'Anjani Suaka Alam,' ulang Gian, lebih pelan daripada ketika menyebutnya pertama kali.
Kiana memandang perempuan dalam foto itu. Rambutnya dikepang ke satu sisi. Ia mengenakan rompi dan tersenyum lebar, satu tangan menggenggam tangan anak kecil yang berdiri di antara dirinya dan Gian.
'Nama yang bagus,' kata Kiana.
'Ayah yang memilih. Katanya supaya kakakku menjadi tempat berlindung untuk yang hidup di alam.'
'Gian Rimba Cakrawala juga dari ayahmu?'
Gian mengangguk. 'Ayah polisi hutan. Ibu menanam kentang. Kami bukan orang Sasak, tapi lama-lama tidak ingin tinggal di tempat lain.'
Kiana melihat cara jarinya berhenti pada sisi pigura yang sedikit tergores. Ia hendak menanyakan apakah perlu dipegangkan, lalu memilih menunggu. Gian belum ingin melepaskan benda itu.
'Waktu Ayah dipindah ke sini, aku masih kecil. Kak Anjani lebih cepat punya teman daripada aku. Kalau ada orang mengajakku bermain, biasanya karena kenal dia duluan.'
'Kamu dari kecil sudah dingin?'
Gian menoleh. 'Tidak.'
Jawabannya begitu singkat sampai Kiana hampir tertawa. Namun lelaki itu kemudian tersenyum, dan ia dapat membayangkan anak yang lebih ramai daripada orang dewasa yang kini duduk di lantainya.
'Kakakku justru sering menyuruhku diam. Katanya kalau mencari burung, jangan membuat hutan tahu aku datang dari jauh.'
Kiana tersenyum. 'Sepertinya aku akan suka dia.'
Gian tidak langsung menjawab. Ia kembali menatap foto, lalu menggesernya sedikit agar cahaya dari jendela tidak menutupi wajah anak kecil.
'Ini Ara. Putrinya.'
Kiana menelan rasa malu yang datang bersama ingatan mengenai dugaan awalnya. Hannah sudah mengatakan Gian belum menikah, tetapi pikirannya tetap terlalu cepat mengisi kekosongan pada gambar.
'Aku waktu itu mengira...' Ia berhenti.
'Aku tahu. Kamu sudah bilang tadi.'
'Sepertinya semua orang di sini lebih baik dariku dalam menahan kesimpulan.'
Gian mengangkat alis. 'Erik mungkin akan membantah.'
Kiana tertawa pendek. Nama rekan kerja itu memberi jeda yang diperlukan sebelum percakapan kembali kepada foto.
'Ayah Ara?' tanyanya.
'Bekerja di kapal pesiar. Sering pergi cukup lama. Kak Anjani dan Ara tinggal di sini.'
Gian memandang tempat tidur, jendela dan sisi kamar yang kini ditempati tas Kiana.
'Dulu bangunan ini rumah keluarga. Setelah diubah untuk penginapan, kamar ini tetap dipakai mereka. Kakakku yang meminta.'
Kiana mengangguk. Ia membayangkan benda-benda di boks bukan sebagai barang yang ditinggalkan tamu, melainkan sisa kehidupan yang pernah mempunyai susunan berbeda di ruangan yang sama.
'Ayah dan Ibu meninggal waktu kebakaran hutan lima belas tahun lalu,' lanjut Gian. 'Aku sedang kuliah di Jakarta. Hannah juga kehilangan keluarganya dalam kebakaran itu.'
Kiana merapatkan kedua tangan di pangkuan. Ia mengetahui Hannah mengelola penginapan dari percakapan mereka, tetapi baru sekarang mendengar kehilangan yang mengawali pekerjaan itu.
'Berarti kamu juga kehilangan orang tua waktu masih kuliah,' kata Kiana.
Gian mengangguk.
'Aku pulang dan mendapati rumah terlalu ramai. Semua orang datang membantu. Setelah mereka pergi, baru terasa tidak ada suara Ibu dari belakang.'
