Kiana berjalan lebih lambat setelah melewati gerbang. Nisan-nisan di hadapannya tidak tersusun persis seperti ingatan yang dibawanya. Ada pohon yang tampak lebih besar, ada bagian tanah yang dibatasi batu, dan ada nama-nama yang belum pernah dilihatnya.
Ia hampir berbalik untuk mengatakan tidak ingat.
Lalu terlihat pohon kamboja di sudut.
Kiana berhenti, menatap tanah di bawahnya. Setangkai bunga jatuh ketika angin lewat. Putih dan kuning, begitu ringan sampai tidak terdengar saat menyentuh bumi.
Ia mengenali perasaan itu sebelum mengenali tulisan pada nisan.
'Sekar Ayu,' bisiknya.
Gian mengikuti beberapa langkah di belakang, cukup jauh untuk membiarkan Kiana berlutut tanpa merasa sedang diamati. Ia melepas topi dan menunggu ketika perempuan itu mulai membaca tulisan yang sudah pudar.
Sekar Ayu binti Lalu Mahsun.
Wafat dalam usia tiga puluh empat tahun.
Kiana menyentuh bagian tepi nisan dengan ujung jari. Ia tidak mengusap debunya dengan lengan jaket. Ia meraih tisu, berhenti, lalu menyimpannya kembali ketika menyadari tangannya terlalu gemetar untuk melakukan apa pun dengan tenang.
'Assalamualaikum, Bu.'
Dua kata itu membuat suaranya pecah.
Ia menunduk lama. Bunga sedap malam masih terbungkus di pangkuannya, belum diletakkan. Gian tidak mengambilnya untuk membantu tanpa diminta. Ia berdiri diam sampai Kiana membuka pembungkus sendiri dan merapikan tangkai yang tadi sempat tertekan.
'Ibu suka ini,' katanya. 'Katanya wangi malam itu beda dari wangi siang.'
Gian mengangguk ketika Kiana menoleh sekilas, memastikan ia masih ada.
Kiana meletakkan bunga, lalu mencabuti rumput kecil yang tumbuh di dekat tepi makam. Ia mengumpulkannya di sisi yang tidak mengganggu jalan orang, memilih pekerjaan sederhana itu sebelum sanggup mengatakan sesuatu lagi.
'Kamu boleh duduk, Gian. Maaf kalau lama.'
'Aku di sini.'
Pria itu memilih tempat beberapa langkah darinya. Kiana kembali menghadap nisan, mencoba menyusun kalimat yang telah terlalu sering diucapkannya dalam hati di apartemen.
Getaran ponsel sempat membuat Gian menunduk. Ia membaca kabar singkat bahwa mobil sudah diparkir, lalu menyimpan perangkat setelah membalas.
'Kamu diperlukan?' tanya Kiana.
'Tidak. Erik sudah selesai memindahkan mobil.'
Kiana mengangguk. Ia baru menyadari betapa cepat tubuhnya bersiap mendengar orang harus pergi, bahkan sebelum lelaki itu mengatakan sesuatu.
'Aku sudah kerja, Bu. Jadi dokter.'
Ia tertawa pelan dan segera menyeka pipinya.
'Harusnya Ibu sudah tahu, ya. Tapi aku nggak pernah datang bilang sendiri.'
Gian menundukkan pandangan. Ia mendengar, tetapi tidak mengambil percakapan yang sedang ditujukan Kiana kepada orang lain.
Kiana mengeluarkan napas panjang. Ia merasakan tanah dingin pada lututnya, bau bunga yang baru diletakkan, serta udara yang bergerak di sela pohon. Semuanya membuat tempat itu terasa lebih nyata daripada gambar kecil yang disimpan ingatannya selama bertahun-tahun.
'Ibu lahir di sini,' katanya kemudian, kali ini menoleh sedikit kepada Gian. 'Ayah datang waktu KKN. Mereka kenal di desa ini, terus Ibu ikut ke Jakarta.'
Gian menunggu.
