Mobil Gian sudah terparkir ketika mereka keluar dari jalur. Kiana melihat tempat yang ditunjuk sebelum mengikuti lelaki itu menyeberangi halaman. Erik meninggalkan kendaraan sesuai pesan, dengan kunci yang dititipkan kepada petugas yang dikenalnya.
Gian mengambil kunci dan mengucapkan terima kasih. Ia tidak menyuruh orang lain mencari kendaraan sementara dirinya sudah duduk menunggu. Kiana memasukkan ransel ke dekat kaki setelah pintu terbuka, lalu merentangkan jari yang pegal karena terlalu lama menggenggam tali.
'Erik baik juga,' katanya.
'Jangan bilang begitu di depannya. Besok dia minta pujian lagi.'
Kiana tertawa. Gian mengirim kabar singkat bahwa kendaraan sudah diambil, kemudian menyimpan ponsel dan menyalakan mesin.
Perjalanan turun membuat Kiana kembali melihat desa dengan cara yang berbeda dari ketika berangkat. Pagi tadi ia terus menghitung apakah sanggup berjalan. Sekarang ia memperhatikan orang yang menjemur hasil kebun, gerobak yang didorong melewati jalan dan seorang anak melambaikan tangan kepada pengemudi yang dikenalnya.
Gian membalas lambaian itu.
'Kamu ramah juga,' komentar Kiana.
'Kamu ingin aku mengabaikan anak kecil?'
'Bukan. Aku cuma...'
'Heran kenapa aku tidak seperti orang galak setiap waktu?'
Kiana menoleh. 'Kamu bisa baca kalimat yang belum selesai juga?'
'Kamu sering menyelesaikannya dengan wajah.'
Ia mendengus dan memilih melihat ke luar. Papan petik stroberi terlihat di tepi kebun, membuatnya spontan melambatkan gerakan tangan yang hendak membuka botol.
Gian menangkap arah pandangnya.
'Mau berhenti?'
'Kalau kamu tidak buru-buru.'
Gian menepikan mobil dan mematikan mesin. Kiana mengambil uang serta ponsel, sementara ransel dibiarkan di dalam. Mereka menemui pengelola kebun dan menanyakan bagian yang boleh dipetik.
Seorang ibu membawa wadah, menunjukkan buah yang sudah siap tanpa meminta mereka menarik semua yang tampak merah dari jauh. Kiana mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Setelah diizinkan, ia bergerak mengikuti jalur kecil di antara tanaman.
Buah pertama yang disentuhnya ternyata belum seperti yang dibayangkan. Ia melepaskannya dan memandang Gian yang sudah memilih satu.
'Kamu kok cepat?'
'Aku tidak mencari yang paling besar.'
'Aku juga tidak.'
Gian menunjuk buah yang sejak tadi diperhatikannya. Kiana tertawa karena sanggahannya tidak bertahan lama. Ia berjongkok untuk melihat dari sisi lain, kemudian berhasil memetik satu dengan gerakan yang diajarkan ibu tadi.
Ia memperlihatkannya dengan wajah terlalu bangga untuk pekerjaan sesederhana itu.
'Nah!'
Gian mengangguk serius. 'Selamat.'
'Jangan seperti memberi selamat lulus ujian.'
Pengelola kebun tertawa dari belakang mereka. Ia menanyakan apakah keduanya sedang berlibur bersama.
'Saya relawan di klinik,' jawab Kiana. 'Hari ini libur.'
'Oh, Dokter. Sama suaminya?'
'Bukan,' kata mereka hampir bersamaan.
Kiana menunduk pada wadah, pura-pura menghitung buah. Gian menjelaskan dirinya pemilik penginapan yang disewa Kiana, lalu berhenti ketika menyadari penjelasannya justru semakin panjang.
Ibu itu hanya tersenyum dan membiarkan mereka melanjutkan.
Setelah cukup, buah ditimbang dan dibayar. Gian mengambil bagian yang akan dibawanya ke rumah, sedangkan Kiana meminta kantong terpisah. Ia tidak ingin kegembiraan memetik membuatnya lupa bahwa sebagian dapat diberikan kepada orang lain di paviliun.
