'Waktu Ayah mulai dirawat, Kakak tinggal dengan siapa?' tanya Bayu.
Kiana mengusap sisi gelas dengan ujung ibu jari. Pertanyaan itu tidak membuatnya terkejut. Ia sendiri yang telah membuka pintu cerita dan masih ingin melanjutkan.
'Ada keluarga yang mengurus kebutuhanku. Lalu aku masuk SMA berasrama, kuliah tinggal kos. Koas, residen, semua sering berpindah sesuai pekerjaan. Sekarang apartemen.'
'Jadi jarang punya waktu di rumah?'
'Kadang aku bahkan tidak tahu yang kusebut rumah itu tempat yang mana.'
Ia tersenyum sedikit, tidak mengharapkan Bayu menjawab dengan tawaran yang terlalu besar. Pemuda itu justru menunduk, memikirkan ruang tengah yang dipenuhi fotonya sendiri. Ia baru mengerti bahwa kebiasaan ibu menanyakan jam pulang dapat terasa sangat berbeda bagi seseorang yang tidak selalu mempunyai orang untuk dituju.
'Aku memilih kedokteran karena ingin mengerti banyak hal,' lanjut Kiana. 'Termasuk keadaan Ayah. Tapi menjadi dokter tidak membuatku bisa membereskan semua hal di rumah.'
Bayu mengangguk. Mereka sama-sama tahu jas putih bukan jaminan dapat menjawab setiap pertanyaan keluarga.
'Kadang pekerjaan di ruang operasi lebih mudah kupahami. Ada tugas yang jelas, ada tim, ada yang bisa kulakukan dengan kedua tangan. Kalau soal Ayah, aku masih bisa merasa seperti anak kecil yang menunggu pintu dibuka.'
Kiana berhenti sebelum menyebut kalimat itu terlalu menyedihkan. Ia sudah cukup sering menghakimi diri sendiri lebih dahulu agar orang lain tidak sempat melakukannya.
Bayu bertanya apakah Gala mengetahui keadaan tersebut.
'Tahu. Ayah masih dirawat di rumah sakit jiwa. Gala tahu itu sejak kami bersama, tapi tidak pernah mau menemuinya.'
'Kenapa?'
'Katanya tidak nyaman. Aku tidak memaksa, berharap suatu hari dia mau sendiri.'
Kiana memandang langit yang tersisa di antara atap. Ia teringat lift, Gala yang menyebut kondisi ayah sebagai alasan tidak dapat menjelaskan pembatalan pernikahan, dan dirinya yang terlalu marah untuk menunjukkan betapa kalimat itu melukai.
'Waktu putus, dia bertanya bagaimana harus bicara kepada ayahku yang seperti itu. Rasanya... seolah hal yang paling lama kutakuti ternyata boleh dipakai untuk menutup percakapan.'
Bayu menaruh gelas di meja. Jemarinya sempat mengepal di atas lutut, lalu terbuka lagi. Ia tidak mengucapkan ancaman kepada orang yang tidak berada di sana. Kiana tidak membutuhkan pertengkaran lain malam ini.
'Aku marah,' katanya jujur.
'Aku juga,' jawab Kiana. 'Tapi aku capek kalau setiap cerita akhirnya hanya membuatku marah kepada dia.'
Bayu mengangguk dan menunggu.
Kiana melihat kanvas. Beberapa bagian warnanya tidak rata, satu garis belum selesai, tetapi gambar tersebut sudah dapat dilihat orang lain tanpa ia merasa perlu segera menutupnya.
'Waktu dapat acara Halo Dokter, aku senang sekali,' katanya. 'Bukan cuma karena orang mengenali. Ada yang bilang penjelasanku membantu mereka, ada yang menunggu acaranya setiap minggu.'
Ia tertawa pelan, kemudian menyeka pipi.
'Aku merasa dilihat. Pekerjaanku dilihat, suaraku didengar. Mungkin itu sebabnya waktu acaranya dihentikan gara-gara berita, rasanya lebih besar daripada kehilangan jadwal syuting.'
