Minggu pagi, Bayu mengirim foto termos yang sudah dikembalikan ke tempatnya. Di samping benda itu ada secarik pesan ibu yang mengingatkan agar ia tidak lupa makan sebelum mulai menjemput tamu.
Kiana membalas dengan gambar roti yang baru dihabiskannya.
Tidak ada yang bisa menyalahkan kita hari ini.
Bayu menjawab bahwa ibunya selalu dapat menemukan alasan lain, lalu mengatakan ia akan berangkat menjalani tugas travel mulai pukul sepuluh. Ia baru dapat memastikan waktu bertemu setelah pengantaran terakhir selesai sore hari.
Kiana menyimpan ponsel sebelum masuk ke klinik. Ada seorang pasien yang perlu dilihat kembali, sementara tim lain tetap menangani pengunjung yang datang. Ia tidak terburu-buru menyelesaikan pekerjaan hanya karena membayangkan kunjungan salon. Sesudah tugasnya beres, ia menyampaikan hal yang perlu diteruskan kepada Ali sebelum berpamitan.
Pesan Bayu masuk ketika Kiana sudah kembali ke paviliun.
Pengantaran selesai. Ibu masih di rumah. Kalau Kakak masih mau, aku jemput setelah bersih-bersih sebentar.
Kiana membaca ulang, lalu menyentuh ujung rambutnya. Ia belum merencanakan potong rambut, tetapi teringat cerita tentang Bu Siti membuatnya tersenyum.
Ia membalas bersedia datang.
Bayu tiba menjelang petang dengan motor yang sama. Kali ini tidak ada tikar atau termos di tasnya. Ia membawa sebotol air untuk dirinya, dan wajahnya terlihat lebih tenang daripada sebelum perjalanan melihat bintang.
'Capek?' tanya Kiana ketika mendekat.
'Lumayan. Tapi tadi sempat istirahat. Kakak?'
'Penasaran ingin ketemu Bu Siti.'
Bayu menutup mata. 'Jangan bilang begitu di depan Ibu. Nanti aku dibahas terus.'
Kiana tertawa dan mengenakan helm. Perjalanan ke rumah Bayu lebih singkat daripada yang dibayangkannya. Dari depan terlihat papan Salon Inaq Bayu, dengan pintu yang terbuka dan cahaya terang dari dalam.
'Inaq Bayu?' Kiana membaca pelan ketika turun.
'Pelanggan yang mulai memanggil begitu. Ibu akhirnya pakai nama itu.'
'Bagus. Orang langsung tahu siapa anak kesayangannya.'
'Anaknya satu, Kak. Mau dibandingkan sama siapa?'
Kiana masih tertawa ketika seorang perempuan dengan rambut disanggul muncul dari dalam. Bayu belum sempat memperkenalkan mereka sebelum ibunya menyebut nama Kiana.
'Ini dia. Yang bikin anak Ibu merapikan rambut sampai lama sekali.'
'Ibu!'
Kiana mengulurkan tangan sambil mengucap salam. Ibu menyambutnya dengan kedua tangan, memandang wajahnya beberapa detik, lalu tersenyum lebar.
'Waalaikumsalam. Masuk, Nak. Bayu sudah cerita kamu mau datang.'
'Makasih kuenya semalam, Bu. Enak sekali.'
'Ibu senang ada yang makan tanpa lupa membereskan bungkusnya.'
Bayu baru hendak membuka mulut ketika ibu menatapnya.
'Iya. Aku sudah buang ke tempatnya, Bu.'
Kiana ikut membenarkan, membuat ibu tertawa. Mereka melewati kursi salon yang sudah kosong. Di dekat cermin ada botol semprot, beberapa sisir dan kain penutup yang terlipat. Tempat itu menyatu dengan rumah melalui ruang di belakang meja rendah.
Pandangan Kiana berhenti pada kepala manekin di salah satu sudut. Kertas kecil masih menempel di beberapa bagiannya.
'Bu Siti,' bisiknya.
Bayu menundukkan wajah.
Ibu segera menoleh. 'Sudah diceritakan juga? Ya ampun, Bayu.'
'Kak Kiana yang nanya!'
