Bayu menurunkan gelasnya. Ia menunggu Kiana melanjutkan, tetapi perempuan itu justru tersenyum sendiri sambil memandang langit.
'Dulu aku sering salah menunjuk,' katanya. 'Ibu bilang yang satu rasi ini, aku tunjuk yang lain. Terus marah karena bentuknya nggak mirip gambar di buku.'
'Ibu Kakak hafal semuanya?'
'Menurut anak kecil, iya. Menurutku sekarang, mungkin beliau juga baca buku dulu sebelum ngajarin aku.'
Bayu tertawa kecil. Kiana ikut tertawa, merasakan kenangan itu kembali dengan warna yang lebih hangat daripada yang diduganya. Selama ini mengingat ibu hampir selalu berarti mengingat kehilangan. Malam ini ia ingat bagaimana ibunya bisa kesal ketika kuas dibiarkan kotor di tepi jendela.
'Beliau guru seni,' lanjutnya. 'Kadang kami gambar langit. Kertas hitam, terus aku kasih titik putih sebanyak mungkin.'
'Semua dianggap bintang?'
'Semua. Termasuk yang belepotan karena lenganku kena cat.'
'Pernah aku tumpahkan air ke gambar yang sudah selesai,' tambah Kiana. 'Aku nangis, Ibu malah ambil kertas lain. Besoknya baru ngajarin supaya gelasnya jangan ditaruh dekat siku.'
'Gambarnya diulang?'
'Nggak sama. Tapi akhirnya ada gambar lain.'
Kiana mengusap lututnya. Ia masih dapat mengingat betapa lega tidak dimarahi pada hari itu.
Bayu mengambil sepotong kue, lalu menawarkan bungkusan kepada Kiana. Ia menerima, mematahkan ujungnya sebelum makan.
'Ibu yang kasih nama Lukis?' tanya Bayu.
Kiana menoleh. 'Kamu ingat nama lengkapku?'
'Kiana Lukis Jingga. Susah dilupakan, Kak.'
Ia tersenyum, kemudian kembali memandang gelas di tangan.
'Iya. Katanya supaya aku tetap bisa bikin sesuatu yang bagus, walaupun nggak semua hari terasa bagus.'
'Berhasil, dong.'
'Kamu belum lihat lukisanku.'
'Bukan cuma lukisan.'
Bayu berhenti setelah mengatakan itu. Kiana melihat ia sedang mencari kata berikutnya dan tidak membantunya dengan lelucon. Ia ingin mendengar apa yang benar-benar hendak dikatakan pemuda tersebut.
'Waktu Amaq yang kakinya luka itu bingung soal pekerjaan, Kakak nggak langsung menyuruhnya diam dan menerima. Itu bagus.'
'Kamu juga ikut bantu.'
'Berarti kita berdua bagus,' kata Bayu, lalu tersenyum malu pada keberaniannya sendiri.
Kiana tertawa. Ia menaruh sisa kue di atas kertas dan mengusap ujung jari yang terkena remah. Angin terasa lebih dingin sekarang, tetapi ia belum ingin beranjak.
'Ibu Kakak masih suka melukis?' tanya Bayu kemudian.
Pertanyaannya membuat Kiana diam.
Pemuda itu menunggu beberapa detik, lalu perlahan menurunkan wajahnya.
'Udah nggak ada,' jawab Kiana. 'Waktu aku tujuh tahun.'
Bayu mengeratkan genggaman pada gelas. 'Maaf, Kak.'
'Nggak apa-apa. Kamu memang belum tahu.'
'Aku bisa nggak nanya kalau...'
'Aku yang mulai cerita.'
Kiana tersenyum agar ia tidak terus menyalahkan diri. Ia tidak ingin malam yang menyenangkan berubah menjadi ujian menebak bagian hidup mana yang boleh disentuh. Ada sedih yang datang, tentu saja. Namun sekarang ia dapat mengatakannya tanpa harus bersembunyi di kamar mandi rumah sakit.
'Aku masih bawa kotak cat beliau,' katanya. 'Sebagian sudah lama sekali. Entah masih bisa dipakai apa nggak.'
'Dibawa sampai sini?'
'Iya. Waktu beres-beres apartemen, rasanya aneh kalau ditinggal. Padahal kalau dibawa juga belum tentu disentuh.'
