Gian baru menutup pintu rumah ketika mendengar suara Kiana dari serambi lantai dua. Ia berhenti di sisi bangku dekat pohon, bukan karena namanya dipanggil. Ada getaran dalam suara perempuan itu yang membuat tangannya tertahan pada sandaran kayu.
Ayah. Rumah sakit jiwa.
Dua bagian kalimat itu sampai kepadanya dengan jelas. Sesudahnya, gesekan daun dan bunyi kendaraan dari jalan bercampur dengan suara Bayu. Gian tidak menangkap seluruh jawaban pemuda itu. Ia membenarkan letak peredam di telinga kiri, lalu duduk menghadap halaman.
Di atas sana, lampu serambi menerangi ujung kanvas yang belum selesai. Dua orang duduk cukup dekat di bangku. Bayu menunduk mendengarkan, sementara Kiana memegangi sesuatu di pangkuan. Ketika perempuan itu mengangkat tangan ke wajah, Bayu mengulurkan tangannya. Gian melihat Kiana menerima uluran tersebut.
Ia mengalihkan pandang sebelum merasa berhak mengetahui kelanjutannya.
Sejak kunjungan ke makam, ia tahu ada bagian kehidupan Kiana yang masih sulit dibicarakan. Namun mengetahui seseorang sedang bersedih berbeda dengan mengetahui penyebab seluruh kesedihannya. Gian tidak dapat menyusun kehidupan perempuan itu hanya dari beberapa kata yang kebetulan terdengar malam ini.
Ia mengusap wajah. Udara terasa dingin, tetapi lehernya justru hangat.
Sebuah cangkir diletakkan di ujung bangku.
'Belum tidur?' tanya Hannah.
Gian menoleh. Perempuan itu membawa satu cangkir lagi di tangan kirinya. Pintu kafe sudah tertutup, tetapi lampu dekat meja penerima tamu masih menyala.
'Belum. Kamu masih beres-beres?'
'Tinggal periksa pintu belakang. Tadi ada tamu minta air panas, jadi aku tunggu sebentar.'
Hannah duduk di sisi bangku yang kosong. Gian mengambil cangkir yang dibawanya dan mengangguk sebagai ucapan terima kasih. Tehnya belum dapat langsung diminum. Ia meniup permukaannya, kemudian meletakkannya kembali.
'Jangan ditinggal di sini sampai pagi,' kata Hannah. 'Kemarin aku hampir menyiram tanaman pakai sisa kopi kamu.'
'Kenapa kopiku masuk penyiram?'
'Karena gelasnya kamu taruh di samping penyiram.'
'Berarti bukan salah kopi.'
Hannah mendengus. Gian sempat tersenyum, tetapi senyum itu cepat hilang ketika suara tawa kecil terdengar dari lantai atas. Bukan tawa riang yang biasa mengiringi Bayu. Lebih pendek, tersendat, seperti seseorang baru berhasil menarik napas setelah lama menahannya.
Hannah ikut mendongak. Ia melihat tangan yang masih bertaut sebelum Kiana meraihnya kembali untuk mengusap pipi.
'Mereka dekat, ya,' ucapnya.
Gian mengangkat cangkir. 'Kelihatannya.'
'Bayu biasanya juga ramai sama siapa saja. Tapi kalau sama Kiana, dia beda.'
'Kamu mau menyuruhku memeriksa semua tamu yang dekat dengan Bayu?'
Hannah memutar mata. 'Aku cuma ngomong.'
Gian tidak meneruskan godaan itu. Ia menyesap teh, terlalu cepat, lalu menjauhkan cangkir dari mulut. Hannah menyodorkan tisu ketika sedikit air menetes di jarinya.
'Panas, kan? Dari tadi juga masih berasap.'
'Aku tahu.'
'Kelihatannya tidak.'
Mereka diam. Di jalan, sebuah motor lewat dengan suara yang membuat Gian mengatupkan rahang. Ia menunggu bunyinya menjauh tanpa membuka peredam. Hannah melihat gerakan itu, tetapi tidak mengulurkan tangan atau mengajukan pertanyaan yang sudah diketahuinya tidak akan dijawab malam ini.