'Beliau jadi guru seni. Di rumah selalu ada kertas, kuas, sisa-sisa cat. Kalau aku menyentuh sesuatu dan tanganku kotor, pasti ketahuan.'
Senyum Kiana muncul sebentar.
'Waktu aku tujuh tahun, Ibu pulang buat menjenguk nenek yang sakit. Aku nggak ikut. Masih sekolah.'
Ia berhenti membersihkan rumput. Salah satu akar sulit dicabut dan jarinya mulai sakit. Ia melepaskannya, membiarkan bagian itu tetap ada daripada menarik sampai tangannya terluka.
'Katanya cuma sebentar. Aku marah karena tidak diajak. Aku pikir beliau pergi jalan-jalan sendiri.'
Kiana menatap nisan lagi. Selama dua puluh lima tahun, kemarahan kecil seorang anak selalu terasa terlalu memalukan untuk diingat. Seolah kata-kata yang dilontarkan sebelum ibu pergi mempunyai daya yang tidak pernah dimaksudkannya.
'Kemudian Ibu sakit. Demam berdarah, begitu yang keluarga ceritakan. Waktu dibawa untuk mendapat pertolongan lebih jauh, keadaannya sudah berat.'
Gian tidak menambahkan penjelasan medis. Kiana sendiri bukan dokter yang memeriksa ibunya saat itu. Ia hanya anak yang mendengar potongan kabar, lalu melihat ayah mengepak barang dengan tangan tidak tenang.
'Ayah ngajak aku terbang ke Lombok. Aku senang karena akhirnya diajak. Aku sampai pilih baju yang mau ditunjukkan ke Ibu.'
Suaranya hilang pada kata terakhir.
Ia mengangkat tangan, meminta waktu meskipun Gian tidak mengatakan apa-apa. Kedua matanya terpejam sampai air mata jatuh melewati dagu.
'Ayah menggendong aku di jalan. Terus dia menangis di sini. Kencang sekali.'
Kiana melihat bunga kamboja di tanah.
'Aku malah sibuk mengambil bunga. Aku kira kalau dikumpulkan banyak, Ibu akan suka.'
Gian bergeser mendekat setelah Kiana menoleh kepadanya. Ia berlutut di sisi yang tidak menutupi nisan, merogoh saku dan mengulurkan saputangan hijau army.
Kiana menerima tanpa bertanya. Ia menekankan kain pada mata, mencoba menahan bunyi yang sudah terlalu lama ditelannya.
'Aku lama sekali nggak datang, Bu.'
Tangisnya pecah. Ia tidak lagi sanggup membuat kalimat terdengar rapi atau menutupinya dengan kelakar. Bahunya bergerak, napas tersendat, dan saputangan yang tadi dilipat mulai basah di genggaman.
Gian tetap di sampingnya. Sesekali ia menggeser posisi agar kakinya tidak menekan bunga, lalu kembali diam. Kiana tidak perlu memikirkan apakah sedang merepotkan orang yang menemaninya.
Setelah tangis mereda, ia mencoba menjelaskan pernah mendaki bersama teman ketika kuliah. Ia melewati kawasan itu, tetapi tidak memilih berbelok ke makam.
'Aku takut pulangnya jadi tidak bisa melakukan apa-apa,' katanya. 'Jadi aku selalu bilang nanti.'
Gian memandangnya. 'Hari ini kamu datang.'
Kiana mengangguk pelan. Itu bukan pengampunan yang menutup semua penyesalan, tetapi cukup untuk membuatnya kembali menatap nama ibu tanpa langsung membuang wajah.
Ia mengatur bunga yang tadi bergeser, lalu duduk beberapa saat untuk berdoa. Gian tidak mengingatkan jam atau menanyakan kapan hendak turun.
Ketika Kiana akhirnya berdiri, satu tangannya masih menggenggam saputangan. Ia menepuk tanah pada celana, memandang nisan untuk terakhir kali sebelum melangkah.
'Besok-besok aku datang lagi, Bu.'
Ia tidak menetapkan tanggal yang belum dapat ditepatinya. Untuk hari ini, ia telah menemukan jalan kembali.