Bayu mengangguk. Ia tidak menyuruhnya membuka kotak itu besok atau menjanjikan bahwa melukis akan menyelesaikan semuanya.
'Kalau nanti mau coba, aku mau lihat,' katanya.
Kiana memandangnya. 'Kamu tadi bilang belum pernah lihat lukisanku.'
'Makanya mau lihat.'
'Kalau jelek?'
'Aku juga bukan juri pameran, Kak.'
Tawa Kiana kembali. Ia mengangkat gelas, baru menyadari isinya sudah habis. Bayu menambah sedikit wedang sebelum menutup wadah agar sisa minuman tetap hangat.
'Ibuku beda,' katanya kemudian. 'Kalau bikin langit, paling pakai kain buat latar orang foto habis potong rambut.'
Kiana mengerutkan kening, lalu tertawa lagi ketika Bayu menjelaskan kebiasaan ibunya memotret hasil pekerjaan salon dari beberapa sudut.
'Padahal orangnya mau pulang. Ibu masih bilang, tunggu, yang kanan belum.'
'Ibumu punya jiwa seni juga.'
'Betul. Kalau rambutku dibiarkan berantakan, beliau yang paling tersiksa.'
Bayu merapikan rambutnya sendiri. Kiana memiringkan kepala, berpura-pura sedang memeriksa hasilnya.
'Sekarang rapi.'
'Dua kali percobaan, Kak.'
'Cuma dua?'
'Oke. Mungkin lebih.'
Ia bercerita tentang manekin salon yang pernah dipakai ibunya untuk menemaninya belajar sebelum masuk kedokteran. Kertas-kertas kecil ditempel pada kepala benda itu, lalu ibu menguji nama yang sudah dibacanya. Mereka memanggil manekin tersebut Bu Siti.
Kiana sampai menutup mulut agar tidak tertawa terlalu keras.
'Kamu pernah salah jawab ke Bu Siti?'
'Sering. Untung beliau tidak bisa memarahiku.'
'Tapi ibumu bisa.'
'Nah, itu.'
Bayu memandangi remah di atas pembungkus. Senyumnya melunak ketika mengatakan bahwa ibunya selalu berusaha membuat rumah terasa cukup meskipun harus bekerja sepanjang hari.
'Kadang kalau ada yang kurang, aku baru tahu belakangan. Waktu kecil pikirku semua memang selalu ada.'
'Ayahmu?' tanya Kiana pelan.
Bayu mengangkat bahu. Ia tidak bercerita banyak. Hal-hal mengenai ayah bukan percakapan yang biasa dibukanya bersama ibu, dan ia belum tahu bagaimana mengatakannya malam ini.
Kiana tidak meneruskan pertanyaan.
'Kalau nanti aku datang ke salon, jangan sampai Bu Siti yang potong rambutku.'
Bayu tertawa lega. 'Ibu pasti merebut guntingnya duluan.'
Mereka tinggal beberapa lama sebelum memutuskan turun. Bayu menghabiskan minuman terakhirnya, Kiana membantu mengumpulkan pembungkus dan memastikan tidak ada yang tertinggal di bawah tikar. Senter kembali dinyalakan setelah semua barang masuk tas.
Di perjalanan turun mereka lebih sedikit bicara. Kiana memperhatikan pijakan, sesekali berhenti agar Bayu dapat menyesuaikan ranselnya. Motor dan helm masih berada di tempat parkir yang sama.
Ketika tiba di paviliun, Kiana mengembalikan helm dan menunggu Bayu menyimpannya.
'Makasih malam ini.'
'Aku juga, Kak.'
'Terus sampaikan makasih buat kuenya.'
'Sampaikan sendiri besok kalau sempat. Aku selesai travel sore. Nanti kutanya Ibu dulu waktunya.'
Kiana mengangguk. Ia tidak memastikan kunjungan sebelum mengetahui jadwalnya sendiri, tetapi sudah merasa ingin bertemu perempuan yang membuat anaknya membawa kue untuk orang lain.
Bayu menunggu sampai Kiana masuk gerbang, lalu menyalakan motor. Di tangga, Kiana sempat berbalik dan melambaikan tangan. Malam itu ia membawa pulang cerita tentang ibunya tanpa merasa semuanya telah berubah menjadi kesedihan.