Kiana hendak menanyakan biaya potong rambut. Ibu Bayu sedang melipat kain penutup yang sudah dilepasnya, lalu menunjuk Bayu yang masih memegang sapu.
'Rambutnya bereskan dulu. Jangan ditinggal sampai orang menginjak.'
'Iya, Bu.'
Kiana menunggu sampai lantai di dekat kakinya bersih sebelum melangkah. Ia kembali menanyakan pembayaran, membuat ibu menatapnya melalui cermin.
'Kamu datang sebagai tamu. Anggap saja hadiah kenalan.'
'Saya jadi nggak enak.'
'Kalau tidak enak, bilang rambutnya harus diperbaiki. Jangan soal bayar.'
Kiana tertawa. Bayu memindahkan hasil sapuan, lalu membawakan handuk yang tadi dipakai ke tempat cucian. Ketika kembali, ia mendapati ibunya sudah mengajak Kiana ke ruang tengah.
Di meja terdapat beberapa hidangan yang membuat Kiana langsung mengakui dirinya lapar.
'Ibu tadi masak sambil menunggu Bayu selesai kerja,' kata perempuan itu. 'Kupikir kalian pasti datang kalau sudah sama-sama selesai.'
Bayu mengambil piring. Kiana mencoba membantu, tetapi diminta duduk dahulu agar tidak bertabrakan di ruang yang sempit. Ia akhirnya menerima gelas dan memindahkannya ke sisi tempat mereka akan makan.
'Aku bantu yang ini saja, Bu.'
'Nah, boleh.'
Mereka duduk bertiga. Televisi menyala dengan suara kecil, tetapi tidak seorang pun benar-benar memperhatikan acaranya. Bayu mulai menjelaskan makanan seperti sedang mengantar tamu travel, membuat ibu menegurnya karena Kiana belum sempat menyuap.
'Biar dicoba dulu. Kalau terlalu banyak dijelaskan, nanti dingin.'
Bayu menyerahkan sendok sambal dengan wajah pasrah.
Kiana baru mencoba sedikit ketika rasa pedas membuatnya terdiam. Ia mengunyah perlahan, berusaha mempertahankan ekspresi yang wajar. Bayu langsung menyodorkan air.
'Pedas, Kak?'
'Enggak. Aku cuma sedang menimbang keputusan hidup.'
Ibu tertawa sampai menaruh sendoknya. Kiana ikut tertawa, lalu mengakui rasanya enak meski perlu lebih berhati-hati menambahkan sambal. Ibu menggeser hidangan lain agar ia bisa mengambil tanpa harus menjangkau melewati piring Bayu.
Percakapan beralih kepada pasien yang ditemui di klinik, kemudian pekerjaan ibu di salon. Kiana tidak menyebut nama atau keadaan pribadi pasien. Ia lebih banyak mendengar Bayu dan ibunya saling membantah tentang kebiasaan bangun kesiangan sesudah jaga.
'Kalau pulang malam ya tidur, Bu.'
'Ibu tidak melarang tidur. Ibu melarang menghabiskan lauk lalu meninggalkan wadah kosong dalam kulkas.'
Bayu menutup wajah dengan tangan.
Kiana menatap piringnya sambil tersenyum. Ia tidak ingat kapan terakhir menikmati makan malam yang percakapannya sesederhana ini. Tidak ada yang meminta ia tampil lebih kuat atau menjawab pertanyaan tentang berita.
Ibu sempat bertanya apakah orang-orang di rumah sering menelepon selama Kiana bertugas di Lombok. Kiana berhenti menyendok nasi, lalu menjawab bahwa ia sudah terbiasa tinggal sendiri.
'Ada teman-teman juga yang bisa dikabari, Bu.'
Bayu tidak mengulang cerita ibu Kiana yang didengarnya semalam. Ia justru meminta tambahan sayur dan menggeser mangkuk ke tengah meja. Ibu menerima jawaban tamunya, lalu menanyakan makanan yang ingin dicoba selama di Sembalun.
Kiana menyebut beberapa nama yang belum dikenalnya dengan benar. Percakapan kembali ringan. Ia berterima kasih dalam hati karena Bayu tidak memakai cerita pribadinya untuk membantu menjelaskan sesuatu yang belum ingin diuraikannya.
