Di luar gerbang makam, Kiana berhenti untuk mengatur napas. Tangannya masih menggenggam saputangan hijau yang kini tidak menyerupai lipatan rapi ketika dikeluarkan dari saku Gian.
Ia mengangkat kain itu dengan sedikit canggung.
'Nanti aku cuci.'
'Boleh.'
'Terus kukembalikan.'
Gian menoleh. 'Tidak perlu. Buat kamu saja.'
Kiana memandangnya, memastikan itu bukan salah satu kalimat yang akan disusul tagihan.
'Beneran?'
'Iya.'
'Gratis?'
Gian mendecak. 'Kalau kamu ingin bayar, silakan berdebat dengan kasir kafe. Aku sedang libur.'
Tawa Kiana keluar pendek dan serak. Hidungnya masih terasa penuh, tetapi ia dapat kembali melihat wajah orang yang menemaninya tanpa langsung menunduk.
'Makasih.'
Ia melipat kain sebisanya dan menyimpannya dalam saku yang mudah diraih. Benda itu akan dicucinya dengan baik, bukan dikembalikan diam-diam ke serambi seolah ia tidak tahu bagaimana menerima sesuatu.
Mereka berjalan sampai menemukan tempat istirahat yang tidak menghalangi orang lewat. Gian menaruh tas dan mengeluarkan minuman. Kiana duduk di sisi bangku, menyadari kedua kakinya sedikit pegal sesudah lama berlutut.
'Sakit?' tanya Gian.
'Pegal saja. Aku lama duduk tadi.'
Ia mengubah posisi, mengendurkan jari-jari kaki di dalam sepatu. Gian menunggu sampai ia merasa nyaman sebelum menyerahkan gelas kecil yang dibawanya.
Kiana menerimanya dengan kedua tangan.
'Teh?'
'Iya. Tidak semua yang kubawa harus kopi.'
'Aku belum protes.'
'Mukamu sudah.'
Kiana tertawa lagi. Kalimatnya sendiri dipakai kembali dengan begitu datar sampai terasa lebih menyebalkan daripada jika Gian mengatakannya sambil mengejek.
Ia menyesap perlahan. Tangan yang tadi gemetar mulai lebih tenang. Di kejauhan tampak beberapa orang melanjutkan perjalanan, tetapi ia tidak merasa perlu segera bangun mengikuti mereka.
'Kamu tidak tanya apa-apa,' ucapnya setelah cukup lama diam.
Gian membuka bungkus roti. 'Soal?'
'Soal Ibu. Kenapa lama tidak datang. Kenapa baru sekarang.'
'Kamu sudah cerita sebagian.'
'Tapi tidak semuanya.'
Gian menyerahkan separuh roti yang belum disentuhnya. Kiana mengambil setelah mengatakan punya bekal sendiri, membuat lelaki itu mengangkat bahu seolah tidak keberatan jika mereka makan lebih banyak.
'Sisanya bisa diceritakan nanti,' jawabnya. 'Kalau kamu ingin.'
Kiana menatap roti di tangannya. Ia pernah mendengar banyak kalimat yang sekilas terdengar sama, tetapi biasanya disusul pertanyaan yang membuatnya merasa harus membuktikan dirinya cukup percaya kepada si pendengar.
Gian justru membuka botol untuk dirinya dan memandang jalur.
'Kalau aku tidak cerita?'
Lelaki itu menoleh sebentar. 'Ya tidak cerita.'
'Kamu tidak penasaran?'
'Penasaran tidak membuatku harus mendapat jawaban.'
Kiana terdiam. Ia memikirkan boks yang dibukanya, lalu merasa wajahnya menghangat. Gian tidak mengatakan percakapan ini sebagai sindiran. Ia bahkan tampak tidak sedang memikirkan kamar lima.
'Aku sedang belajar soal itu,' kata Kiana pelan.
Gian tidak meminta ia mengulangi permintaan maaf. Ia hanya menunjuk minuman yang hampir dingin dan bertanya apakah Kiana ingin ditambah.
Mereka menghabiskan bekal sambil melihat awan bergerak. Kiana menyimpan pembungkus di dalam tas, mengusap telapak tangan dengan tisu dan menyadari rasa lapar ternyata datang setelah dadanya terasa sedikit lebih lapang.
