Hannah menunggu hujan mengecil sebelum membawa seprai bersih ke lantai dua. Kain-kain itu sudah disiapkan untuk pergantian beberapa kamar, tetapi ia tidak ingin menaiki tangga sambil menjaga tumpukan yang masih basah terkena tampias.
Seorang tamu keluar lebih dahulu, memberinya ruang lewat. Hannah membalas sapaan dengan senyum dan mengingatkan agar berhati-hati pada bagian lantai dekat jendela.
Ketika mendekati kamar lima, ia mendengar tawa Kiana.
Suara lain menyusul. Gian.
Langkah Hannah berhenti sebelum benar-benar mencapai pintu yang terbuka. Dari tempatnya ia melihat lelaki itu duduk di lantai dengan gelas di tangan. Di dekatnya, Kiana memegang pigura pada pangkuan, kepala sedikit berpaling ketika mendengarkan.
Kain yang menutupi boks sudah disingkap.
Hannah mengenali foto Anjani dan Ara tanpa perlu mendekat.
Selama bertahun-tahun ia membersihkan kamar itu, mengganti kain, memastikan jendela tidak membiarkan air masuk. Ia juga tahu Gian membantu menyiapkannya sebelum kedatangan Kiana. Namun membersihkan kamar berbeda dengan duduk dan bercerita di antara barang yang selama ini tidak ingin dibicarakan.
Hannah telah menunggu kesempatan seperti itu tanpa pernah menyebutnya sebagai permintaan.
Sekarang ia melihat orang lain berada di sana.
'Kak Hannah?'
Kiana lebih dahulu menyadari kehadirannya. Ia meletakkan gelas dengan hati-hati, tetapi tidak langsung berdiri karena bingkai masih berada di pangkuan.
Hannah mengangkat keranjang sedikit, seperti perlu menunjukkan alasan dirinya datang.
'Mau ganti seprai. Tapi nanti saja.'
'Kita bisa bereskan dulu, Kak. Nggak apa-apa.'
'Tidak. Besok juga bisa.'
Gian menoleh. Ia melihat senyum Hannah yang terlalu cepat muncul, lalu hilang sebelum mencapai matanya. Ia sudah mengenal ekspresi itu jauh sebelum Kiana datang ke paviliun.
'Hannah,' panggilnya.
Perempuan itu menundukkan wajah pada tumpukan seprai. 'Aku masih ada pekerjaan di bawah.'
Ia mundur, membetulkan pegangan keranjang sebelum berbalik. Kiana sempat memanggil sekali lagi, tetapi Hannah sudah melewati kamar sebelah dan tidak ingin berhenti di tempat yang membuat suaranya mudah terdengar.
Di bawah, ia menaruh keranjang di tempat linen, memastikan tidak ada kain menyentuh lantai. Seorang pekerja kafe bertanya apakah perlu dibantu mengangkat ke atas.
'Besok saja. Aku belum sempat mengganti semuanya.'
Hannah mengambil tas dan kunci motor. Ia menunggu sampai tangan yang memegang pengait tas tidak terlalu gemetar, kemudian keluar melalui gerbang.
Udara selepas hujan terasa dingin pada wajah. Ia duduk di atas motor yang belum dinyalakan dan menatap kedua tangannya.
Kenapa bukan aku?
Pertanyaan itu datang begitu cepat sampai ia hampir marah kepada dirinya sendiri. Ia telah berada di tempat ini begitu lama, mengenali jam kerja Gian, makanan yang kadang dilupakan dan perubahan kecil pada wajah ketika telinganya mengganggu.
Tetapi ia tidak pernah memperoleh janji bahwa kedekatan tersebut akan menjadi sesuatu yang lain.
Hannah mengusap pipi sebelum air matanya jatuh lebih banyak. Ia tidak ingin pekerja yang keluar dari kafe melihat dan bertanya. Setelah cukup tenang, ia mengenakan helm, menyalakan motor dan pulang ke rumahnya di kawasan kios.
