Senin pagi, Gian sudah berada di mobil ketika Kiana keluar dari paviliun. Ia menunggu perempuan itu memasang sabuk sebelum melirik rambut yang jatuh lebih pendek di dekat bahunya.
'Potong?'
Kiana menoleh, lalu menyentuh ujungnya. 'Kelihatan, ya?'
'Kalau tidak kelihatan, aku tidak bertanya.'
'Ibu Bayu yang rapikan.'
Gian mengangguk. Ia mengarahkan mobil keluar setelah kendaraan di depan selesai berbelok. Kiana memperhatikan halaman yang perlahan menjauh, menunggu apakah ia akan mendapat pertanyaan tentang kunjungan semalam.
Tidak ada.
Mungkin lebih baik begitu. Ia belum tahu bagaimana menceritakan rasa hangat di rumah Bayu tanpa terdengar seperti sedang membesarkan sesuatu yang belum mempunyai nama.
Kiana merapikan tas di pangkuan, kemudian teringat alasan lain untuk berbicara.
'Gian, aku mau menagih janji.'
Lelaki itu menatap jalan. 'Janji apa?'
'Kamu pernah bilang mau antar ke makam. Waktu kakiku keseleo.'
Gian tidak langsung menjawab. Ia menunggu sampai melewati simpang yang dipenuhi anak-anak berangkat sekolah.
'Kakinya sudah tidak sakit?'
'Sudah enak dipakai jalan.'
'Naik bukan cuma berjalan di halaman.'
'Aku tahu. Makanya kali ini aku tidak berangkat sendirian.'
Gian mengangguk, tetapi Kiana dapat merasakan ada pertanyaan lain yang ditahannya. Ia lebih dahulu memandang pria itu.
'Aku tidak sedang habis menerima telepon yang bikin marah seperti waktu itu.'
'Aku belum bertanya.'
'Mukamu sudah.'
Gian mengeluarkan tawa pendek. Kiana menyadari dirinya mulai mengenali perbedaan antara bunyi itu dan tawa yang dipakai untuk menantangnya. Pagi ini ia tidak merasa sedang dipaksa membuktikan apa-apa.
'Aku libur Rabu,' kata Gian. 'Kamu?'
'Aku harus minta tukar jadwal dulu.'
'Kalau sudah jelas, baru kita tentukan.'
Kiana mengambil ponsel, hampir langsung mengirim pesan, lalu mengurungkannya. Ia akan menemui Dyah di klinik sebentar lagi. Tidak perlu membuat percakapan yang belum selesai terdengar seperti keputusan.
'Rabu pagi bisa?'
'Kalau kamu bisa berangkat lebih awal.'
'Jam berapa?'
'Enam. Kita lihat keadaan sebelum masuk.'
Kiana mengangguk. Ia memikirkan sepatu yang dipakai pada percobaan pertamanya, lalu menunduk melihat alas kaki kerja yang ada di kakinya sekarang.
Gian mengikuti arah matanya.
'Jangan pakai itu.'
'Aku juga tahu. Nggak mungkin pakai sepatu kerja.'
'Waktu pertama kamu kelihatannya juga yakin.'
Kiana hendak membantah, tetapi kemudian tertawa sendiri. Tidak ada alasan mempertahankan semua keputusan buruk hanya karena pernah dibuatnya.
Mobil berhenti di depan klinik. Gian tidak menahannya turun ketika ia membuka pintu.
'Kabari kalau jadwalnya sudah beres,' katanya.
Kiana mengangguk dan mengucapkan terima kasih sebelum menutup pintu.
Di dalam, kegiatan pagi sudah dimulai. Ia menyimpan rencana itu sampai ada waktu berbicara dengan Dyah. Seorang pasien memerlukan penjelasan ulang mengenai kunjungan yang sempat terlewat, lalu ada calon pendaki yang datang bersama rombongan. Kiana membantu sesuai tugasnya, tidak terus memeriksa jam seolah semua orang menghalangi urusan pribadinya.
Pada jeda siang ia menemui Dyah dan menyebut Rabu pagi yang ingin dipakainya. Ali dipanggil karena perubahan itu juga menyentuh pembagian pendampingan intern.
