Rabu pagi, Kiana membuka pintu sebelum alarm keduanya berbunyi. Udara dingin langsung menyentuh wajah. Ia kembali masuk untuk mengambil jaket, lalu berhenti sebentar di depan cermin agar dapat mengikat rambut yang kini lebih pendek.
Masih cukup untuk dijauhkan dari wajah.
Di sisi meja sudah tersedia ransel kecil. Kiana memeriksa botol air, roti, tisu dan bunga yang dibelinya kemarin setelah selesai bekerja. Sedap malam dibungkus agar tidak tertekan barang lain. Ia mengeluarkannya sekali untuk memastikan tangkainya masih baik, lalu menaruh kembali dengan lebih hati-hati.
Sepatu yang baru dicoba Selasa sore terasa agak kaku. Ia berjalan beberapa langkah di dalam kamar, membetulkan ikatan, kemudian mematikan lampu.
Gian menunggu di dekat gerbang. Ia mengenakan pakaian lapangan yang lebih santai daripada seragam kerja, dengan tas di punggung dan topi di tangan. Pandangannya langsung turun kepada sepatu Kiana.
'Baru?'
'Kemarin dibeli.'
'Sudah dipakai jalan?'
'Sudah. Jangan seperti pemeriksa sidang.'
Gian mengangkat kedua alis. 'Aku belum mulai.'
Kiana mendengus, tetapi senyumnya belum hilang ketika mereka keluar. Kafe belum ramai. Salah satu pekerja mengangkat tangan dari ambang, dan Kiana membalas sebelum menyusul langkah Gian.
'Kita jalan sampai bawah jalur juga?'
'Iya. Nanti pulangnya mobil ada di parkiran kantor.'
'Kamu bawa sekarang?'
'Erik bersedia memindahkannya setelah mengambil berkas yang perlu dibawa ke kantor. Aku sudah memberinya izin dan memberitahukan tempat kunci.'
Kiana mengangguk. 'Dia tidak ikut?'
'Dia mulai tugasnya sendiri. Jangan berharap aku membawa seluruh rombongan untuk menagih satu janji.'
'Aku tidak berharap begitu.'
Mereka berjalan di sisi jalan yang masih lengang. Ada orang mengangkut hasil kebun, ada yang membuka pintu rumah dan menyapu halaman. Kiana memperlambat langkah ketika melewati seorang ibu yang membawa keranjang. Gian menunggu tanpa menyuruhnya cepat.
Setelah melewati jembatan kecil, Kiana merapatkan tangan pada tali ransel. Ia tidak merasa berat, tetapi ingin memastikan bungkusan bunga tidak bergeser. Gian melihat gerakan itu beberapa kali sebelum akhirnya bertanya.
'Ada yang sakit?'
'Enggak.'
'Tasnya tidak nyaman?'
'Nyaman.'
'Kalau begitu, kenapa dipegang sekuat itu?'
Kiana melihat tangannya sendiri, lalu tertawa kecil. Ia melepaskan genggaman dan menggerakkan jari.
'Bunganya takut rusak.'
Gian mengangguk. Ia tidak meminta melihat untuk memastikan alasan itu benar.
Di dekat pintu masuk, seorang porter menyapa Gian dan menanyakan hari liburnya. Setelah melihat Kiana, lelaki itu tersenyum lebih lebar.
'Bawa tamu, Ndan?'
'Bukan rombongan pendakian,' jawab Gian. Ia berhenti menyampaikan tujuan singkat kepada petugas, sementara Kiana menunggu di tempat yang tidak menghalangi pengunjung.
Ia melihat orang lain menata perlengkapan dengan kesungguhan yang dahulu diabaikannya. Pada kunjungan pertama ia merasa keinginannya sudah cukup menjadi alasan berangkat. Kali ini ia punya kesempatan menunggu, bertanya dan berhenti jika tubuhnya tidak sanggup.
Gian kembali setelah urusan mereka dicatat. Ia menanyakan sekali lagi apakah Kiana ingin melanjutkan.
'Iya,' jawabnya. 'Aku mau.'
