Gian sedang membaca berkas di kafe ketika sebuah piring kecil diletakkan di meja. Ia mengangkat wajah dan menemukan Kiana sudah siap dengan tas jinjing serta rambut terikat rapi.
'Inventaris kembali,' kata perempuan itu. 'Sudah dicuci.'
'Penutupnya?'
Kiana menunjuk benda yang berada tepat di atas piring. 'Kalau penglihatannya masih bagus, harusnya kelihatan.'
Gian menurunkan berkas. Sudut bibirnya bergerak sedikit.
'Tidak terlambat bangun hari ini?'
'Saya mengatur alarm sendiri, Pak. Terima kasih atas kekhawatirannya.'
Ia hendak menyerahkan piring kepada pelayan, tetapi Kiana sudah membawanya ke tempat pengembalian. Sesudah itu ia berdiri di dekat pintu, melihat Gian belum bergerak.
'Kamu belum berangkat?'
'Tunggu satu halaman.'
Kiana tidak menyahut lagi. Ia memeriksa isi tas, memastikan sneli tidak tertinggal. Ketika Gian akhirnya menutup map, ia ikut berjalan ke mobil tanpa perlu memulai percakapan tentang kejadian kemarin.
Baru setelah memasang sabuk, Kiana menoleh.
'Goro-goronya enak. Makasih.'
Gian menyalakan kendaraan. 'Sudah dibalas di pesan.'
'Aku ngomong langsung juga boleh, kan?'
'Boleh.'
Kiana tertawa kecil. Di dalam mobil masih tercium aroma biji kopi. Ia melihat kantong pengharum yang tergantung, hendak berkomentar, kemudian memilih membuka jendela sedikit. Pagi terlalu menyenangkan untuk memulai perdebatan tentang jeruk.
Klinik sudah ramai ketika mereka tiba. Bayu berada di teras dengan beberapa lembar nomor antrean. Ia melambaikan tangan, lalu kembali menjelaskan sesuatu kepada calon pendaki yang tampak kebingungan.
Kiana turun setelah mengucapkan terima kasih kepada Gian.
'Pulangnya jam berapa?' tanya lelaki itu sebelum ia menutup pintu.
'Belum tahu. Lihat pekerjaan dulu.'
'Kalau butuh, kabari.'
Ia mengangguk. Mobil baru bergerak setelah Kiana menutup pintu dan menjauh dari sisinya.
Bayu menghampiri ketika kelompok pendaki sudah masuk.
'Selamat pagi, Dokter Kiana!'
'Pagi. Kamu semangat banget.'
'Sudah sarapan.'
'Pantesan. Aku baru makan roti.'
'Nanti kalau lapar, bilang. Jangan menatap kotak makan saya terus.'
Kiana tertawa. Ia mengenakan sneli sebelum masuk ke ruang pemeriksaan, lalu bertemu Dyah yang memberi kabar tentang pasien yang sudah menunggu. Seorang porter datang dengan telapak kaki terluka setelah turun dari jalur pendakian. Ia tidak ikut mengantre bersama rombongan yang meminta surat kesehatan.
Lelaki itu duduk sambil memegang sandal yang salah satu talinya terlepas. Melihat Kiana mendekat, ia mencoba berdiri.
'Duduk saja, Pak. Biar kami lihat dulu.'
Bayu mengambil kursi kecil dan membantu menyediakan ruang untuk kaki pasien. Ketika lelaki itu mulai menjelaskan dengan bahasa yang lebih nyaman baginya, Bayu mendengarkan, lalu menyampaikan bagian yang diperlukan kepada Kiana.
'Beliau tetap jalan sampai bawah setelah terluka,' katanya. 'Takut rombongan menunggu.'
Kiana memandang pasiennya. 'Sekarang masih ada rencana membawa barang lagi?'
Lelaki itu mengangguk, kemudian meringis ketika mengubah posisi kaki.
Bayu menahan sandalnya agar tidak jatuh. Ia mengajukan pertanyaan tambahan dengan nada yang membuat pasien kembali menatap wajah mereka, bukan hanya lantai.
Pemeriksaan dan perawatan berjalan tanpa tergesa. Kiana sesekali meminta Bayu menjelaskan temuannya, lalu menambahkan hal yang perlu diperhatikan. Perawat membantu sesuai pembagian kerja mereka. Ketika pasien berusaha mengintip sambil menahan napas, Bayu mengajaknya membicarakan sandal yang sudah berkali-kali diperbaiki.
