Kuas Kiana masih menggantung di atas kanvas ketika pintu kamarnya diketuk. Ia meletakkan alat itu pada wadah yang aman sebelum membuka. Hannah berdiri sambil memegang kantong berisi sayuran, rambut pendeknya sedikit menempel di pelipis.
'Kamu ada acara sore ini?'
'Tidak. Kenapa, Kak?'
'Aku masak terlalu banyak. Mau makan di rumahku?'
Kiana langsung mengangguk, lalu menoleh pada meja lukis. 'Mau. Tunggu aku cuci kuas dulu. Kalau dibiarkan begini, besok aku punya kuas yang bentuknya seperti sendok.'
Hannah tersenyum, tetapi tidak masuk lebih jauh. Ia menunggu di dekat tangga sambil menyapa tamu yang lewat. Kiana membereskan cat dengan cepat, memeriksa wadah air agar tidak tersenggol, kemudian mengganti pakaian yang ujung lengannya sudah terkena warna.
Minggu itu ia tidak mendapat giliran klinik. Sejak pagi ia sudah menyelesaikan urusan pakaian dan mengabari tim bila diperlukan, lalu memilih melanjutkan lukisan yang tertunda. Ajakan Hannah membuatnya senang. Belakangan perempuan itu sering tampak sibuk ketika mereka berpapasan, dan Kiana tidak tahu apakah dirinya telah melakukan kesalahan.
Mereka berjalan menuju kompleks kios di persimpangan. Hannah membawa sayuran yang belum dipakai, menolak tawaran Kiana mengangkat semuanya karena kantong tersebut ringan. Kiana akhirnya mengambil satu botol minum yang hampir terlepas dari saku kantong.
'Aku sudah pernah lewat sini,' katanya ketika mereka mendekati deretan bangunan.
'Sering. Rumahku yang nomor tiga.'
Bagian depan kios itu telah diubah menjadi ruang tamu. Tidak ada meja penjualan atau etalase yang membuat Kiana perlu bertanya apakah mereka akan makan di tengah pelanggan. Sebuah sofa kecil menempel ke dinding, berhadapan dengan rak buku dan meja yang permukaannya ditutupi kain sederhana.
'Dulu waktu sarapan bareng, Kakak bilang satu kios diberikan Gian buat tempat tinggal,' kata Kiana sambil melepas alas kaki. 'Ternyata dalamnya luas juga.'
'Tidak terlalu. Tapi cukup kalau tidak semua barang ingin kusimpan.'
Hannah menyisihkan tumpukan kain dari kursi. Kiana melihat beberapa buku kuliah lama di bagian bawah rak, tetapi tidak mengambilnya. Ia hanya bertanya di mana dapat mencuci tangan.
Setelah ditunjukkan, ia mengikuti Hannah ke bagian belakang. Dapur kecil itu sudah hangat oleh masakan. Ada sayur ares yang tinggal dipindahkan ke mangkuk serta lauk yang ditutup tudung.
'Boleh bantu apa?'
'Ambil dua piring dari rak. Yang kecil untuk lauk.'
Kiana menurut. Ketika ia hendak mengambil mangkuk panas dengan tangan kosong, Hannah segera memberikan kain.
'Dokter juga bisa lupa begini, ya?'
'Bisa. Apalagi kalau terlalu senang ada yang masakin.'
Hannah tertawa pendek. Mereka menata makanan di meja dekat jendela. Dari sana terlihat sebagian jalan persimpangan, tetapi suara kendaraan tidak sampai menenggelamkan percakapan. Kiana mencicipi sayur lebih dahulu dan mengangguk dengan sungguh-sungguh.
'Enak. Dulu aku kira rasanya akan aneh karena batang pisang.'
'Sekarang sudah tidak?'
'Sekarang aku ingin tambah.'
Hannah mendorong mangkuk lebih dekat. Untuk beberapa saat mereka berbicara mengenai pasar dan tamu paviliun. Kiana menceritakan hasil tenunnya yang berantakan kemarin, kemudian menunjukkan foto setelah Hannah meminta melihat. Bayu tampak di tepi gambar lain, tersenyum kepada seorang peserta.