Mereka memeriksa siapa yang bertugas. Kiana menawarkan mengambil bagian tugas pengganti pada hari lain yang disepakati, lalu menjelaskan pasien yang perlu diteruskan kepada rekan selama ia tidak berada di klinik. Dyah baru menyetujui setelah yakin cakupannya cukup.
'Kalau cuaca membuat rencana berubah, beri kabar. Jangan menganggap harus memaksakan berangkat karena sudah mendapat izin,' pesannya.
'Baik, Dok. Terima kasih.'
Kiana keluar dengan perasaan yang tidak sepenuhnya ringan. Jadwal telah selesai, dan sekarang ia tidak dapat lagi menggunakan kesibukan sebagai alasan menunda kunjungan yang sudah diinginkannya sejak tiba.
Ia menemukan Bayu sedang merapikan perlengkapan setelah pemeriksaan. Pemuda itu menyapa dengan senyum yang langsung membuatnya teringat makan malam di rumah ibu.
'Ibu tanya rambutnya masih gampang disisir atau tidak.'
'Gampang. Bilang aku suka sekali.'
'Siap.'
Bayu meletakkan barang terakhir sebelum bertanya tentang perubahan jadwal yang baru didengarnya dari Ali.
'Kakak ada urusan Rabu?'
'Iya. Mau ke makam di dekat jalur pendakian.'
'Oh.'
Ekspresinya berubah, tetapi ia tidak langsung bertanya siapa yang akan didatangi. Kiana menghargai jeda tersebut. Ia belum ingin menceritakan kunjungan itu di tengah ruang kerja.
'Bareng siapa?' tanya Bayu setelah beberapa saat.
'Gian. Dia pernah menawarkan.'
Bayu melihat ke meja, lalu kembali menatapnya.
'Hati-hati, Kak.'
'Iya.'
Ia sempat hendak menanyakan apakah Bayu keberatan, tetapi berhenti. Mereka belum saling berjanji untuk menentukan dengan siapa masing-masing boleh pergi. Kiana tidak ingin mengubah rasa canggung menjadi permintaan izin yang tidak diperlukan.
'Kamu jaga malam ini, kan? Pengganti yang Sabtu.'
'Iya. Jadi pulangnya duluan saja, Kak.'
Kiana mengangguk. Sebelum kembali bekerja, Bayu menanyakan apakah ia mempunyai perbekalan yang cukup. Kiana menjawab akan memeriksa sendiri dan membeli yang kurang besok.
Sore itu ia mengirim kabar persetujuan kepada Gian. Balasan datang setelah pria itu selesai tugas: Rabu, pukul enam, jika keadaan memungkinkan.
Sebelum naik ke kamar, Kiana mendatangi Hannah yang sedang memeriksa persediaan di kafe. Ia menanyakan tempat membeli bunga.
'Bunga potong? Buat kamar?' tanya Hannah.
'Buat dibawa Rabu. Kalau bisa sedap malam.'
Hannah menyebut pedagang yang kadang berjualan di pasar. Ia menawarkan menanyakan persediaan lebih dahulu jika Kiana khawatir tidak mendapatkannya.
'Aku tanya sendiri besok saja, Kak. Tapi makasih petunjuknya.'
Hannah mengangguk. Kiana hampir berpamitan ketika melihat dua gelas di tepi meja hendak tersenggol tasnya. Ia segera memindahkan tas ke depan tubuh dan menahan gelas sebelum jatuh.
'Wah, nyaris tambah tagihan,' candanya.
Hannah tertawa, mengambil gelas itu untuk dibawa ke belakang. 'Gian sering bikin bercandanya kedengaran serius.'
'Iya. Itu bakatnya.'
Kiana meninggalkan kafe setelah memastikan Hannah tidak perlu dibantu lagi. Membicarakan bunga tanpa menjelaskan untuk siapa membuatnya sadar betapa sering dirinya menginginkan ruang yang sama seperti Gian. Ia berjalan lebih pelan saat melewati rumah pria itu.
Kiana menyimpan pesan tersebut, lalu membuka koper untuk mencari ransel yang lebih kecil. Ia mengeluarkan barang yang tidak perlu dibawa, memeriksa tali dan menaruhnya dekat meja.
Amplop Karin tetap berada di bawah pakaian.
Untuk Rabu nanti, ada orang lain yang ingin ditemuinya lebih dahulu.