Senin sore, Kiana pulang dari klinik dan langsung berhenti di depan kanvas. Langit yang dibuat kemarin tampak lebih gelap setelah kering. Ia mengernyit, meletakkan tas dan berdiri cukup lama untuk mempertimbangkan apakah harus menutup semuanya dengan warna lain.
Lalu ia mengganti pakaian dahulu.
Ketika kembali, perasaan ingin membuang lukisan itu tidak sebesar beberapa menit sebelumnya. Kiana duduk dan melanjutkan bagian kecil yang masih ingin dicoba. Ia berhenti ketika cahaya tidak lagi cukup nyaman, mencuci kuas dan menyimpan bahan di kamar agar serambi tidak menjadi tempat orang tersandung.
Selasa berjalan sibuk. Ada pasien yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menjelaskan keluhannya dan calon pendaki yang datang sebelum rombongannya lengkap. Kiana tetap bekerja sampai urusannya selesai. Ia baru memikirkan kanvas saat dalam perjalanan pulang.
Sore itu ia berhasil menambahkan bentuk awal lereng.
Garisnya belum sesuai, tetapi ada sesuatu yang mulai dapat dikenali. Kiana mundur beberapa langkah, memiringkan kepala dan hampir tertawa karena puncak yang dibuatnya tampak terlalu lancip.
'Pelan-pelan,' gumamnya kepada diri sendiri.
Seorang tamu yang lewat mengatakan warnanya menenangkan. Kiana mengucapkan terima kasih, kali ini tidak segera menyebut semua kekurangan sebelum orang lain sempat melihat.
Langkah riang terdengar dari tangga setelah matahari mulai turun.
'Kak Kiana!'
Bayu muncul membawa kantong makanan. Ia berhenti ketika melihat kuas di tangan Kiana, lalu memandang kanvas dengan mata membulat.
'Wah. Sudah mulai!'
'Kamu terdengar seperti baru menyaksikan gunung berpindah.'
'Ini hampir sama pentingnya.'
Kiana tertawa dan menaruh kuas. Bayu mengangkat kantong, mengatakan ia sudah selesai tugas dan sempat membeli nasi balap sebelum datang. Ia menanyakan apakah Kiana sudah makan, tidak langsung membuka semua bungkus di atas alat lukis.
'Belum. Tapi cuci tangan dulu. Tunggu.'
Kiana masuk sebentar, membersihkan jari yang terkena cat dan membawa dua gelas. Bayu menunggu di bangku, membiarkan kanvas tetap di tempatnya. Ketika kembali, ia baru melihat makanan ditata pada meja yang tidak dipakai mencampur warna.
'Kamu tahu aku di atas dari mana?' tanya Kiana.
'Kak Hannah bilang. Katanya kalau belum masuk kamar, pasti masih melihat kanvas.'
'Aku tidak cuma melihat.'
'Iya. Sekarang ada lerengnya.'
Kiana memandang lukisan, kemudian menatap Bayu. 'Bagus atau kamu lagi jadi orang baik?'
'Aku memang orang baik, Kak.'
Ia sengaja menjawab terlalu percaya diri. Kiana menggeleng sambil tersenyum, menerima piring kertas yang disiapkan untuk makan. Setelah keduanya duduk, Bayu menceritakan harinya di klinik tanpa menyebut hal pribadi pasien.
Ada turis yang bertanya mengenai makanan lokal, dan percakapan berakhir pada es sarang burung.
'Dia pikir semua yang dijual memang sarang burung,' kata Bayu. 'Aku jelaskan yang banyak di warung sekarang pakai bahan pengganti. Beda sama yang kubawakan buat Kakak waktu itu.'
'Yang kamu ambil khusus dari rumah?'
'Iya. Yang itu memang asli. Ibu juga masih ingat aku terburu-buru pulang cuma buat mengambil satu.'
Kiana tertawa. 'Sepertinya setiap gerakanmu ada arsipnya di rumah.'
'Betul. Dan petugas arsipnya tidak pernah lupa.'