Sebelum masuk mobil, pengelola membantu menyiapkan beberapa buah yang dapat langsung dimakan. Kiana menerima dengan ucapan terima kasih. Mereka duduk kembali, tetapi Gian belum menyalakan mesin karena masih menata barang yang baru dibeli.
Kiana menawarkan satu buah.
'Mau?'
Gian melihat tangannya yang sedang memegang botol dan kantong. Kiana mengulurkan buah sedikit lebih dekat, menunggu sampai ia mengangguk sebelum menyuapkan.
'Asam?' tanyanya setelah Gian menggigit.
'Sedikit.'
'Wajahmu seperti disuruh minum obat.'
Gian tertawa dan mengambil botol setelah tangannya bebas. Kiana meraih buah berikutnya untuk diri sendiri. Rasa manis dan asam membuatnya sadar ia benar-benar lapar lagi sesudah perjalanan.
Mereka tetap duduk di kendaraan yang belum bergerak ketika Gian mengajukan pertanyaan.
'Kamu pulang ke Jakarta nanti masih ingin melukis?'
Kiana menoleh. 'Aku bahkan belum mulai lagi.'
'Tadi kamu melihat warna rumput seperti hendak membawanya pulang.'
'Aku mungkin mau mencoba.'
Gian mengangguk. Ia tidak mendesaknya menjadikan rencana itu janji.
Setelah hening beberapa saat, Kiana bertanya apakah ia sudah membaca berita mengenai dirinya. Gian tidak berpura-pura terkejut.
'Pernah,' jawabnya.
'Jadi kamu sudah tahu Gala juga.'
'Nama dan yang tertulis di berita. Bukan semua yang terjadi di antara kalian.'
Kiana memandang buah di pangkuannya. Ia menyukai perbedaan yang dibuat Gian, tetapi tetap merasa seolah ada bagian dirinya yang terlanjur terbuka tanpa sempat dipilih.
'Aku dengar cara kamu memaki di telepon juga,' tambah lelaki itu.
'Yang itu sudah sepakat dilupakan.'
'Tidak disebarkan. Kita sepakat aku tidak menyebarkannya.'
Kiana hampir tersenyum, lalu kembali diam.
Gian melihat kain hijau yang ujungnya tampak dari saku jaket. 'Tadi waktu cerita Ayah menggendongmu, kamu berhenti cukup lama. Aku sempat berpikir ada hal lain yang belum selesai.'
Kiana membeku.
'Itu cuma dugaanku,' lanjutnya sebelum perempuan itu merasa harus menjawab. 'Aku tidak tahu kehidupan ayahmu sekarang.'
Kiana menelan ludah. Ia bisa saja menyebut semua itu tidak benar, tetapi tidak sanggup mengucapkan kebohongan yang terlalu dekat dengan kenyataan.
'Aku belum bisa cerita,' katanya.
Gian mengangguk. 'Oke.'
Tidak ada pertanyaan berikutnya.
Kiana mengambil saputangan untuk mengusap sudut mata, lalu melipatnya kembali. Gian menunggu sampai ia menyimpan buah dan memasang sabuk. Baru sesudah itu mobil bergerak meninggalkan kebun.
Di dekat paviliun, Kiana menyebut dirinya ingin mencuci kain tersebut dahulu sebelum beristirahat. Gian hanya mengangguk, tidak meminta benda yang sudah diberikan itu kembali.
Kiana turun membawa ransel serta buah. Di kafe, ia menyisihkan sebagian untuk Hannah yang sedang merapikan meja.
'Dipetik sendiri, Kak. Tapi jangan tanya kenapa ukurannya beda-beda.'
Hannah menerima dengan senyum, lalu mengambil wadah agar buah tidak tertindih barang lain. Kiana menunggu sampai bagiannya selesai dipindahkan sebelum naik. Ia ingin membagikan sesuatu dari pagi itu tanpa harus menjelaskan semua yang telah terjadi.
Ia masih punya cerita yang disembunyikan, tetapi kini seseorang mengetahui bahwa ia belum siap dan tetap mengantarnya pulang.