Rabu malam, Kiana masih berdiri di depan kanvas ketika pesan Bayu masuk. Ia baru menambahkan warna pada sebagian lereng, lalu berhenti karena merasa semakin banyak diperbaiki justru semakin jauh dari yang diinginkan.
Sudah selesai kerja, Kak. Boleh mampir sekarang?
Kiana meletakkan kuas. Ia melihat wadah air bilasan kuas di samping kursi dan menyadari belum minum sejak pulang. Ia membalas boleh, kemudian membersihkan tangan sebelum turun mengisi botol minumnya.
Bayu datang membawa dua gelas wedang dari warung. Ia tidak membawa makanan sebanyak kemarin karena Kiana sudah mengatakan dirinya selesai makan. Saat bertemu di bawah, ia mengangkat kedua gelas seperti memperlihatkan bahwa kali ini tidak ada benda rahasia.
'Biar yang satu tidak iri,' katanya.
Kiana tertawa dan membantu membawa satu gelas ke atas. Mereka duduk di bangku serambi setelah meja kecil dibereskan dari botol cat. Kanvas tetap terlihat di sisi yang mendapat cahaya lampu kamar.
'Bertambah,' komentar Bayu.
'Lerengnya belum mau jadi.'
'Mungkin sedang menunggu pemiliknya tidak terlalu galak.'
Kiana menoleh, lalu tertawa. 'Kanvasnya aku marahi kalau tidak seperti bayangan.'
'Nah, ketahuan.'
Bayu tidak menyentuh lukisan. Ia melihat dari tempat duduknya dan membiarkan Kiana mengeluhkan satu bagian yang harus dicoba lagi. Tidak lama kemudian pembicaraan beralih kepada hujan singkat sore tadi dan seorang tamu paviliun yang salah memasuki lorong.
Malam berjalan lebih tenang daripada yang direncanakan Kiana. Tidak ada sesuatu yang harus dilakukan agar waktu mereka bersama terasa berarti. Bayu juga dapat diam tanpa membuatnya merasa perlu segera mengisi.
Kiana mengangkat gelas, menghirup aroma hangat dan kembali memandang kanvas.
'Bay,' panggilnya.
'Uhm?'
'Kemarin sore kamu nanya kenapa aku berhenti melukis.'
Bayu menurunkan gelas. Ia tidak langsung mengatakan masih ingin tahu. Ia menunggu sampai Kiana melanjutkan sendiri.
'Aku mau cerita sedikit. Tapi mungkin tidak enak didengar.'
'Kalau Kakak mau cerita, aku dengar.'
Kiana tersenyum tipis, lalu menekankan kedua telapak tangan pada gelas. Panasnya sudah tidak terlalu kuat, tetapi cukup membuat ia menyadari tempatnya berada sekarang.
'Kamu sudah tahu Ibu meninggal waktu aku tujuh tahun.'
Bayu mengangguk.
'Setelah itu, Ayah berubah. Dia lebih sering di kamar. Waktu aku pulang sekolah, kadang rumah masih sama gelapnya seperti pagi.'
Ia berhenti untuk menelan sesuatu yang terasa menghalangi tenggorokan.
'Aku pikir dia marah kepadaku. Aku pikir karena aku pernah marah waktu Ibu pergi ke Lombok. Anak kecil bisa menyambungkan hal-hal yang sebenarnya tidak berhubungan.'
Bayu memandangnya, tidak menyela dengan penjelasan tentang apa yang seharusnya dipikirkan anak tujuh tahun.
'Ayah sering menangis kalau melihatku. Katanya aku mirip Ibu. Waktu itu aku tidak tahu harus senang atau takut mendengar kalimat itu.'
Kiana mengusap bagian luar gelas. Ada air dari tangannya yang belum benar-benar kering membentuk bekas pada permukaan.
'Ada tante yang datang membantu. Bawakan makanan, urus tagihan, lihat keadaan kami. Tapi beliau punya hidup sendiri. Aku ingat menunggu suara kendaraan setiap kali rasanya rumah terlalu sepi.'