Di kamar lima, Kiana masih memandang pintu.
'Aku harus bicara sama Kak Hannah?' tanyanya.
Gian meletakkan gelas. 'Tentang apa?'
'Entahlah. Dia seperti sedih.'
'Kamu tidak perlu menebak semuanya sekarang.'
Kiana menatapnya. Kalimat itu benar, tetapi tidak menghapus rasa tidak nyaman. Ia mengangkat pigura dengan kedua tangan dan menyerahkannya kembali kepada Gian sebelum berdiri.
Gian menerima, melihat foto sebentar, lalu meletakkannya di boks semula. Ia memastikan bagian bingkai tidak menekan map sebelum menutup dan merapikan kain di atas tumpukan. Tidak ada barang Ara yang dibuka untuk melanjutkan pembicaraan.
Kiana membawa kedua gelas ke meja yang lebih lapang. Ia tidak membereskan boks menggantikan Gian. Ruang di depan tumpukan kembali cukup untuk dilewati setelah meja digeser pada posisi yang mereka sepakati.
'Kak Hannah tadi membawa seprai,' katanya. 'Aku bisa bilang staf lain tidak perlu mengganti hari ini. Biar dia tidak merasa pekerjaannya terganggu.'
Gian mengangguk. 'Itu boleh kamu sampaikan. Soal yang lain, nanti aku bicara dengannya sendiri.'
Kiana tidak menanyakan percakapan apa yang dijanjikan. Hannah sudah pernah mengatakan mengenai perasaannya ketika mereka sarapan, dan Gian tampak bukan orang yang baru mengetahui hal itu sore ini.
Ia juga tidak ingin membuat satu tatapan terluka menjadi cerita yang hanya ditulis dari sudut dirinya.
Gian meraih topi, kemudian berdiri. Kakinya terasa kaku setelah lama duduk. Kiana menunggu ia menemukan keseimbangan sebelum menggeser kursi agar jalan keluar terbuka.
'Makasih sudah menemani,' kata Gian.
Kiana mengangguk. 'Makasih sudah percaya buat cerita.'
Lelaki itu keluar sesudah memastikan tidak ada barangnya tertinggal di sisi tempat tidur. Kiana tidak mengantarnya sampai bawah. Ia menutup pintu kamar, lalu menyimpan saputangan yang tadi diletakkan di dekat lutut ke tempat barang pribadinya.
Foto telah kembali kepada pemiliknya. Cerita yang didengarnya tetap tinggal.
Beberapa saat kemudian, ia turun membawa pesan tentang pergantian seprai. Keranjang Hannah masih berada di tempatnya. Kiana menyampaikan cukup menunggu sampai besok, mengucapkan terima kasih dan kembali naik tanpa mencari alasan menemui Gian lagi.
Di rumah dekat kios, Hannah akhirnya melepas helm. Ia meletakkannya terlalu dekat tepi meja dan segera memindahkan sebelum jatuh. Kemudian ia duduk tanpa menyalakan televisi.
Ponselnya belum berbunyi.
Tidak lama kemudian sebuah pesan masuk dari pekerja kafe. Ia menanyakan apakah seprai kamar lima perlu diambilkan malam itu karena keranjangnya tertinggal bersama linen lain.
Hannah mulai mengetik agar pekerja itu bertanya kepada Gian saja. Ia berhenti sebelum mengirim. Orang yang membantu menata kamar tidak bersalah karena sore yang buruk ini.
Besok sesuai jadwal. Kamar lain yang sudah kosong boleh dibereskan dulu. Terima kasih.
Ia membaca kembali pesannya sebelum mengirim, memastikan tidak ada kalimat tajam yang dilemparkan kepada orang yang hanya bertanya. Setelah balasan diterima, ponsel kembali sepi.
Hannah menatap layar, berharap ada sesuatu yang datang sambil takut terhadap kalimat yang mungkin dibawanya. Sore itu ia tidak mempunyai tenaga untuk menertawakan harapan sendiri.