Minggu pagi, Kiana menemukan kotak cat ibunya di dasar koper. Ia tidak sedang mencari amplop Karin. Ia sengaja memindahkan pakaian satu per satu sampai benda kayu kecil yang dibawa dari Jakarta itu dapat diangkat tanpa tergores.
Kotak dibuka di atas meja.
Beberapa warna tampak retak. Ada yang hampir habis, ada yang tidak lagi menyerupai ingatannya. Kuas tersimpan dalam balutan kain yang telah berkali-kali dicuci, tetapi jahitan pada tepinya masih dapat dikenali.
Kiana mengusap kain tersebut dengan ibu jari.
Ia pernah menganggap membawa semua ini cukup untuk membuktikan dirinya masih mempunyai hobi. Selama beberapa hari kotak itu hanya ikut tinggal di tempat yang sama dengan tubuhnya.
Pagi ini ia ingin melakukan sesuatu selain memindahkannya.
Dari jendela terlihat lereng yang berubah warna ketika awan lewat. Kiana memperhatikan cukup lama, lalu mengambil buku kosong dan mencoba membayangkan garis yang harus dibuat. Tangannya tidak segera bergerak.
Ia menggeleng, tertawa pada kegugupannya sendiri, kemudian turun untuk mencari kopi.
Hannah sedang menata gelas. Ia membalas salam dengan ramah, tetapi tidak melanjutkan percakapan sebanyak biasanya. Pergantian seprai sudah diselesaikan Sabtu, sehingga Kiana tidak perlu menanyakan pekerjaan yang telah dibereskan.
'Kak, di sekitar sini ada toko alat lukis?' tanyanya setelah menerima kopi.
Hannah menoleh. 'Mau melukis?'
'Iya. Baru mau coba lagi. Bawa cat air lama, tapi belum tahu semua masih bisa dipakai atau tidak.'
'Kalau toko lengkap, mungkin harus ke kota.'
Kiana mengangguk. Ia tidak ingin menyuruh orang berangkat hanya untuk menebus keinginannya yang baru muncul. Masih ada waktu mencari pada hari lain.
Hannah menaruh satu gelas terakhir, lalu menyebut gudang belakang.
'Perlengkapan Kak Anjani sebagian disimpan di sana. Ada kanvas juga. Tapi tanyakan Gian dahulu.'
Kiana menatapnya. 'Aku nggak enak. Barang kenangan.'
Hannah tersenyum tipis. 'Kalau dia mengizinkan, baru ambil.'
Kiana menerima jawaban itu tanpa mengartikannya sebagai sindiran yang harus dibalas. Ia menghabiskan kopi, mengembalikan cangkir ke tempatnya dan keluar ketika melihat Gian memeriksa barang dekat mobil.
Pria itu sudah mengenakan seragam. Ia menoleh saat Kiana mendekat.
'Butuh tumpangan?'
'Tidak. Mau minta izin.'
Gian menunggu.
Kiana menyampaikan tentang kanvas dan peralatan Anjani. Ia menyebut apa yang ingin dipinjam, bukan meminta seluruh gudang dibuka untuknya tanpa tujuan.
'Boleh,' jawab Gian setelah mendengarkan.
'Kamu yakin? Kalau ada yang tidak boleh, bilang saja.'
'Ada barang yang memang dapat dipakai. Kanvas yang masih kosong dan alat untuk menaruhnya. Kalau yang lain belum jelas, tanya Hannah atau tinggalkan dulu.'
Kiana mengangguk. Gian memberi tahu tempat kunci disimpan dan meminta ia mengembalikannya setelah selesai. Kiana kembali kepada Hannah, menyampaikan izin tersebut sebelum mengambil kunci dari laci yang ditunjuk.
Di gudang, ia menyalakan lampu dan menunggu mata menyesuaikan. Ia tidak membongkar kotak tertutup yang namanya tidak dikenal. Kanvas masih terbungkus berada di sisi yang mudah dijangkau, bersama kuda-kuda kayu dan perlengkapan yang disebut Hannah.