Sesudah makan, ia membantu membawa piring ke dekat dapur. Ibu mula-mula menolak, lalu menyerahkan dua gelas agar Kiana tidak terus berdiri menunggu tugas.
Bayu membersihkan meja. Dari tempatnya, Kiana dapat melihat ia menyimpan sisa makanan dalam wadah yang ditunjuk ibunya, sesekali bertanya supaya tidak salah tempat.
'Yang kosong jangan masuk kulkas lagi,' goda Kiana.
Bayu mengangkat wadah ke arah lampu. 'Ada isinya. Sudah diperiksa.'
Tawa mereka mengikuti langkah Kiana ke ruang tengah. Ia berhenti di dekat meja televisi, melihat deretan pigura yang bentuknya tidak seragam. Sebagian foto sudah sedikit pudar; sebagian lain tampak lebih baru.
Bayu kecil memegang piala dengan senyum yang hampir memenuhi wajahnya. Pada foto berikutnya rambutnya dibelah terlalu rapi. Kiana menoleh kepada orang aslinya dan langsung menunjuk gambar itu.
'Ini kamu?'
Bayu mendekat, lalu mengeluh pelan. 'Jangan yang itu, Kak.'
'Bagus. Seperti mau memimpin rapat.'
'Ibu yang nyisir.'
Dari dapur terdengar jawaban bahwa rambutnya memang perlu diatur agar tidak menutup mata. Kiana semakin tertawa ketika Bayu mengatakan potret tersebut tidak perlu dijelaskan kepada semua tamu yang datang.
Ia bergeser melihat foto lain: seragam sekolah, acara kelulusan, lalu jas putih. Ada yang dibingkai bersama ibu, ada yang hanya menampilkan Bayu sendiri.
'Yang paling kecil ini umur berapa?' tanyanya.
Bayu mencondongkan tubuh. 'Kayaknya tiga atau empat. Aku juga nggak ingat.'
'Foto bayi?'
Bayu diam sebentar sebelum mengangkat bahu.
'Nggak ada di sini. Kata Ibu hilang waktu pindah.'
Kiana mengangguk. Ia hendak bertanya rumah yang mana, tetapi tidak jadi. Dari sudut matanya terlihat ibu berhenti menggosok piring. Gerakan itu hanya sesaat, sebelum air kembali mengalir dan bunyi peralatan memenuhi dapur.
Kiana melihat lagi foto yang dipegangnya, lalu mengembalikan ke posisi semula.
'Banyak sekali kenangannya,' katanya.
Bayu tersenyum. 'Ibu yang rajin menyimpan.'
Ibu masuk membawa buah yang sudah dipotong. Kiana memilih tidak melanjutkan pertanyaan mengenai benda yang tidak ada. Ia mengambil satu potong dan mengucapkan terima kasih, lalu duduk sampai waktunya berpamitan.
Di depan pintu, ibu memeluknya dengan singkat dan menepuk bahunya.
'Datang lagi. Kalau cuma ingin duduk, juga boleh.'
Kiana mengangguk, mendadak sulit menemukan jawaban yang tidak terdengar terlalu kecil dibandingkan perasaannya.
'Makasih banyak, Bu.'
Bayu menunggu sampai mereka selesai berpamitan sebelum menyerahkan helm. Ibu mengingatkannya membawa motor dengan tenang, dan pemuda itu mengangguk tanpa mengejek kekhawatirannya.
Dalam perjalanan, Kiana menyentuh ujung rambut yang keluar dari bawah helm. Ia sudah makan, sudah tertawa, dan masih membawa kehangatan tangan ibu di bahunya.
Sesampainya di paviliun, ia turun dan mengembalikan helm. Bayu menunggu sampai gerbang terbuka sebelum berangkat pulang.
Di rumahnya, ibu kembali menatap deretan pigura. Ia membetulkan foto yang tadi dilihat Kiana, merapikan tepinya sampai sejajar dengan yang lain. Di ujung meja masih tersisa ruang kecil tanpa bingkai.
Perempuan itu membiarkannya kosong.