Ia menirukan cara ibunya menyebut nama lengkap ketika sedang jengkel. Kiana menyembunyikan tawa di balik gelas, takut air yang baru diminum keluar begitu saja.
Bayu berhenti sampai ia kembali bernapas normal, lalu memberikan tisu.
'Aku nggak salah apa-apa, ya, Kak. Kakak yang minum di waktu yang tidak tepat.'
'Kamu selalu punya pembelaan.'
'Belajar dari banyak kejadian.'
Setelah tawa reda, mereka makan sambil memandang lereng yang perlahan kehilangan cahaya. Kiana menyadari makanan yang sama dapat terasa berbeda ketika tidak disantap sambil menatap jam dinding ruang istirahat.
Bayu membersihkan remah yang jatuh di bangku sebelum kembali menatap lukisan.
'Kanvasnya punya Kakak?'
'Dipinjamkan Gian. Dulu perlengkapan kakaknya. Aku sudah minta izin.'
Bayu mengangguk. 'Kak Gian memang menyimpan banyak hal.'
Kiana menunggu, tetapi pemuda itu tidak memperpanjang mengenai barang atau keluarga yang bukan miliknya untuk dijelaskan. Ia hanya bertanya apakah Kiana memakai cat yang dibawanya dari Jakarta.
'Yang ini akrilik pinjaman juga. Cat air Ibu tetap kusimpan terpisah. Nanti kalau mau mencoba yang lain, aku beli sendiri.'
Bayu menatap noda kecil pada ujung jari yang tidak seluruhnya hilang setelah dicuci.
'Kakak senang?'
Pertanyaan itu membuat Kiana berhenti menyuap.
'Iya,' jawabnya setelah memikirkan. 'Kadang kesal karena hasilnya tidak seperti yang dibayangkan. Tapi ingin kembali lagi.'
'Sepertinya itu bagus.'
'Kamu sendiri pernah mau mulai sesuatu tapi takut?'
Bayu tertawa pelan. 'Banyak. Contohnya ngajak senior lihat bintang.'
Kiana menunduk, tersenyum pada piringnya. 'Yang itu sudah berhasil.'
'Untung.'
Mereka terdiam beberapa saat. Kiana menghabiskan suapan terakhir, lalu melipat bagian kosong pembungkus agar tidak tertiup. Bayu menunggu sampai ia menaruh sendok sebelum bertanya.
'Kalau boleh tahu, kenapa berhenti melukis dulu?'
Kiana melihat kanvas. Langitnya jauh dari sempurna, tetapi ia telah membiarkan orang lain melihat tanpa menutupinya.
'Yang terakhir benar-benar kuselesaikan...' Ia berhenti, mencari cara mengatakan sesuatu yang jarang diceritakan. 'Cuma satu orang asing yang datang melihat. Aku bahkan tidak pernah tahu orangnya yang mana.'
Bayu mengerutkan kening, bukan mengejek. 'Terus?'
Kiana menggeleng kecil. 'Aku belum tahu cara menceritakannya.'
'Oke.'
Ia tidak berusaha membuat jawaban baru untuknya. Bayu membantu membereskan pembungkus makanan, kemudian menanyakan apakah gelas boleh dibawa ke tempat cuci.
Di halaman, mobil Gian masuk ketika keduanya masih berada di serambi. Lelaki itu turun dan mendongak. Ia melihat Bayu membawa gelas, Kiana menggeser kuas agar tidak jatuh, lalu keduanya tertawa mengenai sesuatu yang tidak sampai ke telinganya dari percakapan yang telah berlalu.
Gian membawa barangnya masuk ke rumah.
Sebelum pulang, Bayu menanyakan apakah boleh datang lagi besok malam jika pekerjaan mereka sudah selesai. Kiana mengangguk, lalu meminta ia berkabar dahulu agar tidak tiba ketika dirinya sedang beristirahat. Bayu menyetujui sambil mengangkat ponselnya.
Di atas, Kiana menutup botol cat. Hari Selasa hampir selesai, tetapi pertanyaan Bayu masih tinggal di dekat kanvas yang belum dapat ia tinggalkan sepenuhnya.