Kiana mengambil saputangan dari saku jaket. Kain yang dicucinya setelah kunjungan makam Rabu itu kini terlipat rapi. Ia membukanya perlahan, mencoba menenangkan diri sebelum kembali menatap Gian.
Gian melihatnya mengusap mata.
'Jangan sampai basah semua lagi,' katanya.
Kiana tertawa pendek, lalu menarik napas yang tersangkut.
'Maaf, Gian.'
'Kamu sudah bilang.'
'Aku tahu. Aku cuma...' Ia menatap boks terbuka. 'Waktu itu aku tidak berpikir sejauh ini. Aku mengira kalau nama dan foto ada di kamar, berarti boleh dilihat.'
Gian menatapnya. Kiana merasakan dorongan menjelaskan bahwa dirinya orang baik dan tidak berniat jahat, tetapi berhenti sebelum semua itu keluar.
'Aku salah,' lanjutnya.
Gian mengangguk. Ia tidak mengatakan bahwa niat baik membuat tindakannya menjadi wajar. Ia juga tidak menyuruh perempuan itu meminta maaf lebih lama agar seimbang dengan kesedihan yang baru didengarnya.
'Aku marah karena kamu membuka barang tanpa bertanya,' katanya. 'Tapi cara aku menjawab sore itu juga tidak cuma tentang kamu.'
Kiana merapikan saputangan dalam genggaman.
'Aku sudah lama menyiapkan jawaban pendek kalau orang bertanya. Kamar kakak. Barang lama. Tidak usah dibuka. Sesudah itu biasanya mereka berhenti.'
'Aku tidak berhenti.'
'Kamu bahkan sudah melihat sebelum aku sempat memilih jawaban.'
Kiana menunduk. Gian tidak mengucapkannya untuk mempermalukan, tetapi ia tetap perlu menerima bahwa perasaan terkejut lelaki itu bukan hal yang dibuat-buat demi bersikap dingin.
'Kalau nanti aku ingin menanyakan sesuatu, aku tanya dulu boleh atau tidak,' katanya.
Gian mengangguk, lalu mengubah posisi duduk. Tangan yang menahan pigura tampak lelah. Kiana hampir menawarkan mengambil, tetapi terlebih dahulu bertanya apakah ia ingin menaruhnya pada meja.
'Belum,' jawab Gian.
'Oke.'
Mereka diam sebentar. Hujan mulai lebih ringan, menyisakan bunyi tetes dari talang. Wajah Kiana masih sembab, hidungnya merah seperti stroberi yang mereka petik dua hari lalu. Gian sempat memperhatikannya, kemudian mengalihkan pandangan agar perempuan itu tidak merasa sedang dinilai.
'Aku juga tidak ingin semua orang selalu berhenti bertanya,' katanya akhirnya.
Kiana mengangkat wajah.
'Aneh, ya? Aku menyuruh mereka tidak membicarakan, lalu kesal karena nama kakakku jarang disebut.'
'Tidak aneh.'
'Kamu dokter atau sedang membantuku merasa lebih baik?'
'Aku sedang mendengar kamu. Tidak semua harus jadi pemeriksaan.'
Gian memandangnya, lalu tersenyum sedikit. Kiana menyukai perubahan itu, tetapi tidak segera mencoba membuatnya tertawa. Ia tahu betapa melelahkan ketika orang menganggap senyum berarti semua sudah selesai.
'Kak Anjani masih sering disebut di rumah dulu,' lanjut Gian. 'Lama-lama orang takut salah bicara di depanku. Aku sendiri yang membuat mereka begitu.'
'Kamu ingin apa sekarang?'
'Aku belum tahu.'
Kiana mengangguk. Jawaban tersebut dapat tinggal tanpa harus segera diberi bentuk yang lebih rapi.
Ia menaruh saputangan di atas lutut, lalu menyentuh punggung tangan Gian yang bertumpu pada lantai. Sentuhan itu singkat, tidak memintanya memindahkan tangan atau mendekat. Gian menatap, membiarkan ujung jari Kiana berada di sana beberapa detik sebelum perempuan itu menarik kembali.
