Kiana sudah mematikan lampu ketika memutuskan dirinya belum bisa tidur. Ia meraih ponsel, menyalakan layar, lalu kembali meletakkannya. Dari jendela masih terlihat cahaya serambi rumah Gian.
Ia berbalik menghadap dinding.
Tidak membantu.
Di kepalanya, percakapan sore tadi terus kembali dengan urutan yang sama. Kalimat Gian terasa kasar, lalu jawabannya sendiri terasa tidak lebih baik. Ia ingin mengatakan tidak bermaksud menyakiti. Namun ia juga ingat betapa marahnya ketika orang lain merasa boleh menjelaskan hidupnya tanpa mendengar persetujuannya.
Kiana duduk dan menyalakan lampu kecil di samping kasur.
Ia membuka percakapan dengan Gian. Nama kontak itu tampak terlalu resmi untuk pertengkaran yang begitu pribadi: Gian Rimba Polhut.
Kiana mengetik panjang. Ia menjelaskan rasa penasaran, letak boks dan kekeliruannya menganggap barang tersebut milik tamu terdahulu. Setelah membaca ulang, ia menghapus hampir semuanya.
Ia sudah mengatakan alasan itu sore tadi.
Yang belum dikatakannya adalah bahwa ia akan berhenti mencari jalan lain untuk memperoleh jawaban.
Maaf sudah buka barangmu tanpa izin. Aku sudah tutup lagi. Aku nggak akan tanya orang lain tentang isinya.
Pesan terkirim.
Kiana memandangi layar sampai punggungnya terasa pegal. Tanda dibaca muncul, tetapi tidak ada jawaban. Ia menarik selimut ke pangkuan, berusaha tidak langsung mengartikan diam sebagai penolakan baru.
Di rumah sebelah, Gian membaca pesan tersebut setelah selesai membersihkan sepatu. Ia menaruh ponsel pada meja, berdiri, kemudian duduk lagi ketika menyadari tidak punya tujuan.
Boks-boks itu masih ada di kamar lima. Kiana berhak memerlukan ruang untuk barangnya sendiri. Ia bisa meminta barang lama dipindahkan, bukan membuka semuanya. Gian memikirkan hal tersebut cukup lama untuk mengakui bahwa percakapan mereka sore tadi telah berhenti sebelum ada jalan keluar yang dapat dibicarakan.
Ponselnya masih terbuka pada pesan Kiana.
Ia mengetik satu kata, menghapusnya, lalu mematikan layar.
Dari arah kafe terdengar kursi digeser. Gian mengambil jaket dan keluar. Pekerja yang sedang merapikan meja berhenti ketika melihatnya datang.
'Masih ada yang bisa dimakan?'
'Kue kering ada, Pak. Goro-goro juga baru datang sore tadi.'
Gian melihat wadah yang ditunjukkan. Beberapa potong camilan tersusun di atas daun, berbeda dari hidangan yang pernah diminta disiapkannya ketika Kiana meninggalkan kafe beberapa hari lalu.
'Itu bisa dihangatkan?'
'Bisa. Untuk di sini?'
Gian menggeleng. 'Piring kecil saja. Satu.'
Pekerja itu bergerak ke bagian belakang. Gian menunggu di dekat meja kasir, mengambil selembar kertas kosong yang biasa dipakai mencatat pesanan. Ia meminjam pena, lalu menatap kertas tersebut seolah sedang diminta menulis sesuatu yang lebih sulit daripada laporan patroli.
Maaf membuatmu tidak nyaman.
Ia mencoret kalimat itu. Kiana memang salah membuka boks. Ia juga tidak ingin menyerahkan makanan bersama sesuatu yang terdengar seperti tuntutan agar perempuan itu melupakan kejadian sore tadi.
Gian membalik kertas.
Biar mood-nya bagus. Jenis yang dulu kamu tolak.
Dari belakang terdengar bunyi wadah jatuh. Gian menoleh dan mendapati pekerja itu membungkuk mengambil penutup yang tergelincir.
