Di kamar lima, Kiana melepas ikatan rambut dan menyisirnya dengan jari. Ujungnya tidak lagi tersangkut seperti tadi pagi. Ia menatap cermin kecil, memiringkan kepala, lalu tertawa sendirian ketika teringat Bayu menunjukkan potret rambut belah tengahnya.
Kunjungan ke rumah itu masih terasa dekat.
Ia menggantung kardigan dan hendak mengambil pakaian tidur ketika matanya jatuh pada tas jinjing dari Jakarta. Tas yang sama sudah dibawanya ke klinik beberapa kali, tetapi saku dalamnya tidak pernah dibuka sejak tiba di Lombok.
Kiana berhenti.
Amplop Karin masih ada di sana.
Ia dapat membiarkannya sampai besok. Bahkan sampai bulan depan. Tidak ada yang akan tahu jika benda itu hanya berpindah tempat bersama pakaiannya sampai ia kembali ke Jakarta.
Namun Kiana juga tahu dirinya selalu mengenali letaknya, meski pura-pura lupa.
Ia menarik kursi ke dekat meja, menyalakan lampu dan mengeluarkan amplop tersebut. Ujungnya sedikit terlipat. Ia meratakan kertas dengan telapak tangan sebelum membuka.
Foto itu masih sama.
Gala dengan kemeja biru yang pernah dipilih Kiana. Karin berdiri di sisinya, tersenyum kepada kamera. Kiana tidak perlu lagi bertanya hubungan apa yang mereka sembunyikan. Ia sudah mengetahui pengkhianatan itu sebelum meninggalkan Jakarta, juga kehamilan yang Gala coba hindari dalam percakapan mereka.
Tangannya tetap gemetar.
Mengetahui sesuatu tidak membuatnya selalu sanggup memandang bukti yang sama tanpa terluka.
Kiana meletakkan foto di meja. Dari jarak sedikit lebih jauh, ia melihat lobi di belakang kedua orang tersebut: lampu gantung, garis karpet dan sebagian papan nama pada dinding.
Ia mendekat lagi.
'Tunggu...'
Kiana mengambil ponsel dan mencari artikel yang dulu menghancurkan harinya. Ia hampir menutup layar ketika judul berita muncul, begitu cepat tubuhnya kembali mengingat suara orang berbisik di kantin.
Kali ini ia tidak membaca komentar.
Ia membuka gambar yang dipakai dalam berita, memperbesar bagian yang cukup jelas, lalu membandingkannya dengan foto cetak.
Lobi itu dikenalnya.
Hotel yang sama dengan tempatnya menemui seseorang untuk urusan yang tidak ingin diumumkan kepada semua rekan kerja. Pertemuan yang tidak pernah diberi kesempatan dijelaskan sebelum Gala melepas cincin.
Kiana memegang kedua sisi foto agar tidak membengkok. Ia meneliti latarnya sekali lagi, kemudian membaliknya.
Ada tanggal tercetak samar di belakang.
Untuk beberapa detik, pikirannya berlari terlalu cepat. Kalau mereka ada di sana pada hari yang sama, bagaimana mungkin Gala menatapnya dengan begitu yakin di kantin? Bagaimana mungkin ia bertanya seolah tidak pernah mempunyai rahasia?
Kiana sudah meraih ponsel ketika pandangannya kembali ke tulisan kecil pada kertas.
Tanggal cetak.
Ia berhenti sebelum menekan nama Gala.
Ia tidak tahu kapan foto itu diambil. Tulisan di belakang dapat berkaitan dengan proses mencetak, bukan peristiwa di depan kamera. Hotel yang sama juga belum mengatakan bahwa Gala melihat pertemuannya atau mengetahui siapa lelaki dalam berita.
Kiana mengusap kening.
'Aku belum tahu,' katanya kepada ruangan kosong.
Kalimat itu jauh lebih tidak memuaskan daripada kesimpulan yang baru saja hampir diterimanya. Ia ingin satu jawaban yang dapat membuat semua tuduhan kembali kepada orang yang menjatuhkannya. Ia ingin bertanya dengan suara keras dan mendengar Gala tak mampu membalas.