'Makasih sudah cerita,' ucap Kiana.
Gian mengangguk. Ia menatap tangan sendiri sebentar, kemudian kembali memandang foto.
Kiana memperhatikan wajah Ara dalam gambar. Ada bagian kecil pada kerah yang baru terlihat dari sudut tempatnya duduk.
'Boleh aku lihat lebih dekat?'
Gian mengulurkan pigura kepadanya. Kiana menerimanya dengan kedua tangan, memastikan sisi bingkai tidak tersangkut kain sebelum menaruh di pangkuan.
Sekarang ia melihat hal-hal yang tidak diperhatikannya saat diam-diam membuka boks: telapak kecil Ara yang mengerat pada tangan ibunya, rambut Gian yang lebih panjang, dan senyum Anjani yang seolah masih berada di tengah percakapan.
'Mereka kelihatan senang,' katanya.
'Waktu itu Ara berhasil membuat kami berdiri cukup lama. Dia yang minta foto, lalu terus bergerak saat difoto.'
'Berarti yang paling susah justru fotografernya.'
'Iya. Kakakku sampai bilang kita tidak akan makan kalau Ara belum selesai.'
Kiana tertawa. Gian ikut tersenyum, menyadari dirinya dapat mengingat kalimat tersebut tanpa langsung terseret kembali kepada kabar kematian.
Kiana membiarkan pigura di pangkuannya ketika bertanya apakah Gian mau minum. Ia tidak berdiri membawa bingkai yang mudah terlepas.
'Ada air hangat dari termos. Hannah mengisinya tadi pagi.'
'Teh?'
'Iya. Jangan khawatir, bukan kopi yang diberi pewangi jeruk.'
Gian menatapnya tajam, tetapi sudut bibirnya bergerak.
'Itu tuduhan serius.'
'Aku cuma menawarkan minum.'
Kiana memindahkan pigura dengan hati-hati ke sisi pangkuan agar dapat meraih meja rendah. Termos yang disiapkan berada dalam jangkauan, bersama gelas bersih yang belum dipakai. Ia membuka tutup, menuang air dan menunggu teh meresap sebelum menyerahkannya.
Gian menerima dengan kedua tangan. Kehangatan gelas membuat jari-jarinya yang kaku perlahan mengendur.
Kiana mengambil gelas untuk dirinya. Mereka tetap duduk di lantai karena tidak ada yang merasa perlu segera berpindah. Boks terbuka berada di hadapan, tetapi tidak ada barang lain yang harus dikeluarkan untuk memperpanjang cerita.
Kiana memandang foto sekali lagi, lalu menanyakan satu kebiasaan kecil Anjani yang paling diingat Gian di kamar ini.
Lelaki itu tersenyum sebelum menjawab.
'Kakakku suka memindahkan kursi mengikuti cahaya. Kalau sedang menggambar bersama Ara, semua orang lain harus mencari tempat duduk sendiri.'
'Di kamar ini?'
'Di sini, di serambi, kadang sampai menghalangi pintu. Aku pernah mengomel karena pulang membawa barang dan tidak bisa masuk.'
'Kamu pasti ngomelnya panjang.'
'Justru dia yang panjang. Katanya pintu bisa dipakai sebentar lagi, tetapi cahaya yang disukainya keburu berubah.'
Kiana tertawa sambil melihat ke arah jendela. Ia dapat membayangkan Gian berdiri di ambang dengan tangan penuh, kalah oleh orang yang tidak menerima wajah dinginnya sebagai jawaban.
'Sepertinya kalian seru sekali,' katanya.
'Berisik,' balas Gian. 'Tapi iya, seru.'
Ia mengangguk, matanya masih tertuju kepada Kiana yang tersenyum.
Ia menyesap teh, berhenti sebelum mengangkat gelas lagi. Mengingat kakaknya sedang menghalangi pintu ternyata membuatnya lebih hangat daripada mengingat kamar yang selalu tertutup. Untuk sesaat ia tidak perlu menunggu kekuatan datang dari luar sebelum menyebut nama Anjani.