'Kalau nanti mau datang lagi, bisa?' tanyanya.
'Kita sesuaikan waktu. Kamu juga punya pekerjaan.'
'Aku tahu. Bukan besok langsung bolos.'
'Kamu masih lama di sini.'
Kiana mengangguk. Program enam bulan itu bahkan belum berjalan dua minggu sejak kedatangannya. Selama beberapa hari terakhir semua terasa penuh, seolah kesibukan dan perasaan dapat menggantikan panjang waktu.
Ia tidak perlu menumpuk semua kunjungan pada satu pagi.
Setelah beristirahat, mereka kembali berjalan. Kiana memastikan gelas sudah disimpan, lalu mengangkat tas tanpa menunggu Gian mengambil alih. Tali ransel kini berada lebih nyaman pada kedua bahu.
Di salah satu sisi jalan, seekor burung kecil bergerak dari ranting ke ranting. Kiana berhenti dan menunjuk, berusaha tidak berbicara terlalu keras.
'Yang itu namanya apa?'
Gian menyebut nama yang biasa dipakai orang di sana. Kiana mencoba mengulangi, keliru pada suku kata terakhir, lalu tertawa ketika lelaki itu membetulkan dengan sabar.
'Kamu kalau menjelaskan burung lebih ramah daripada menjelaskan tagihan.'
'Burungnya tidak pernah berdebat denganku.'
'Belum tentu. Kamu cuma tidak paham bahasanya.'
Gian menatapnya, kemudian tertawa sampai harus menunduk. Kiana memandangi wajahnya yang berubah begitu jauh dari petugas di loket pada pertemuan awal mereka.
Ia hampir mengatakan sesuatu tentang senyumnya, tetapi mengurungkan niat. Tidak semua hal yang menyenangkan harus segera diumumkan agar tetap ada.
Pada bagian jalan berikutnya, Kiana berhenti melihat perubahan warna pada rerumputan. Sebagian tampak kuning, sebagian lain hijau gelap karena tertutup bayangan awan.
'Di foto sering jadi satu warna saja,' katanya.
Gian ikut melihat. 'Kamu ingin mengingat yang mana?'
'Semuanya. Itu masalahnya.'
'Mungkin tidak harus semuanya sekaligus.'
Kiana memandangnya, lalu tersenyum. 'Kedengarannya seperti nasihat yang tidak mau kamu akui sebagai nasihat.'
'Aku sedang menjawab pertanyaan.'
'Aku bahkan tidak bertanya.'
Gian mengangkat bahu. Kiana masih menatap rerumputan sebentar sebelum mengikutinya. Ia membayangkan kuas yang belum diambil dari kotak, gerakan tangan yang mungkin sudah kaku, dan kemungkinan membuat warna yang salah. Untuk pertama kalinya pagi itu, membayangkan kesalahan tidak segera membuatnya berhenti ingin mencoba sesuatu.
Ia memilih memandang sedikit lebih lama sebelum menyimpan warna-warna itu dalam ingatan dan kembali berjalan.
Mereka melewati tempat yang lebih terbuka. Kiana memotret pemandangan sebentar, lalu menyimpan ponsel agar dapat kembali melihat jalannya. Ia tidak meminta foto berdua. Hari itu belum perlu diberi bentuk yang dapat dipamerkan kepada siapa pun.
Sebelum melanjutkan turun, ia meraba saku memastikan saputangan masih tersimpan.
Gian melihat gerakan tersebut.
'Tertinggal sesuatu?'
'Tidak. Masih ada.'
'Kalau hilang, jangan berharap aku menagih pengganti.'
Kiana melirik. 'Loh, kenapa?'
'Nanti kamu berpikir ini usaha sampingan.'
Tawa mereka mengikuti langkah turun. Kiana masih membawa sedih, tetapi kini sedih itu dapat berjalan bersama rasa lapar, candaan buruk dan keinginan melihat sesuatu di luar dirinya sendiri.
Ketika bangunan di bawah mulai terlihat, ia merasa mampu kembali tanpa harus berpura-pura bahwa kunjungan tadi tidak berarti apa-apa.