'Itu hasil kerja Kakak,' kata Bayu. 'Wajar kalau berarti banyak.'
'Aku masih bekerja di rumah sakit. Aku tahu harus bersyukur. Tapi kadang orang mengatakan itu seperti aku tidak boleh sedih tentang bagian yang hilang.'
Bayu menggeleng. Ia tidak menambahkan daftar tentang hal-hal yang seharusnya membuat Kiana merasa beruntung.
Kiana menaruh kedua tangan pada pangkuan. Bahunya bergetar sesaat, dan kali ini ia tidak buru-buru meminta maaf karena menangis di depan tamu.
Bayu menggeser tangannya ke sisi bangku, telapak menghadap ke atas. Ia tidak langsung menarik tangan Kiana.
'Kalau Kakak mau,' katanya pelan.
Kiana melihatnya. Ia mengingat genggaman singkat di jalan menuju tempat melihat bintang, kecanggungan yang membuat mereka tertawa setelahnya. Malam ini tidak ada langkah licin yang harus dilewati.
Ia tetap memilih mengulurkan tangan.
Bayu menutup jemarinya perlahan. Kiana merasakan hangat yang cukup sederhana untuk diterima tanpa harus langsung menjelaskan artinya. Ia menatap wajah pemuda itu dan melihat matanya juga basah.
'Kamu ikut menangis?'
Bayu mengusap pipi dengan tangan yang bebas. 'Kelihatannya iya.'
'Padahal aku yang cerita.'
'Aku tidak berhasil mempertahankan reputasi ceria.'
Kiana tertawa di sela napasnya yang belum teratur. Bayu ikut tersenyum, membuat keduanya tampak sedikit konyol di bangku yang dikelilingi perlengkapan melukis.
'Makasih sudah dengar,' kata Kiana.
'Makasih sudah mau cerita.'
Mereka diam sampai suara dari lorong lain kembali terasa dekat. Kiana tidak tahu berapa lama berlalu. Ia hanya tahu dirinya tidak lagi sibuk menghitung kalimat yang perlu dipotong agar tidak menjadi beban.
'Kalau nanti ada lukisan baru, aku mau lihat,' kata Bayu. 'Tidak perlu nunggu selesai sempurna.'
'Kalau jelek?'
'Aku bisa bilang bagian mana yang kusuka. Jangan langsung suruh memberi nilai.'
Kiana tersenyum. 'Kamu ternyata takut juga.'
'Takut salah ngomong di depan pelukisnya.'
Ia tidak menjanjikan akan selalu memahami setiap hal. Namun tatapannya masih tertuju pada Kiana ketika mengatakan dirinya senang telah diajak melihat sesuatu yang selama ini disimpan sendiri.
Bayu teringat hari ketika ia menjemput Kiana di bandara. Ia belum mengetahui nama di berita, belum mengetahui profesi perempuan itu, apalagi keadaan ayahnya. Waktu itu ia hanya gugup karena senyum seseorang yang masuk ke mobil dan mengingatkan agar segera berangkat.
Sekarang ada jauh lebih banyak hal yang diketahuinya. Kekaguman itu tidak mendadak berubah menjadi satu perasaan yang mudah diberi jawaban. Ia masih menyukai tawanya, masih ingin datang membawa makanan dan melihatnya membuat sesuatu. Ia juga baru memahami betapa hati-hati dirinya perlu bersikap terhadap harapan yang mungkin tumbuh di antara mereka.
Kiana merasakan debar yang tidak dapat disalahkan pada udara dingin. Ada rasa ingin tinggal lebih lama pada percakapan dan genggaman itu, meskipun ia belum berani memberi nama.
Ia melepaskan tangan untuk mengambil tisu. Bayu membiarkan, kemudian membantu menggeser gelas agar lengannya tidak menyenggol. Sesudah mengusap mata, Kiana kembali duduk lebih tenang dan membiarkan malam berlanjut tanpa harus segera mengubahnya menjadi janji.