Kiana menatap gelas dingin di meja. Dua hari lalu di makam ia bercerita tentang seorang anak yang belum mengerti kematian. Gian sudah cukup besar untuk memahami kabar buruk itu, tetapi rupanya pemahaman tidak membuat rumah lebih mudah dimasuki.
'Kak Anjani yang tinggal bersamamu?'
'Dia ada. Kami mengurus yang bisa diurus, lalu aku harus kembali menyelesaikan kuliah. Tidak mungkin semua orang meninggalkan hidupnya agar aku merasa ditemani.'
Kiana mengangguk. Ia tidak mengatakan bahwa Gian seharusnya menerima semuanya lebih cepat.
Kiana menunggu sampai Gian mengangkat kepala sebelum kembali mengajukan pertanyaan.
'Hannah mulai mengelola penginapan setelah itu?' tanyanya.
'Iya. Aku butuh orang yang bisa dipercaya saat masih harus menyelesaikan kuliah. Dia juga butuh pekerjaan. Kami sudah berteman sejak SMA.'
'Kak Anjani waktu itu di sini?'
'Dia masih hidup. Banyak bekerja di lapangan, tetapi ikut mengurus perubahan rumah. Desain kamar-kamar ini banyak idenya.'
Gian menunjuk bagian rak yang kini dipakai Kiana menyimpan beberapa buku. Kakaknya dahulu menginginkan tempat untuk buku tamu yang lupa membawa bacaan. Setelah Ara lahir dan tumbuh, rak itu lebih sering dipenuhi buku gambar.
Kiana melihat rak tersebut, merasa telah melewati banyak jejak tanpa mengenal pemiliknya.
'Kakakku kuliah kehutanan di Jogja, lalu kembali menjadi peneliti satwa. Kalau aku merasa hafal jalur, biasanya dia bisa menunjukkan bagian yang belum kutahu.'
'Kamu belajar dari dia.'
'Banyak.'
Hujan semakin keras. Gian memalingkan wajah ke jendela ketika air memukul bagian luar dengan bunyi beruntun. Jemarinya bergerak mendekati telinga, lalu turun lagi pada pigura.
Kiana tidak meraih alat yang dikenakannya.
'Perlu berhenti sebentar?' tanyanya.
Gian menggeleng. Ia menunggu sampai bunyi hujan sedikit lebih rata, kemudian memperbaiki posisi duduk.
'Foto ini waktu Ara kira-kira lima tahun. Dia ingin ikut ibunya terus. Kalau melihat tas lapangan sudah disiapkan, sepatunya sendiri langsung ditaruh di dekat pintu.'
Kiana tersenyum pada gambaran itu. Di foto, anak tersebut tampak yakin kedua orang dewasa di sisinya akan mengikuti setiap langkah yang dipilihnya.
'Delapan tahun lalu Kak Anjani sedang mendampingi peneliti di kawasan atas,' lanjut Gian. 'Ara ikut karena sedang libur sekolah.'
Kiana tidak memotong dengan pertanyaan mengenai keadaan anak itu sekarang. Cara suara Gian berubah membuatnya tahu ada bagian yang tidak dapat disampaikan sambil tergesa.
'Waktu itu mereka mengira masih bisa menyelesaikan pekerjaan dan turun. Kemudian keadaan gunung berubah.'
Lelaki itu berhenti.
Kiana melihat kedua bahunya mengeras. Ia mengambil gelas yang tadi dipindahkan, menyadari isinya sudah dingin, lalu menaruhnya kembali tanpa menyodorkan sesuatu yang tidak diminta. Ia tidak perlu sibuk mencari tindakan hanya karena kesulitan mendengar orang lain kesakitan.
Gian mengusap ibu jari pada tepi foto.
'Aku masih ingat orang berlari turun ketika tim kami bersiap naik,' katanya.
Kiana mengangguk perlahan, menunjukkan ia mendengar. Ruangan itu tetap kamar yang disewanya, hujan tetap mengguyur di luar, tetapi untuk Gian ada jalan lain yang mulai terbuka di antara keduanya.