Gian mengubah posisi duduk. Dari tempatnya sekarang, ia masih dapat melihat lukisan Kiana tanpa terus melihat bangkunya. Bagian langit tampak lebih terang daripada beberapa hari sebelumnya. Garis perbukitan belum semuanya terisi, tetapi warna yang disapukan sudah membuat bidang kosong di bawahnya terasa menunggu sesuatu.
'Kamu lihat lukisannya?' tanya Hannah.
'Uhm.'
'Bagus, ya?'
Gian memandang kanvas itu lebih lama. 'Langitnya mengingatkanku pada Kak Anjani.'
Hannah mengikuti arah matanya. 'Warnanya?'
'Cara membiarkan bagian terangnya tetap ada. Tidak semua ditutup.'
Ia berhenti di situ. Hannah tahu ia tidak sedang mengatakan kedua perempuan itu sama. Kakaknya memiliki kebiasaan sendiri, dan Kiana pun sedang mengerjakan sesuatu yang belum tentu akan berakhir seperti lukisan siapa pun. Namun mendengar Gian menyebut nama Anjani tanpa kemarahan membuat Hannah menoleh lagi.
'Kamu sudah bilang begitu sama Kiana?'
'Belum.'
'Kenapa?'
Gian mengedikkan bahu. 'Belum ada waktunya.'
Dari atas terdengar Bayu mengatakan sesuatu yang tidak jelas. Kiana menjawab lebih pelan. Hannah memperhatikan wajah Gian yang kembali menegang, kemudian menunduk ke cangkirnya sendiri.
'Gian, kalau kamu ingin ngobrol sama orang, kamu bisa mulai tanpa menunggu urusan penting.'
Gian menatapnya. 'Kamu sedang mengajakku ngobrol atau menegurku?'
'Bisa dua-duanya.'
Jawaban itu membuatnya mengembuskan napas lewat hidung. Ia tidak marah. Hannah sudah terlalu sering melihat dirinya berdiri di dekat pintu percakapan lalu memilih pergi sebelum masuk. Akan tetapi malam ini ia tidak ingin membuat Kiana harus menjelaskan sesuatu kepadanya hanya karena ia merasa tertinggal.
'Bayu sedang mendengarkan,' katanya akhirnya.
Hannah tidak langsung membalas. Ia menaruh cangkir kosong di lantai, lalu merapatkan sweternya. 'Aku juga sedang mendengarkan.'
Gian menoleh, kali ini lebih lama. Wajah Hannah tenang, tetapi kedua tangannya saling meremas di pangkuan. Ia baru menyadari betapa sering perempuan itu menunggu kalimat berikutnya dari dirinya, bahkan ketika tidak ada kalimat yang pernah ia janjikan.
'Makasih tehnya, Han.'
Hannah mengangguk. Senyumnya muncul sebentar sebelum ia berdiri.
'Besok aku datang sesudah belanja,' katanya. 'Kalau ada tamu keluar lebih pagi, daftar kuncinya di meja.'
'Aku periksa sebelum berangkat.'
Hannah memastikan ia mendengar jawaban itu, kemudian menyingkirkan kakinya agar Gian dapat berdiri.
Gian ikut bangkit dan mengambil kedua cangkir. Mereka masuk ke kafe lewat pintu samping untuk meletakkannya di bak cuci. Hannah memeriksa kait pintu belakang, sedangkan Gian mematikan lampu dekat meja yang sudah tidak dipakai. Ketika Hannah hendak mengambil kunci motornya, seorang tamu turun meminta tambahan selimut. Gian mengambilkan dari lemari persediaan yang ditunjuk Hannah dan menyerahkannya, membiarkan perempuan itu menyelesaikan catatan pemakaian.
Setelah tamu kembali ke atas, Hannah mengenakan helm. Gian menunggu sampai motornya keluar halaman, kemudian berjalan menuju rumahnya sendiri.
Di tengah halaman ia sempat melihat ke serambi. Bayu masih berada di sana. Kiana sedang berbicara lagi, dan kali ini wajahnya tidak seluruhnya tersembunyi di balik rambut.
Gian memasukkan tangan ke saku. Ia tidak mendengar kata-katanya dari tempat itu, juga tidak berusaha mendekat. Besok ada patroli pagi. Malam ini, setidaknya, seseorang yang dipercaya Kiana sedang duduk dan mendengarkannya.