Dua hari setelah kunjungan ke makam, hujan turun sejak siang. Kiana melihat air mengalir dari tepi atap klinik sambil mendengarkan penjelasan perawat tentang pengunjung yang sudah dipindahkan ke ruang tunggu bagian dalam.
Pekerjaannya selesai lebih awal, tetapi ia menunggu serah terima beres sebelum berpamitan. Bayu masih mempunyai tugas. Kiana mengabari Gian untuk menanyakan apakah dapat menumpang jika waktu pulang mereka sesuai, bukan meminta pria itu meninggalkan pekerjaannya.
Jawaban datang beberapa menit kemudian. Gian sudah bersiap kembali dan akan melewati klinik.
Kiana menunggu di teras sampai mobil berhenti. Ia berlari kecil menembus jarak pendek yang tidak terlindung atap, lalu masuk sambil merapatkan tas ke tubuh. Ujung rambutnya tetap basah.
'Payung?' tanya Gian.
'Di dalam tas. Telat dikeluarkan.'
Gian menggeleng, lalu menunggu pintu tertutup sebelum bergerak. Ia tidak bertanya mengapa seorang dokter bisa lupa membawa payung ke luar. Kiana merasa sudah cukup menertawakan dirinya sendiri untuk siang itu.
Di paviliun, hujan masih deras. Gian memarkir sedekat yang memungkinkan, tetapi keduanya tetap terkena air ketika bergegas masuk. Kiana mengangkat tas menutupi kepala, mendengar Gian menyebut namanya dari belakang.
'Apa?'
'Tunggu payungnya.'
'Udah sampai!' balasnya dari tangga.
Ia tertawa karena usul yang sama kembali terlambat. Setelah membuka kamar, Kiana menaruh tas di meja dan mengusap rambut dengan ujung lengan. Ia baru hendak mengambil handuk sendiri ketika terdengar ketukan.
Gian berdiri di luar. Jaketnya basah pada bagian bahu, satu tangan membawa handuk kecil yang masih terlipat.
'Ini. Tadi dibawakan dari bawah.'
Kiana menerima. 'Aku punya, sebenarnya.'
'Kalau begitu, pakai salah satunya. Jangan mengeringkan rambut dengan baju basah.'
Ia menempelkan handuk ke rambut. Gian masih berdiri di ambang, melihat meja kecil yang telah dipindahkan Kiana ke depan tumpukan boks.
'Kamu menggeser meja?'
Kiana menoleh mengikuti pandangannya. 'Biar tidak tergoda buka lagi. Lagi pula aku bisa taruh gelas di situ.'
Gian memandang bagian kamar yang dipakai Kiana. Tasnya tidak menyentuh boks, sepatu tertata di dekat pintu dan pakaian yang baru dicuci tergantung jauh dari barang lama.
'Ruangmu cukup?'
'Cukup. Kalau tidak, aku bilang. Kamu sudah minta begitu.'
Gian mengangguk. Ia seperti hendak berpamitan, tetapi belum menggerakkan kaki. Kiana tidak mengisinya dengan pertanyaan tentang foto. Ia sibuk merapikan rambut yang menempel pada pipi, menunggu pria itu memutuskan hendak pergi atau mengatakan sesuatu.
'Aku sempat berpikir lebih baik boksnya dipindahkan,' kata Gian. 'Supaya kamu tidak perlu menghindarinya terus.'
Kiana menurunkan handuk.
'Kalau memang mau dipindah, aku bisa menunggu di bawah. Tapi bukan karena aku minta barang itu disingkirkan.'
'Aku tahu.'
'Ini tetap barang yang penting buat kamu.'
Gian menatapnya. Beberapa hari lalu ia marah karena Kiana membuka tanpa bertanya. Sekarang perempuan itu bersedia keluar dari kamar yang dibayarnya agar ia dapat menyentuh barang sendiri tanpa dilihat orang lain.