Hannah mengembalikan ponsel tanpa menggeser foto lebih jauh.
'Kamu kelihatan senang.'
'Iya. Capek, tapi senang. Jadwalnya juga sudah dibereskan sebelum berangkat, jadi aku tidak kepikiran meninggalkan kerja.'
'Baguslah.'
Kiana menaruh ponsel di tas. Nada Hannah tidak terdengar menyindir, tetapi ia tidak dapat menemukan pertanyaan yang mengikutinya. Perempuan itu justru sibuk memisahkan tulang dari lauk yang sebenarnya sudah habis dimakannya.
'Kak Hannah sedang capek?' tanya Kiana.
Hannah menggeleng, kemudian mengangguk sedikit. 'Mungkin.'
'Kalau mau istirahat, aku bantu bereskan lalu pulang.'
'Jangan dulu. Aku memang ingin ngajak kamu bicara.'
Kiana berhenti mengambil nasi. Ia meletakkan sendok dan menunggu. Hannah menatap piringnya beberapa saat sebelum mengajak menyelesaikan makan lebih dahulu. Kiana tidak mendesak, meskipun ketenangan yang dirasakannya sejak masuk mulai berubah menjadi kehati-hatian.
Mereka membawa piring ke belakang. Kiana mencuci sementara Hannah mengeringkan dan menaruhnya kembali. Dua kali tangan mereka hampir bertabrakan mengambil benda yang sama. Pada kali kedua, Hannah mengalah dengan senyum kecil yang tampak dipaksakan.
Sesudah meja bersih, Hannah menyeduh teh. Ia membawa kedua cangkir ke ruang depan dan memilih duduk di kursi yang menghadap jendela. Kiana duduk di seberang, cukup dekat untuk melihat jari-jari perempuan itu memutar telinga cangkir.
'Kamu ingat aku pernah bilang Gian suka sama aku waktu sekolah?'
Kiana mengangguk pelan. 'Waktu kita sarapan.'
'Aku baru tahu belakangan. Lucu, ya? Orang bisa bersama lama sekali tapi salah membaca banyak hal.'
Kiana tidak menjawab dengan lelucon. Wajah Hannah membuatnya paham bahwa yang sedang dibicarakan bukan kenangan lucu.
'Dulu aku pikir pekerjaan dan rumah ini sudah cukup untuk membuatku tahu aku penting,' lanjut Hannah. 'Aku mengurus paviliun waktu dia kuliah. Ketika dia pulang, ada urusan yang harus dibicarakan. Selalu ada alasan untuk ketemu.'
Ia berhenti untuk minum, tetapi cangkir itu diletakkan lagi tanpa menyentuh bibirnya.
'Aku cinta sama Gian, Kiana.'
Kiana menunduk sebentar. Ia tidak terkejut sepenuhnya, tetapi mendengarnya langsung tetap membuat dadanya terasa sempit.
'Perasaan itu sudah lama. Sejak dia bantu aku waktu keluargaku meninggal, aku makin berharap suatu hari dia melihatku berbeda. Lima belas tahun bekerja bersama, aku terus mencari tanda yang bisa membuatku bertahan menunggu.'
Hannah menatap pintu rumahnya, kemudian tersenyum pahit.
'Sekarang kamu datang. Dia membicarakan Kak Anjani lebih banyak. Kamar yang selama ini sulit dia izinkan untuk tamu jadi tempatmu tinggal. Aku tahu itu pilihannya. Aku tahu kamu tidak meminta untuk menyakitiku.'
'Kak Hannah...'
'Aku tidak ingin membentakmu atau membuatmu tidak nyaman tinggal di sana.' Suaranya mulai bergetar. 'Tapi setiap lihat kalian berangkat bareng, aku susah berhenti memikirkannya.'
Kiana merapatkan kedua tangannya di pangkuan. Hannah akhirnya mengangkat wajah dan menatapnya lurus, dengan mata yang basah.
'Aku mohon, Kiana. Bisa tolong jaga jarak sama Gian? Aku cuma sedang berusaha mempertahankan sesuatu yang sudah lama sekali kutunggu.'