Ia memeriksa beberapa botol cat akrilik yang berbeda warna, lalu menaruh yang masih dapat dipakai di dekat kanvas. Bahan ini berbeda dari cat air ibunya. Sebagian perlengkapan lain dibiarkan karena belum jelas keadaannya.
Kuda-kuda sempat goyah ketika diangkat. Kiana menurunkannya lagi, memeriksa posisi kaki sampai dapat dilipat dengan benar. Ia keluar membawa barang dalam beberapa perjalanan, tidak memaksakan kanvas besar dan botol sekaligus.
Setelah gudang ditutup, kunci dikembalikan kepada Hannah. Kiana berterima kasih, lalu menanyakan tempat yang tidak menghalangi tamu jika kuda-kuda dipasang di serambi lantai dua.
Hannah menunjukkan bagian yang cukup lapang.
Di sana Kiana menyandarkan kanvas dan membuka pembungkus. Ia menyimpan plastik agar tidak tertiup, kemudian membawa kuas serta wadah air miliknya dari kamar. Kotak cat air ibu tetap berada di meja, terpisah dari akrilik yang baru dipinjam.
Semua sudah tersedia.
Ia justru tidak tahu harus melakukan apa.
Kiana duduk menghadap bidang kosong. Ia mengangkat kuas, menurunkan lagi, lalu menatap ujung yang tidak menyentuh apa pun. Bayu pernah mengatakan melukis tentang rasa. Saat ini rasanya hanya takut membuat sesuatu yang buruk.
Langkah terdengar dari tangga.
Gian berhenti di tempat yang tidak menutupi cahaya. Barang tugasnya sudah dibawa, tetapi ia melihat kanvas itu cukup lama sebelum kembali menatap Kiana.
'Belum mulai?'
'Masih negosiasi.'
'Dengan siapa?'
'Dengan tangan sendiri.'
Gian tersenyum. Ia tidak mengambil kuas untuk membuat garis pembuka seolah kegugupan dapat diselesaikan dengan menggantikan orang lain.
'Kak Anjani biasanya mulai dari langit,' katanya.
'Karena paling luas?'
'Itu alasannya kalau ditanya. Aku tidak tahu dia selalu begitu atau hanya hari saat aku melihat.'
Kiana mengangguk, menghargai jawaban yang tidak mengubah satu ingatan menjadi rumus yang harus diikuti.
Gian berpamitan karena harus berangkat. Ia turun setelah Kiana mengucapkan terima kasih, meninggalkan perempuan itu bersama kanvas dan warna yang dipilihnya sendiri.
Kiana menarik napas. Ia mencelupkan kuas dan membuat goresan pertama.
Tidak seperti langit di depan mata.
Ia menatapnya, menunggu rasa kecewa datang. Lalu kuas bergerak lagi. Kali ini ia tidak menghapus bekas pertama sebelum memberinya kesempatan menjadi bagian dari sesuatu.
Seorang tamu melewati serambi dan memperlambat langkah. Kiana langsung menurunkan kuas, ingin menutupi kanvas dengan tubuh.
'Baru mulai, Mbak?' tanya perempuan itu.
'Iya. Sudah lama tidak melukis.'
'Selamat menikmati Minggunya.'
Tamu itu berlalu tanpa memberi penilaian atau meminta lukisan dipercepat agar dapat difoto. Kiana menatap punggungnya, lalu tertawa kecil. Ia tadi sudah bersiap menghadapi sesuatu yang bahkan tidak dilakukan orang tersebut.
Kuas kembali bergerak. Warna biru terlalu pekat di satu sisi, garis berikutnya tidak rata, tetapi kanvas tidak lagi kosong. Ketika berhenti untuk minum, Kiana melihat noda kecil pada jari dan menyadari dirinya belum sekali pun memikirkan artikel hotel sejak goresan pertama.
Ia mencuci kuas setelah selesai, meninggalkan kanvas di tempat aman sampai dapat dilanjutkan.
Ia ingin kembali besok, dan keinginan sederhana itu membuatnya tersenyum.