Bayu mendekati meja istirahat ketika Kiana sedang berusaha melepaskan clorot dari bungkusnya. Ujung yang ditarik perempuan itu justru membuat jajanan tersebut tertekan, dan Bayu spontan mengulurkan tangan sebelum menyadari siapa yang sedang diperhatikannya.
'Boleh aku tunjukin?'
Kiana menyerahkan clorot itu. 'Silakan. Sebelum aku dinyatakan tidak berbakat membuka makanan.'
Bayu menunjukkan arah mendorong isinya. Begitu Kiana berhasil mencicipi, ia tersenyum puas seolah baru menyelesaikan tugas yang sangat penting.
'Kamu ke sini cuma buat itu?' tanya Kiana.
'Enggak. Tapi kalau langsung ngomong, nanti Kakak sibuk berkelahi sama bungkus.'
Ia menarik kursi di seberang, lalu meletakkan ponsel dengan layar menghadap Kiana. Ada pesan dari pengelola Travel Sembalun Arga mengenai rombongan pegawai kantor konsultan. Dua belas orang, Sabtu pagi, dengan rencana naik Bukit Pergasingan dan mengunjungi Desa Adat Beleq setelah turun.
'Pemandu satunya sakit,' kata Bayu. 'Pengelola sudah cari pengganti buat bagian pandu. Mereka juga tanya apa ada yang bisa bantu pendampingan kesehatan. Aku kepikiran Kakak.'
'Kamu tidak mengusulkan satu dokter untuk menggantikan satu pemandu, kan?'
'Enggak. Aku tetap pegang kelompok sesuai bagianku. Jalur dan peserta tetap tanggung jawab tim travel. Kakak enggak disuruh menjelaskan setiap pohon yang kita lewati.'
Kiana tertawa. Ia mengambil ponsel setelah Bayu mempersilakannya, membaca pesan itu lebih teliti. Di bagian bawah terdapat rencana berangkat sebelum subuh serta kontak pengelola yang akan menjelaskan kebutuhan rombongan.
'Bagaimana sif kamu Sabtu?'
Bayu menunjuk meja Dokter Ali di sudut ruangan. 'Aku baru mau ajukan tukar. Belum berani bilang jadi ke pengelola.'
Dokter Ali yang sejak tadi mendengar percakapan mereka mengangkat kepala. 'Bagus. Jangan menerima pekerjaan lain dulu baru minta orang menutupi jadwalmu.'
'Siap, Dok.'
Bayu mendekat membawa lembar jadwal, bukan hanya menjanjikan akan membereskan nanti. Giliran Sabtunya bertabrakan dengan rencana perjalanan. Ia menawarkan mengambil giliran pengganti yang masih kosong setelah kegiatan tersebut, tetapi Ali meminta ia duduk dan memeriksa semuanya bersama. Satu pertukaran tidak boleh membuat dua dokter justru kelelahan pada hari berikutnya.
Kiana tetap di kursinya sampai Ali memanggil. Ia meletakkan makanan yang tersisa, lalu membawa buku catatan kecil.
'Kalau Dokter Kiana ikut, saya perlu pastikan tugas klinik hari itu dulu,' kata Ali.
'Saya belum menerima, Dok.'
'Saya tahu. Kita cocokkan sekarang.'
Mereka melihat jadwal yang sudah ada. Ali bersedia menangani bagian pelayanan yang semula akan dibantu Kiana, dengan pembagian tim lain yang tetap bertugas. Bayu mendapat pertukaran giliran setelah rekan yang bersangkutan dimintai kesediaan dan datang menyatakan setuju. Ali mencatat perubahan itu di tempat yang dapat dilihat tim, kemudian mengajak Kiana menemui Bu Dyah.
Kepala klinik tidak langsung menyetujui hanya karena perjalanan itu terdengar menyenangkan. Ia menanyakan jam keberangkatan, perkiraan kembali, dan apakah pengelola berharap Kiana membawa persediaan klinik tanpa penggantian.
'Jangan sampai barang untuk pasien di sini berkurang karena outing orang lain,' katanya.
Kiana mengangguk. 'Saya akan minta mereka menyiapkan kebutuhan sendiri. Kalau ada perlengkapan yang dipinjam, harus jelas apa dan kapan dikembalikan.'