Mereka bergerak mengikuti jalur yang diizinkan. Kiana memperhatikan bekas tanah lembap dan menyesuaikan langkah, tidak terus menatap puncak sampai lupa pijakan. Gian berjalan di dekatnya, terkadang lebih dahulu beberapa langkah untuk melihat bagian yang perlu dilalui perlahan.
Pada tempat yang cukup lapang, mereka menepi memberi jalan kepada rombongan yang hendak naik lebih jauh. Salah seorang pendaki menawarkan memotret mereka. Kiana menoleh kepada Gian, lalu menggeleng sopan.
'Nanti saja. Terima kasih.'
Ia tidak ingin hari ini berubah menjadi gambar yang harus dijelaskan kepada orang lain. Gian hanya mengangguk kepada rombongan tersebut dan menunggu sampai jalan kembali terbuka.
Setelah berjalan beberapa lama, Kiana meminta berhenti untuk minum. Ia mengeluarkan botol sendiri sebelum Gian sempat bertanya apakah perlu dibantu. Ketika melihat ekspresi lelaki itu, ia tersenyum.
'Aku bilang kalau capek, kan?'
'Aku belum mengatakan apa-apa.'
'Mukamu lagi.'
Gian tertawa singkat. Ia meminum airnya dan memeriksa pesan yang baru masuk. Erik sudah mengambil berkas serta kendaraan, lalu mengabari akan meninggalkannya di tempat parkir yang disepakati. Gian membalas terima kasih sebelum menyimpan ponsel.
Kiana menatap ke arah jalur yang pernah membuatnya terperosok. Ia tidak dapat menunjuk tempat tepatnya dari sini. Yang diingatnya justru rasa malu setelah diselamatkan, amarah yang muncul ketika takutnya tidak menemukan tempat untuk keluar.
'Aku merepotkan waktu itu,' katanya.
Gian menoleh. 'Waktu yang mana?'
'Waktu datang sendiri. Tidak siap.'
'Kamu sudah belajar.'
Kiana menutup botol. Ia berharap Gian akan menambahkan ejekan, supaya percakapan tidak terasa terlalu serius. Lelaki itu malah menunggu sampai barangnya kembali masuk tas, lalu menunjukkan mereka dapat melanjutkan.
Mereka berbelok dari jalur utama menuju tempat yang dituju. Bunyi percakapan pendaki perlahan menjauh. Pepohonan membuat cahaya jatuh dalam potongan kecil di tanah, dan Kiana mulai mengenali sesuatu yang tidak dapat dijelaskan sebagai ingatan utuh.
Sebuah bentuk gerbang.
Bau bunga yang dibawanya sendiri.
Tangan ayah yang dulu menahan tubuhnya ketika jalan terasa terlalu panjang bagi kaki seorang anak.
Kiana berhenti sebelum masuk. Gian berhenti di sisinya, tidak mendahului untuk mencari makam yang tidak dikenalnya.
'Kita bisa duduk dahulu,' katanya.
Kiana menggeleng, lalu menarik napas sampai dadanya tidak terlalu sesak. Ia meraih bungkusan bunga dari tas dan memegangnya dengan kedua tangan.
'Aku pernah ke sini waktu tujuh tahun,' bisiknya.
Gian tidak menanyakan mengapa ia baru kembali sekarang.
'Kalau aku tidak langsung ingat tempatnya, kita cari pelan-pelan, ya?' kata Kiana. 'Aku takut malah lupa semuanya.'
'Kita punya waktu.'
'Kamu tidak harus sampai siang mengantarku.'
'Aku tahu hari ini libur. Kamu juga sudah mengurus pekerjaanmu.'
Kiana mengangguk. Ia tidak perlu memohon agar orang yang menemaninya mau tinggal sedikit lebih lama. Bunga di tangannya bergetar ketika ia mengubah genggaman, tetapi kali ini ia tidak menyembunyikannya dengan merapikan tali tas.
Kiana memandang nisan-nisan di balik gerbang, mencoba menemukan arah yang selama bertahun-tahun hanya hadir sebentar dalam mimpi. Setelah beberapa saat, ia melangkah masuk. Gian menyusul dengan jarak yang membiarkannya memilih jalan sendiri.