'Aku tidak nanya nama manekinnya,' balas Kiana sambil tertawa.
Ibu menggeleng, lalu menunjuk kursi di depan cermin agar tamunya dapat duduk. Ketika Kiana melepas ikatan rambut, perempuan itu memperhatikan ujung yang jatuh melewati bahunya.
'Boleh Ibu lihat?'
Kiana mengangguk. Ibu meraih beberapa helai dengan lembut, menunjukkan bagian ujung yang tidak rata melalui cermin.
'Ini dirapikan sedikit saja bisa lebih enak disisir. Kamu mau? Tidak harus sekarang kalau tidak ingin.'
Kiana memandang pantulan dirinya. 'Kalau sedikit, boleh, Bu. Saya masih mau bisa diikat kalau kerja.'
'Bisa. Segini?'
Ibu menunjukkan batas dengan jarinya. Kiana menyetujui sebelum kain penutup dipasang. Bayu diminta mengambil handuk bersih dan segera bergerak, kali ini tanpa sempat membuat lelucon.
Kiana memperhatikan ibu memilih sisir, lalu merasakan gerakan perlahan dari dekat kepala sampai ujung rambut. Ada bagian yang tersangkut. Ibu berhenti, memegang helai tersebut lebih dekat sebelum mengurainya agar tidak tertarik.
'Sakit?'
'Nggak, Bu.'
'Kalau sakit, bilang. Jangan karena baru kenal jadi diam saja.'
Kiana tersenyum. Ia tidak sadar kapan kedua bahunya mulai turun dan tubuhnya bersandar lebih nyaman pada kursi.
Bayu kembali membawa handuk, lalu berdiri dekat pintu. Ibu menyuruhnya duduk daripada membuat Kiana merasa sedang ditonton.
'Aku mau bantu kalau perlu.'
'Bantu ambil sapu nanti.'
Kiana menutup mulut menahan tawa. Bayu mengangkat kedua tangan, menyerah, kemudian mengambil tempat di bangku samping.
Ibu mulai merapikan rambut sambil bercerita tentang Bayu yang suka memberi nama benda ketika kecil. Kiana mendengar bahwa beberapa sisir pernah disembunyikan karena menurut Bayu pelanggan terlalu sering datang saat ia ingin mengajak ibu bermain.
'Kamu menyabotase usaha sendiri?' tanya Kiana.
'Waktu itu belum tahu arti usaha, Kak.'
'Ibu sampai beli sisir lagi,' tambah ibunya.
Bayu hendak membela diri, tetapi Kiana sudah tertawa. Tawanya mereda ketika ibu kembali menyisir rambut dari bagian atas, merapikan posisi kepala dengan sentuhan ringan.
Tiba-tiba matanya basah.
Ibu menghentikan gunting. 'Kenapa, Nak? Ketarik?'
Kiana menggeleng cepat. Ia meraih tisu yang disodorkan Bayu, malu karena keduanya kini tampak cemas.
'Bukan. Saya cuma ingat waktu masih disisirin Ibu.'
Ibu Bayu diam sebentar. Tangannya tetap berada di dekat bahu Kiana, menunggu sampai perempuan itu mengangkat wajah.
'Kalau mau berhenti dulu, boleh.'
'Saya mau lanjut, Bu.'
Ibu mengangguk dan kembali bekerja. Bayu tidak melontarkan pertanyaan tentang ibunya. Ia hanya menaruh kotak tisu dalam jangkauan, kemudian duduk kembali.
Sesudah potongan terakhir dibersihkan, ibu menunjukkan bagian belakang melalui cermin kecil. Kiana memiringkan kepala, menyentuh ujung rambut yang kini terasa lebih ringan, lalu mencoba mengikatnya.
Masih bisa.
'Bagus sekali, Bu. Saya suka.'
Di cermin, Bayu mengacungkan kedua ibu jarinya. Kiana membalas dengan senyum yang belum hilang ketika ia berdiri.
Senyum ibu merekah. Ia melepaskan kain penutup setelah Bayu mengambil sapu, lalu mengusap beberapa helai yang menempel pada bahu Kiana.
'Kalau begitu, jangan buru-buru pulang. Ibu sudah menyiapkan makan.'