Bu Dyah memeriksa susunan pengganti yang dibawa Ali. Sesudah memastikan pelayanan tetap berjalan, ia menyetujui ketidakhadiran Kiana pada jadwal tersebut. Bayu juga diminta memberikan nomor pengelola agar klinik dapat menghubungi mereka bila ada perubahan yang benar-benar mendesak.
Di luar ruangan, Bayu mengembuskan napas panjang.
'Kamu pikir bakal dimarahi?' tanya Kiana.
'Aku pikir bakal salah baca hari.'
'Itu juga bisa membuat orang marah.'
Bayu menepuk lembar jadwalnya sendiri. 'Makanya aku baca tiga kali.'
Mereka kembali bekerja sebelum menelepon pengelola pada waktu istirahat berikutnya. Kiana mendengarkan penjelasan tentang rombongan, lalu menanyakan apakah peserta sudah diberi tahu mengenai kesulitan kegiatan dan pilihan untuk tidak melanjutkan. Ia menolak janji bahwa setiap orang pasti akan sampai ke tempat tujuan hanya karena ada dokter.
'Saya bisa membantu menilai kondisi dan menangani kebutuhan dalam batas yang memungkinkan. Kalau seseorang perlu berhenti atau dirujuk, rencana jalan-jalannya harus bisa berubah,' katanya.
Pengelola menyetujui. Bayu yang berada di sampingnya ikut mencatat orang yang akan membantu peserta turun bila diperlukan. Untuk pertama kalinya siang itu, wajahnya tidak berisi godaan. Ia mendengarkan sampai pembicaraan mengenai tanggung jawab selesai.
Barulah pengelola menyebut honor pendampingan. Kiana sempat ingin menolak, tetapi orang itu menjelaskan bahwa ada waktu dan pekerjaan yang mereka minta darinya. Mereka menyepakati honor dibayarkan setelah kegiatan Sabtu selesai, melalui pengelola, beserta penyelesaian peminjaman perlengkapan.
Bayu menunggu sampai panggilan ditutup sebelum bertanya, 'Jadi Kakak ikut?'
'Jadi. Kalau tidak ada perubahan keadaan sebelum Sabtu.'
Senyum pemuda itu melebar. Tangannya terangkat, hampir bersorak, lalu berhenti ketika Ali berjalan melewati pintu.
'Tidak ada yang perlu melompat,' kata dokter itu tanpa menghentikan langkah.
Bayu menurunkan tangan. Kiana tertawa sampai harus menutupi mulutnya.
***
Sepulang kerja, Kiana meletakkan perlengkapan yang akan dibawanya di atas tempat tidur. Ia memilih ransel yang nyaman, memeriksa senter, lalu menyisihkan pakaian hangat. Ponselnya bergetar saat Bayu mengirim daftar singkat dari pengelola, termasuk jam berkumpul dan barang yang sudah disiapkan travel.
Ia membaca bagian terakhir dua kali.
Bayu mengingatkan agar ia tidur lebih awal pada Jumat malam. Tidak ada tambahan tugas yang diam-diam dibebankan kepadanya, juga tidak ada kalimat yang menuntutnya harus tampak ceria sepanjang perjalanan.
Kiana membalas bahwa ia akan datang tepat waktu. Ia lalu mencoba memasukkan botol minum ke kantong samping. Ia memiringkan ransel untuk memastikan botol itu tidak mudah terlepas. Tutupnya dikencangkan lagi sebelum ia menaruh barang lain. Ia tidak ingin pakaian hangatnya basah hanya karena terlalu bersemangat menerima ajakan Bayu.
Dari meja dekat jendela, buku sketsanya terlihat di bawah kuas yang sedang dikeringkan. Ia mengambilnya dan membuka halaman kosong. Mungkin ada waktu untuk menggambar ketika peserta beristirahat. Ia memasukkan buku itu ke bagian ransel yang kering, kemudian tersenyum sendiri ketika Bayu mengirim pesan berikutnya.
'Kalau honornya sudah masuk, aku boleh ditraktir?'
'Boleh. Bungkus clorot. Kamu yang buka.'
Balasan berupa tawa panjang muncul hampir seketika. Kiana meletakkan ponsel sambil menggeleng, lalu kembali memeriksa barangnya dengan perasaan yang jauh lebih ringan.