'Sandal itu lebih kuat dari saya, Dok,' ujar lelaki tersebut akhirnya.
'Kalau begitu, hari ini sandalnya juga perlu libur,' balas Bayu.
Tawa singkat memecah ketegangan. Kiana menunggu sampai pasien kembali tenang sebelum meneruskan pekerjaannya.
Sesudah selesai, ia menjelaskan tindak lanjut dan perlunya memberi waktu pada kaki tersebut untuk pulih. Wajah lelaki itu justru berubah lebih cemas.
'Kalau saya tidak naik, yang bayar sekolah siapa, Dok?'
Kiana berhenti merapikan alat.
Bayu duduk kembali. Ia tidak langsung menjawab bahwa ada keluarga yang pasti dapat menggantikan. Ia menanyakan apakah rombongan berikutnya sudah mengetahui keadaan pasien.
'Belum. Saya pikir bisa cepat selesai di sini.'
'Boleh hubungi orang yang mengatur keberangkatan dulu? Biar Bapak tidak ditunggu tanpa kabar.'
Lelaki itu merogoh ponsel, lalu menggeleng karena pulsanya habis. Bayu meminjamkan perangkatnya setelah nomor disebutkan. Ia tidak memutuskan pembatalan atas nama pasien; ia menunggu lelaki itu menjelaskan sendiri mengapa perlu pengganti.
Percakapan berlangsung singkat, tetapi cukup membuat bahunya turun.
'Adik saya bisa bantu bawa sebagian. Saya masih bisa urus barang di bawah.'
Kiana mengangguk, lalu memastikan ia memahami batas kegiatan dan kapan perlu kembali diperiksa. Mereka tidak menjanjikan semua persoalan penghasilan selesai pada pagi itu. Setidaknya, ia tidak lagi harus pergi dengan rombongan yang mengira dirinya sehat.
Sebelum meninggalkan ruangan, pasien meminta selembar kertas untuk mencatat waktu kunjungan berikutnya. Bayu memberikannya dan menunggu sampai tulisan dapat dibaca.
Beberapa menit kemudian seorang lelaki datang membawa sandal pengganti. Pasien memanggilnya adik dan langsung mulai menjelaskan letak barang yang harus diambil di tempat penginapan tamu. Bayu membantu mereka berpindah ke bangku teras agar pintu pemeriksaan tetap lapang.
Lelaki yang baru datang itu sempat mengajak kakaknya segera berangkat. Pasien justru menunjukkan kertas di tangan dan mengatakan ia perlu menunggu petunjuk terakhir dahulu. Kiana mengulangi bagian yang ditanyakan sebelum melepas mereka, lalu melihat keduanya membagi pekerjaan melalui percakapan yang jauh lebih tenang.
Kiana memperhatikan cara Bayu mengulangi penjelasan tanpa terdengar tidak sabar.
Sesudah pasien dibantu ke teras, mereka membereskan ruang dan melengkapi catatan. Bayu baru berhenti bergerak ketika Kiana menyebut namanya.
'Kamu bagus sekali tadi.'
'Tadi yang mana?'
'Waktu Bapak itu bilang soal sekolah. Kamu dengarkan dulu.'
Bayu menunduk, merapikan pena yang sebenarnya sudah berada di tempatnya.
'Saya juga nggak tahu harus jawab apa, Dok.'
'Tidak langsung punya jawaban bukan berarti kamu gagal membantu.'
Ia mengangguk pelan. Kiana mengambil air dan menyodorkan botol lain yang masih tertutup. Bayu menerimanya, lalu senyumnya kembali seperti saat menyambut pagi.
'Kak... boleh bicara sebentar kalau pekerjaan ini sudah selesai?'
Kiana melihat ke pintu, memastikan pasien berikutnya belum dipanggil perawat.
'Soal pekerjaan?'
'Bukan. Soal yang dulu gagal di kafe.'
Gian melintas dalam ingatan keduanya. Kiana mulai tersenyum sebelum Bayu menyelesaikan kalimat berikutnya.
'Aku punya ide. Kali ini mungkin nggak perlu pesan cappuccino.'