Kiana hampir melewati kantor travel karena lampunya masih lebih redup daripada yang dibayangkannya. Ia berhenti, memeriksa nama di depan bangunan, lalu melihat Bayu mengangkat kedua tangan dari dekat kendaraan.
'Kak! Sini!'
'Kamu tidak perlu memanggil seluruh desa,' balasnya sambil mendekat.
Bayu mengambil satu langkah untuk membantu ranselnya, tetapi Kiana menunjuk barang-barang rombongan yang belum ditata. Ia sanggup membawa miliknya sendiri. Pemuda itu mengangguk dan kembali bekerja, mengarahkan para peserta menyimpan tas agar jalan keluar kendaraan tidak tertutup.
Seorang perempuan berkacamata yang sedang membagikan makanan kecil berhenti ketika melihat Kiana.
'Dokter Kiana yang di Halo, Dokter?'
Kiana menahan napas. Ia belum sempat memutuskan jawaban ketika perempuan itu sudah tersenyum lebar.
'Ibu saya nonton terus. Yang tentang minuman manis itu sampai dibahas di meja makan berhari-hari.'
'Wah. Semoga obrolannya menyenangkan.'
'Menyenangkan buat kami. Ibu saya agak protes karena kami jadi ikut mengingatkan.'
Kiana tertawa. Pertanyaan berikutnya mengenai kapan ia kembali tampil membuatnya sempat menunduk, tetapi ia dapat menjawab bahwa sekarang ia sedang mengikuti program relawan di Sembalun. Perempuan itu mengangguk, kemudian memberikan satu bungkusan makanan tanpa meminta penjelasan tambahan.
Bayu menyenggol lengannya pelan ketika mereka berdiri menunggu pengarahan.
'Banyak yang senang ketemu Kakak.'
Kiana menatap bungkusan di tangannya. 'Iya. Aku dengar.'
Ia tidak memerlukan Bayu mengulangnya sebagai pembelaan. Sambutan yang barusan diterimanya sudah cukup nyata untuk membuat bahunya terasa lebih ringan.
Setelah seluruh peserta hadir, pengelola memperkenalkan pembagian pendamping. Kiana menyebut dirinya dapat didekati bila ada keluhan, termasuk bila seseorang ingin berhenti. Ia tidak meminta semua orang membuktikan ketangguhan di hadapannya. Bayu lalu mengambil alih penjelasan kegiatan, kali ini dengan suara yang cukup jelas tanpa membuat Kiana harus menutup telinga.
***
Senter-senter bergerak beriringan saat mereka mulai berjalan. Kiana berada di bagian belakang bersama pendamping yang bertugas memastikan rombongan tidak terpisah. Tanah di beberapa bagian membuat langkahnya perlu lebih hati-hati. Ia memeriksa pijakan sebelum memindahkan berat tubuh, mengingat perjalanan pertamanya yang berakhir dengan kaki terkilir.
Di depan, Bayu menjawab pertanyaan peserta sambil sesekali memeriksa bagian belakang. Ketika ia melihat Kiana mengangkat tangan, ia segera menghentikan kelompok di tempat yang memungkinkan mereka beristirahat.
Seorang bapak duduk dengan napas yang belum teratur. Ia mencoba tertawa, mengatakan dirinya terlalu lama duduk di kantor. Kiana berjongkok di dekatnya dan bertanya tentang keluhannya tanpa membuat peserta lain mengerumuni.
'Saya tunggu sampai lebih enak, Dok. Yang lain jalan dulu aja.'
'Kita bicarakan dengan pendampingnya. Tidak perlu buru-buru supaya orang lain tidak menunggu.'
Kiana memeriksanya dan meminta waktu istirahat. Bayu mengajak peserta lain minum serta memeriksa barang, membiarkan pemeriksaan berlangsung dengan ruang yang cukup. Setelah kondisinya dinilai, bapak itu memilih kembali bersama pendamping yang telah disiapkan. Ia tidak disuruh mengikuti kelompok hanya karena sudah terlanjur berangkat.
'Foto mataharinya kirim ke saya, ya,' pesannya kepada teman-teman.
'Foto sarapan Bapak juga kirim,' jawab seorang rekan. 'Biar kami punya alasan turun cepat.'