Ia berusaha tersenyum. Bayu tidak membalas dengan senyum yang dipaksakan.
'Aku melukis. Awalnya karena itu yang biasa kulakukan bersama Ibu. Kemudian aku taruh gambar di depan pintu kamar Ayah.'
'Dia melihat?'
Kiana menggeleng.
'Aku tidak tahu semuanya dibaca atau dilihat apa tidak. Yang aku ingat, gambar-gambarnya tetap di sana. Aku tambah lagi, berharap yang berikutnya membuat dia keluar.'
Langit dengan warna terlalu cerah. Rumah dengan jendela besar. Seorang ibu yang digambar lebih tinggi daripada seluruh benda lain. Kiana tidak perlu menguraikan semuanya kepada Bayu untuk kembali melihat kertas-kertas itu di kepalanya.
'Aku akhirnya berhenti menaruh gambar. Rasanya malu sekali terus berharap pada sesuatu yang tidak terjadi.'
Bayu mengeratkan kedua tangan. Ia pernah melihat Kiana menghadapi pasien yang marah tanpa kehilangan suara lembutnya. Sulit membayangkan anak di balik perempuan itu berdiri di depan pintu dan tidak mendapat jawaban.
Kiana menarik napas, lalu menjelaskan bahwa keadaan ayah memburuk beberapa tahun kemudian. Ada malam ketika ia berteriak memanggil nama ibu, ada barang yang pecah dan orang dewasa yang akhirnya menyadari mereka memerlukan pertolongan lebih banyak.
'Waktu aku SMP, Tante membawa Ayah ke rumah sakit jiwa. Depresi berat, begitu penjelasan yang kuterima dari keluarga dan dokter.'
Bayu tidak bergerak mengambil ponsel atau menawarkan mencari diagnosis lain. Ia hanya bertanya apakah ayah masih dirawat di sana.
'Pengobatan dan perawatannya masih berjalan sampai sekarang,' jawab Kiana. 'Sudah hampir dua puluh tahun. Aku tidak punya cara singkat untuk menjelaskan semuanya.'
'Nggak perlu singkat, Kak.'
Kalimat itu membuat Kiana menunduk cukup lama. Selama ini ia terbiasa memilih bagian yang paling mudah disampaikan, lalu menutup sisanya sebelum orang lain sempat merasa tidak nyaman.
'Aku sempat mencoba melukis lagi waktu kuliah,' katanya. 'Itu yang kuceritakan kemarin. Tapi setelahnya pekerjaan dan banyak hal membuatku berhenti lagi. Mungkin ada bagian diriku yang masih takut tidak dilihat.'
Bayu mengangguk. Sekarang ia dapat memahami bahwa cerita tentang satu orang asing bukan sekadar keluhan karena lukisan sepi pengunjung.
Bayu sempat bertanya apakah dirinya terlalu banyak bercanda selama ini. Kiana mengangkat wajah, terkejut karena ia justru memikirkan hal tersebut.
'Aku tertawa karena lucu, Bay. Bukan karena kamu memaksaku lupa.'
Bayu mengangguk, meskipun matanya masih tampak ragu.
'Aku juga tidak ingin kamu melihatku seperti orang yang selalu sedang sedih. Tadi di klinik aku senang waktu pasien membaik. Di rumah ibumu aku benar-benar senang. Semuanya bisa ada bersamaan.'
'Aku ngerti,' jawab Bayu pelan. 'Mungkin belum semuanya, tapi aku mau dengar.'
Kiana mengusap pipi. Ia telah bersiap diperlakukan berbeda setelah bercerita, tetapi pemuda itu masih duduk pada jarak yang sama, memegang gelas yang hampir dingin.
Kiana meletakkan gelas sebelum tangannya terlalu gemetar. Di hadapannya, kanvas memuat langit yang belum selesai dan lereng yang masih perlu diperbaiki.
Ia belum bisa mengubah semua yang telah terjadi di depan pintu kamar ayah. Tetapi malam ini, setidaknya ada seseorang yang menunggu kalimatnya selesai.