Ia hampir menerima tawaran tersebut. Membawa semua boks ke tempat lain akan membuat pintu kembali dapat ditutup dan pertanyaan berhenti. Namun tangannya tetap kosong, sedangkan Kiana masih menunggu jawaban.
'Boleh aku masuk sebentar?' tanya Gian akhirnya sambil mengangkat wajah.
Kiana berhenti mengusap rambut.
'Boleh.'
Ia bergeser, memberi jalan setelah jawabannya selesai. Gian baru melewati ambang dan meletakkan topi di tempat yang ditunjuk. Ia tidak langsung membuka tumpukan yang selama ini menjadi sumber percakapan mereka.
'Kamu masih perlu istirahat?'
'Aku bisa duduk. Kalau ada barang yang mau diambil, silakan.'
Gian menggeleng kecil. 'Bukan cuma mengambil.'
Kiana menatapnya, lalu meletakkan handuk di sandaran kursi. Hujan menghantam bagian atap dekat jendela. Ia merapatkan daun jendela yang tadi dibuka, membiarkan celah cukup untuk udara tanpa membuat air masuk.
Gian menggeser meja kecil secukupnya untuk mencapai boks. Ia berhenti sebelum memindahkan gelas yang ada di atasnya.
'Ini masih kamu minum?'
'Tidak. Biar aku bawa ke sini.'
Kiana memindahkan gelas ke meja lain. Setelah ruang terbuka, Gian menyingkap kain perlahan. Tidak ada ketergesaan seperti orang mencari benda yang terlupa. Ia seolah perlu mengenali kembali susunan yang pernah disiapkan sebelum kamar itu ditempati tamu.
Ia membuka boks paling atas dan mengambil pigura.
Kiana langsung mengenalinya. Ia juga mengingat betapa mudah dirinya mengisi hubungan orang-orang di dalam gambar dengan cerita yang ternyata belum tentu benar.
Gian duduk di lantai, menyandarkan punggung pada sisi tempat tidur setelah menanyakan apakah tidak mengganggu. Pigura berada di kedua tangannya. Kiana mengambil bantal kecil untuk duduk di sisi yang berjarak, tidak mencoba memegang gambar itu.
Beberapa saat berlalu hanya bersama bunyi hujan.
'Waktu lihat ini, aku langsung mengira macam-macam,' kata Kiana pelan. 'Kak Hannah sudah bilang kamu belum menikah. Seharusnya aku berhenti menebak.'
Gian menatap foto, lalu mengangkat pandangan kepadanya.
'Tidak semua yang ada di foto mudah dijelaskan.'
'Aku tahu sekarang.'
Ia hampir mengatakan tidak perlu bercerita jika belum siap, tetapi menahan kalimat itu. Gian sudah datang dan meminta masuk. Mungkin yang diperlukannya sekarang justru waktu untuk memulai tanpa terus ditawari jalan keluar.
Kiana menarik kaki lebih dekat agar tidak menghalangi ruang. Ia merasakan handuk di sandaran belum diperas dan hendak berdiri, tetapi Gian mulai berbicara.
'Kamu baca nama pada ijazahnya.'
'Anjani Suaka Alam.'
Gian mengangguk. Mendengar nama itu diucapkan orang lain membuat jarinya bergerak pada tepi pigura. Kiana melihatnya dan memutuskan urusan handuk dapat menunggu.
Ia tetap duduk.
Perempuan di foto mempunyai senyum yang tidak serupa dengan wajah datar Gian, tetapi ada bagian pada mata mereka yang terasa dekat. Anak kecil di antara keduanya memegang tangan orang dewasa dengan keyakinan yang membuat Kiana menelan sesuatu yang pahit di tenggorokan.
Gian menatap gambar itu cukup lama sebelum akhirnya menunjuk perempuan di sisi anak tersebut.
'Ini kakakku,' katanya. 'Anjani.'
Kiana tidak mengucapkan dugaan lain. Ia memandang foto, lalu kembali kepada Gian, membiarkan lelaki itu menemukan kalimat berikutnya.