'Aku bertemu Ara lebih dahulu,' lanjut Gian.
Kiana menatap foto, lalu kembali melihat wajahnya. Hujan di luar belum berhenti. Ia harus beberapa kali menahan keinginan menyela hanya untuk memastikan anak itu selamat.
'Dia bersama dua orang dari rombongan peneliti. Berlindung dekat batu besar. Kak Anjani yang meminta mereka menunggu di sana.'
'Kakakmu?'
'Kembali mencari satu orang yang tertinggal.'
Gian menggerakkan pigura dalam genggaman. Sudutnya mengenai lutut, membuat ia berhenti sejenak untuk membetulkan posisi. Kiana menawarkan bantal lain, tetapi ia menggeleng.
'Waktu Ara melihatku, dia minta ibunya. Aku mengangkatnya dan menyuruh anggota tim membantu yang lain. Aku masih berpikir bisa menitipkan dia lalu kembali mencari Kak Anjani.'
Ia menatap bagian foto yang memperlihatkan tangan kecil Ara.
'Kemudian ada letusan susulan.'
Kiana merasakan tubuhnya ikut menegang. Gian tidak menjelaskan bagaimana seorang penolong harus bergerak dalam keadaan itu. Ia hanya mencoba mengucapkan apa yang masih dapat diingatnya tanpa harus berada di sana lagi.
'Bunyi itu terlalu dekat. Setelahnya aku tidak bisa mendengar seperti sebelumnya. Ada dengung. Orang-orang bergerak, Ara menangis, tetapi semuanya terasa tidak sampai kepadaku dengan benar.'
Tangan Gian mendekati telinga kiri. Ia menyentuh tepinya sebentar sebelum kembali memegang foto.
'Tim membawa kami turun. Aku ingin kembali. Mereka tidak membiarkan.'
Ia tertawa tanpa kegembiraan.
'Sampai bawah pun aku masih berdebat. Seperti kalau aku cukup keras mengatakan ingin naik, keadaan di atas akan menunggu.'
Kiana tidak berkata ia pasti sudah melakukan yang terbaik. Ia tidak berada di sana, tidak mengetahui apa yang dapat dilakukan atau tidak. Ia hanya melihat orang yang duduk di depannya masih membawa percakapan yang tidak pernah selesai dengan dirinya sendiri.
'Kak Anjani ditemukan dua hari kemudian,' kata Gian. 'Bersama orang yang dicari. Keduanya tidak selamat.'
Kiana menunduk. Mendengar kematian itu melalui suara adik yang menunggu membuat dadanya terasa tertekan.
Tidak ada suara lain di antara mereka untuk beberapa saat.
'Ara selamat?' tanyanya akhirnya.
Gian langsung mengangguk. 'Selamat.'
Kiana mengembuskan napas yang ternyata ditahannya.
'Sekarang tiga belas tahun. Tinggal dengan ayahnya di Denpasar. Setelah kehilangan Kak Anjani, ayahnya berhenti bekerja di kapal dan membawa Ara tinggal di sana.'
'Kalian masih berhubungan?'
'Masih. Dia mengirim surat kalau aku ulang tahun.'
Senyum kecil muncul di wajah Gian. Ia tidak perlu mencari cara untuk memaksakannya.
'Dulu tulisannya besar-besar. Satu halaman seperti diisi sepuluh kata. Sekarang lebih rapi daripada tulisanku.'
Kiana tertawa pelan. Kelegaan itu datang bersama kesedihan, keduanya tidak saling menghapus.
'Kenapa surat?'
'Awalnya gurunya memberi tugas menulis untuk keluarga. Aku membalas, lalu dia mengulang saat ulang tahunku. Sekarang jadi kebiasaan.'
'Ara mau kembali ke sini?' tanya Kiana.
'Belum. Dia tidak nyaman melihat gunung. Aku pernah ingin mengajaknya karena mengira dia akan senang melihat kamarnya masih ada. Ayahnya mengingatkan bahwa yang merindukan kamar ini mungkin justru aku.'
Gian tersenyum tipis, malu pada sesuatu yang baru dapat diakuinya sekarang.
