu.'
'Dan aku tidak akan bilang aku tahu isi hati Gian. Dia sendiri yang harus menjelaskan kepada Kakak.'
Wajah Hannah menegang sedikit. Kiana khawatir kalimatnya terdengar seperti menyuruh perempuan itu pergi, sehingga ia segera menambahkan bahwa ia sedang berusaha tidak menjawab sesuatu yang bukan haknya untuk dijanjikan.
'Aku bisa mengurangi tumpangan pribadi,' katanya. 'Aku bisa berangkat sendiri kalau memang tidak perlu. Tapi aku tidak bisa menjanjikan Gian nanti memilih siapa.'
'Aku tidak minta kamu menjodohkan kami.'
'Aku tahu, Kak.'
Hannah menatap cangkirnya. Ia menggeser sendok kecil di atas tatakan, lalu berhenti ketika bunyinya terdengar terlalu keras di ruangan sunyi itu.
Kiana meraih teh dan meminumnya sedikit. Kehangatannya membantu ia menyusun kalimat yang sejak tadi terasa sulit. Ia tidak ingin menyakiti Hannah, tetapi ia juga tidak ingin pulang membawa perjanjian yang tanpa sadar mengatur seluruh tindakannya.
'Ada orang lain yang aku suka,' ucapnya pelan.
Hannah mengangkat wajah.
Kiana merasakan pipinya memanas sebelum nama itu disebut. 'Bayu.'
Untuk pertama kalinya sejak percakapan mereka menjadi serius, Hannah tampak kehilangan kata. Matanya membulat, kemudian beralih kepada tas tempat Kiana menyimpan ponsel berisi foto kemarin.
'Jadi kalian memang...'
'Belum apa-apa,' potong Kiana cepat, lalu tertawa karena kepanikannya sendiri. 'Jangan langsung bikin kesimpulan yang jauh. Dia belum bilang begitu. Aku juga belum.'
'Tapi kamu ingin?'
Kiana mengangguk kecil. Mengaku di hadapan Hannah membuat keinginannya terasa lebih nyata daripada saat ia menggambar senyum Bayu semalam. Ia tidak lagi sekadar mengira pemuda itu menyenangkan. Ia menunggu pesan-pesannya, memerhatikan wajahnya di klinik, dan membawa pulang bagian dari kegembiraannya setiap kali mereka bersama.
'Aku ingin tahu apa dia merasakan hal yang sama,' katanya.
Hannah mengembuskan napas panjang. Ada kelegaan di wajahnya, tetapi Kiana masih dapat melihat sisa malu yang membuat perempuan itu beberapa kali menunduk.
'Maaf,' kata Hannah. 'Aku sampai membuatmu menjelaskan semuanya begini.'
'Aku juga harus belajar ngomong. Bukan menduga orang akan langsung paham hanya karena aku merasa sudah jelas.'
Hannah tersenyum tipis. 'Itu susah.'
'Susah banget.'
Mereka tertawa kecil. Kiana menceritakan bagaimana dirinya pernah membawa satu kardus barang pemberian Gala ke rumah Karin. Hannah mula-mula terkejut, kemudian menutup mulut ketika mendengar Kiana menyebut perjalanan itu sebagai pengantaran barang terakhir.
'Aku tidak bangga karena bikin keributan,' kata Kiana sesudah tawanya reda. 'Tapi waktu itu aku benar-benar ingin berhenti melihat barang-barangnya di rumah.'
'Aku kira kamu selalu tenang.'
'Kakak belum lihat aku kalau sedang panik cari kunci.'
Hannah tertawa lebih lepas. Ia berdiri mengambil sedikit makanan yang tadi belum dihidangkan, lalu membagi ke dua piring kecil. Kiana membantunya menyingkirkan tatakan yang basah. Mereka kembali membicarakan hal yang lebih ringan, tetapi tidak berpura-pura percakapan sebelumnya tidak pernah terjadi.
Ketika langit di jendela mulai menggelap, Kiana berpamitan. Hannah mengantarnya sampai pintu, kali ini tanpa wajah yang terus menghindar.
'Kamu boleh datang lagi tanpa harus ada yang mau dibicarakan,' katanya.
'Mau. Asal aku tidak disuruh masak ares sendirian sebelum tahu caranya.'
'Kita bisa masak bareng.'
Kiana menyetujui, kemudian berjalan kembali ke paviliun. Sepanjang jalan ia memikirkan janji mengurangi tumpangan. Keputusan itu terasa masuk akal ketika diucapkan di hadapan Hannah. Ia dapat memilih sepatu yang nyaman, berangkat lebih awal, dan menyiapkan kendaraan lain bila cuaca berubah.
Namun ketika sampai di halaman, ia melihat mobil Gian terparkir di dekat rumah kayu. Pintu pengemudi terbuka, dan pemiliknya sedang mengambil map dari kursi.
'Sudah makan?' tanya Gian saat melihatnya.
'Sudah. Di rumah Kak Hannah.'
Gian mengangguk. 'Baguslah.'
Ia tidak bertanya apa yang mereka bicarakan. Kiana hampir saja ingin menjelaskan dengan sendirinya, lalu bertanya kepada diri sendiri mengapa ia merasa perlu melakukan itu.
'Aku besok berangkat sendiri,' katanya.
Gian menoleh dari pintu mobil. 'Ada perlu lebih pagi?'
'Tidak. Mau jalan saja.'
'Pakai sepatu yang benar.'
Kiana mendengus, tetapi tidak membalas panjang. Ia naik ke kamar sambil membawa sisa makanan dari Hannah. Di dekat kanvas, ia berhenti dan memandangi warna langit yang telah kering.
Ponselnya bergetar. Bayu mengirim foto clorot dari warung dan bertanya apakah traktiran yang dijanjikan kemarin masih berlaku. Kiana tertawa kecil, membalas bahwa ia baru selesai makan banyak di rumah Hannah. Ia meminta Bayu memilihkan untuk mereka bawa besok, lalu mengirim uang belanjanya setelah harga diberitahukan. Pemuda itu menjawab dengan janji tidak akan menghabiskan bagian Kiana.
Tidak ada apa-apa antara dirinya dan Gian. Itu yang tadi ia katakan, dan ia masih percaya begitu. Tetapi ia tidak menyangka menjelaskan kalimat sesederhana itu akan membuat langkah pulangnya terasa lebih berat daripada saat berangkat.