Tawa pendek mengurangi rasa sungkan di wajah lelaki itu. Kiana memastikan pengaturan kepulangannya jelas sebelum kelompok melanjutkan.
Beberapa saat kemudian seorang peserta lain tergores ketika terpeleset. Penanganannya tidak lama, tetapi rombongan kembali menunggu. Bayu membagi perhatian tanpa mengeluh bahwa jadwal mereka berubah. Kiana melihatnya merapikan tempat duduk untuk perempuan tersebut, kemudian menanyakan apakah ia ingin meneruskan.
Ketika akhirnya sampai di tempat beristirahat, warna langit sudah berubah. Garis terang perlahan muncul di balik bentangan perbukitan. Rombongan yang semula sibuk berbicara mulai diam dengan sendirinya.
Kiana melepas ransel dan berdiri sambil mengatur napas. Petak-petak ladang terlihat semakin jelas. Udara dingin menyentuh pipinya, dan untuk beberapa saat ia tidak memikirkan ruangan rumah sakit, artikel, ataupun cincin yang dilepaskan Gala.
'Cantik, kan?' tanya Bayu di sampingnya.
Kiana mengangguk. 'Cantik banget.'
'Dulu Ibu suka ngajak aku lihat pagi. Katanya kalau hari sebelumnya jelek, bukan berarti besoknya ikut jelek.'
Kiana menoleh. Rambut Bayu terangkat angin, sementara ujung hidungnya memerah. Ia sedang menatap pemandangan dengan kesungguhan yang sama seperti saat melindungi peserta agar tidak merasa dipermalukan tadi.
'Kamu masih ingat semua nasihat Ibu?'
'Yang tidak ingat biasanya diulang.'
Kiana tertawa. Ia duduk di batu yang sudah diperiksanya, mengambil buku sketsa sementara Bayu dipanggil membantu foto. Di halaman kosong ia menggambar garis bukit, bidang kabut, kemudian sosok yang sedang membungkuk memegang ponsel orang lain.
Belum ada wajah pada sosok itu. Namun Kiana tahu siapa yang sedang ingin digambarnya.
Ketika Bayu mendekat lagi, ia menutup buku terlalu cepat.
'Gambar apa?'
'Pemandangan.'
'Boleh lihat?'
'Belum.'
Bayu mengangkat kedua telapak tangan, lalu menawarkan makanan yang dibawa sejak pagi. Kiana menerimanya sambil menyembunyikan senyum.
***
Kunjungan ke Desa Adat Beleq dilakukan setelah mereka turun dan beristirahat. Pengaturan rombongan diperiksa kembali; bapak yang pulang lebih dahulu sudah mengabari tiba dengan pendamping. Barulah Bayu kembali bercerita dengan nada riangnya.
Kiana paling lama berhenti ketika seorang perempuan tua menunjukkan pekerjaan tenun. Ia meminta izin mencoba, lalu segera mengetahui bahwa keterampilan tangannya di ruang operasi tidak membuat benangnya otomatis patuh.
'Jahitan saya biasanya lebih rapi,' keluhnya.
Bayu tertawa sampai perempuan yang membimbing Kiana ikut tersenyum. Ia mengangkat ponsel, tetapi meminta izin sebelum mengambil gambar. Kiana setuju dengan syarat hasilnya tidak dipakai untuk menilai kemampuannya sebagai dokter.
Sore hari, di kantor travel, mereka menyerahkan kembali perlengkapan pinjaman dan melaporkan kebutuhan selama perjalanan. Pengelola menyelesaikan honor pendampingan setelah mencocokkan pekerjaan yang disepakati. Kiana memeriksa penerimaannya, kemudian memasukkan bukti pembayaran ke dalam catatannya.
'Clorot?' tanya Bayu begitu mereka keluar.
'Besok. Aku ingin mandi dulu.'
Bayu mengantarnya sampai paviliun dengan kendaraan yang disepakati. Ketika turun, Kiana masih merasakan pegal di kakinya. Namun ranselnya membawa satu halaman baru dan ponselnya menyimpan foto dirinya tertawa dengan benang kusut di tangan.
Malam itu ia membuka sketsanya sekali lagi. Di bawah garis bukit yang belum rapi, sosok tanpa wajah itu masih memegang ponsel. Kiana mengambil pensil, menambahkan lengkung senyumnya, lalu berhenti dengan pipi yang terasa hangat.