'Jadi aku berhenti mengajak terus-menerus. Kalau dia ingin bertemu di tempat lain, aku yang menyesuaikan.'
Kiana mengangguk. 'Pasti berat.'
'Berat karena aku ingin mendengar ceritanya di sini. Tetapi dia juga punya cerita yang tidak harus kembali ke rumah ini untuk jadi penting.'
Ia menatap anak dalam foto, lalu menambahkan bahwa Ara kini lebih sering bercerita tentang sekolah daripada tentang ibunya. Gian tetap membalas surat itu, berusaha mengenali keponakan yang terus tumbuh, bukan hanya menyimpan anak kecil yang digendongnya turun.
Gian memandang boks yang lebih kecil di sisi tumpukan.
'Barang Ara sebagian masih di sini. Ayahnya tidak ingin membawa semua benda yang mengingatkan mereka pada hari-hari sebelum kejadian. Aku menyimpannya. Kalau nanti dia ingin melihat, setidaknya masih ada.'
Kiana mengikuti pandangan itu tanpa menyentuh penutupnya. Ia tidak perlu membukanya untuk membuktikan telah mengerti.
'Kamar ini lalu tidak disewakan?' tanyanya.
'Bertahun-tahun tidak. Hannah membersihkan, aku lebih sering mengurus bagian lain. Kalau perlu masuk, aku mencari alasan agar orang lain yang melakukannya.'
Gian mengusap tepi pigura. 'Tapi sebelum kamu datang, aku sendiri yang membantu menyiapkan kamar ini. Aku tidak bisa menyuruh orang menerima tamu lalu membiarkan barang berserakan.'
Kiana menatapnya. Itu berarti kedatangannya tidak membuka pintu yang sama sekali belum pernah disentuh sejak kehilangan Anjani. Ada keputusan yang sudah dibuat bahkan sebelum ia mengetahui letak paviliun.
'Kenapa bersedia dipakai?' tanyanya.
Gian melihat sekeliling. Ia sempat memandang nama yang tertulis pada tas Kiana, kemudian kembali kepada jendela.
'Paviliun penuh. Kamu datang paling akhir dari rombongan. Aku tahu ada orang yang membutuhkan tempat.'
'Tapi ini kamar yang kamu simpan.'
'Iya.'
Gian tidak segera menambahkan sesuatu. Kiana menunggu sampai ia kembali berbicara.
'Kak Anjani tidak suka melihat ruangan kosong sementara orang lain harus kesulitan. Aku sering memakai alasan mengenang dia untuk mempertahankan hal yang sebenarnya membuatku takut.'
Kiana merasakan air mata menghangat di matanya. Ia tidak ingin mengubah cerita itu menjadi pujian bahwa Gian ternyata sangat baik. Kebaikan tidak menjelaskan seluruh keraguan yang telah membawanya duduk di kamar sore ini.
'Sesudah kamu tiba, aku melihat kamu seperti orang yang baru kehilangan tempat,' lanjutnya. 'Itu membuatku tidak menyesal menyiapkannya.'
Kiana mengangguk. Ia belum tahu ada ingatan lain yang disimpan Gian, dan lelaki itu tidak menguraikannya sekarang.
Di luar, seseorang menutup pintu kamar lain. Suaranya membuat Gian berkedip dan berhenti berbicara. Kiana menunggu sampai rahangnya kembali mengendur.
'Perlu kubantu ambil air?' tanyanya.
'Nanti. Sebentar lagi.'
Ia menerima jawaban itu dan tetap duduk. Gian memandang foto sekali lagi, tetapi kali ini jemarinya tidak mencengkeram sekuat sebelumnya.
Ara masih hidup. Anjani sudah tidak dapat pulang. Kamar yang menampung sisa keduanya kini mempunyai penghuni yang bersedia menunggu tanpa membongkar boks lain.
Kiana mengusap matanya dengan punggung tangan. Ia ingin meminta maaf lagi, tetapi untuk beberapa saat membiarkan nama Anjani tetap menjadi hal terakhir yang mengisi pikirannya.