'Maaf, Pak. Saya kira ukuran yang ini cukup.'
Gian mendekat. Piringnya ternyata terlalu lebar untuk penutup yang tersedia. Ia mengangkat piring tersebut, meminta beberapa potong dipindahkan ke piring lebih kecil, lalu membantu menahan nampan ketika orang itu mengambil tutup yang bersih.
'Sisanya simpan untuk kalian,' katanya.
Ia baru menyadari belum makan malam ketika aroma makanan hangat semakin dekat. Gian mengambil satu potong untuk dirinya sendiri dan menunggu sampai habis sebelum meraih kertas catatannya lagi.
Ia membaca sekali, melipatnya, kemudian menerima piring yang sudah bertutup.
'Biar tidak kena debu di tangga,' katanya, meskipun pekerja itu tidak bertanya.
Ia naik setelah memastikan tak ada tamu yang sedang keluar membawa koper. Di depan kamar lima, Gian menaruh piring di sisi pintu yang tidak akan terhantam ketika dibuka. Ia mengetuk dua kali, menunggu bunyi gerakan dari dalam, lalu turun.
Kiana membuka pintu sambil merapatkan kardigan.
'Ya?'
Lorong kosong. Ia sempat melihat ke arah tangga sebelum menunduk. Piring bertutup anyaman berada di lantai, dengan lipatan kertas diselipkan di tepinya.
Kiana berjongkok. Udara hangat menyentuh jarinya ketika penutup diangkat sedikit. Ia mengenali bentuk camilan itu meskipun sebelumnya hanya mendengar namanya ketika Gian memesan.
Setelah membawa semuanya masuk, ia membaca catatan.
'Jenis yang dulu kamu tolak,' ulangnya lirih.
Ia kembali ke ambang, melongok dari pagar lantai dua. Gian sudah duduk di serambi rumahnya, ponsel di tangan. Ketika Kiana mengangkat piring, lelaki itu justru menunduk lebih jauh pada layar.
Senyum kecil muncul tanpa berhasil ditahan.
Kiana menutup pintu dan duduk di meja, menjauh dari kasur agar remah tidak tersebar. Ia mematahkan sepotong dengan ujung sendok, mencicipinya, lalu mengangguk sendirian. Manisnya membuatnya teringat teh yang tadi tidak jadi diminum.
Ponsel berbunyi.
Piring dan penutupnya besok kembalikan ke kafe.
Kiana tertawa pendek.
Inventaris juga?
Balasan datang hampir segera.
Iya. Jangan disimpan di boks.
Tawa Kiana berhenti sesaat. Ia membaca kalimat itu lagi, lalu melihat tanda pesan berikutnya sedang diketik.
Boksnya biarkan dahulu. Nanti kalau perlu dipindahkan, bilang aku.
Kiana mengembuskan napas dan membalas bahwa barangnya masih cukup ditempatkan di sisi lain. Ia tidak menambahkan pertanyaan tentang foto atau nama pada ijazah.
Lalu ia mengetik terima kasih untuk makanannya.
Enak. Besok piringnya aku cuci dulu.
Gian menjawab singkat bahwa tidak perlu bangun terlalu siang kalau harus bekerja.
Kiana mendengus. Ia menaruh ponsel di samping piring, tetapi tidak lagi merasa perlu mengirim pembelaan diri. Percakapan mereka belum menjadi dekat. Ia pun tidak tahu apa yang disimpan Gian dalam tumpukan itu.
Malam ini ia bisa membiarkannya begitu.
Sesudah makanan habis, Kiana mencuci piring dan mengeringkannya. Ia menaruh penutup di atasnya, lalu menyiapkan keduanya dekat tas agar tidak tertinggal besok. Catatan kecil dipindahkan ke laci meja, tidak diselipkan ke dalam barang milik orang lain.
Ketika mematikan lampu, ia masih mendengar kursi di serambi bergeser. Kiana menarik selimut dan memejamkan mata. Kali ini, ia tidak meraih ponsel lagi.