Tetapi ia sudah pernah merasakan orang lain menganggap dugaan sebagai kenyataan.
Kiana menaruh ponsel. Layar masih menampilkan gambar dirinya di hotel, dibekukan pada satu gerakan yang telah diberi cerita oleh orang-orang yang tidak mendengar apa yang dibicarakannya.
Ia menutup gambar itu dahulu.
Di foto cetak, kemeja Gala tampak tidak kusut. Kiana ingat memilih warnanya di sebuah toko, memikirkan apakah sesuai dengan kulit lelaki itu. Ia juga ingat bagaimana Gala mengucapkan terima kasih sambil memeluknya, dan betapa mudah ia percaya bahwa perhatian kecilnya diterima dengan cara yang sama.
Sekarang kemeja itu terasa seperti barang yang pernah dipinjamkan kepada orang asing.
Kiana mengusap pipi, baru menyadari air matanya sudah turun.
Ia mengambil tisu, menaruh foto jauh dari bagian meja yang basah, lalu duduk sampai napasnya tidak lagi tersendat. Tidak ada pertengkaran yang dapat dimulainya malam ini tanpa kembali kehilangan ketenangan yang baru saja dibawa pulang dari salon.
Ponsel bergetar.
Bayu memberi kabar sudah tiba di rumah. Ia juga mengatakan ibunya senang menerima tamu dan meminta Kiana datang lagi jika ingin dirapikan rambutnya.
Kiana menatap pesan tersebut lebih lama daripada perlu.
Ia bisa mengatakan dirinya sedang menangis. Bayu mungkin akan menelepon, mungkin menawarkan datang kembali. Namun ia belum ingin malam yang tadi mereka jalani berubah menjadi percakapan tentang Gala.
Makasih. Aku sudah di kamar. Salam buat Ibu.
Ia mengirim jawaban itu, lalu menaruh perangkat menghadap ke bawah. Ia tidak mengatakan semuanya baik-baik saja, tetapi juga tidak memaksa diri membuka seluruh luka kepada orang yang baru dikenalnya.
Sebelum mengembalikan foto ke amplop, Kiana mengambil satu gambar yang memperlihatkan bagian depan dan satu gambar tulisan di belakang, untuk mengingat apa yang sungguh dilihatnya malam ini. Sesudah itu, foto kembali tersimpan di dalam amplop. Ia tidak menambahkan keterangan bahwa kedua pertemuan terjadi pada hari yang sama.
Yang diketahuinya hanya satu tempat yang sama.
Karin telah datang ke apartemennya sambil mengaku sebagai penggemar. Kiana teringat kotak yang dibungkus cantik, senyum yang mula-mula dianggap dukungan, lalu sindiran tentang acara televisi. Ia sudah marah ketika meninggalkan barang Gala di rumah perempuan itu. Malam ini kemarahan tersebut datang lagi, tetapi tidak mempunyai kaki untuk membawanya kembali ke Jakarta.
Kiana menyimpan amplop di dasar koper, di bawah pakaian yang bersih. Benda itu tetap ada, tidak dibuang saat ia belum tahu apakah suatu hari akan diperlukan.
Sesudah menutup koper, ia membuka jendela sedikit.
Bintang masih terlihat di antara tepi atap dan langit. Ia teringat Bukit Selong semalam, tikar yang menggulung, dan Bayu yang berusaha menyembunyikan gugup saat tangannya disambut.
Hari ini ada salon, meja makan dan seorang ibu yang mempersilakannya datang lagi.
Semua itu juga terjadi, sama nyatanya dengan foto yang baru disimpan.
Kiana menutup jendela, mempersiapkan pakaian kerja untuk Senin, lalu mematikan lampu. Ia belum siap meminta penjelasan kepada Gala. Namun ia sudah menahan diri dari membuat jawaban yang belum dimilikinya.