'Jadi, kali ini mau ke mana?' tanya Kiana.
Bayu melihat ke arah pintu. Perawat masih membantu pasien mengatur waktu kunjungan berikutnya. Ia merapatkan botol air di tangan, seolah benda itu dapat membuat penawarannya terdengar lebih santai.
'Bukit Selong. Sabtu malam.'
Kiana menunggu sampai senyumnya melebar sebelum mengangkat satu jari.
'Kamu bilang Sabtu ada shift.'
Senyum itu tertahan.
'Iya. Aku mau tukar dulu.'
'Berarti jangan janji sebelum bisa.'
Bayu mengangguk cepat. 'Betul. Ini usul dulu.'
Kiana tertawa melihat kesungguhannya. Bayu merasakan wajahnya panas, tetapi tidak menyesal sudah bertanya. Selama beberapa hari terakhir ia terus memikirkan meja kafe yang mendadak mempunyai tiga kursi. Membayangkan kesempatan lain membuat keberaniannya muncul lagi, meski dengan susunan kata yang berantakan.
'Kenapa harus malam?' tanya Kiana.
'Biar bintangnya kelihatan, Kak.'
'Iya juga.'
Mereka tertawa sampai perawat melongok dari pintu. Kiana segera mengambil catatan pasien berikutnya. Bayu menggeser kursi yang menghalangi jalan, lalu kembali ke pekerjaannya. Undangan itu menunggu sampai mereka benar-benar dapat berhenti untuk makan.
Pada jeda siang, Bayu menemui Ali. Ia membawa jadwal yang sudah dibicarakan dengan rekan intern yang bersedia bertukar giliran. Ali membaca waktu yang ditunjuk, lalu menanyakan jaga pengganti yang akan diambil Bayu.
'Senin malam saya bisa, Dok. Minggu saya tetap menjalani pekerjaan travel.'
Ali menatapnya.
'Bisa atau menurutmu bisa?'
Bayu mengeluarkan ponsel. Pengelola travel sudah mengonfirmasi penugasan Minggu berupa antar jemput yang kembali sore hari. Ia menunjukkan kabar itu tanpa membukakan percakapan pribadinya dengan Kiana.
Ali menghubungi rekan yang disebutkan untuk memastikan pertukarannya benar-benar disepakati. Sesudah jawaban diterima, ia mengubah jadwal dan meminta Bayu tetap menyelesaikan giliran siang Sabtu sebelum pulang.
'Jangan membuat orang lain tiba-tiba menunggu karena kamu mengira sudah diganti.'
'Siap, Dok.'
'Kalau penugasan lain berubah dan mengganggu giliranmu, kabari lebih awal.'
Bayu mengangguk. Ia keluar dengan perasaan ringan yang segera ia tahan ketika melihat Kiana masih memeriksa pasien. Kali ini ia tidak memanggil dari tengah ruangan. Ia menunggu sampai pekerjaan itu selesai.
Kiana baru mengetahui hasilnya ketika mereka bertemu di tempat makan.
'Sudah boleh?'
'Sudah. Aku tetap kerja besok siang. Malamnya diganti, nanti aku ambil Senin malam. Minggu tetap urusan travel.'
'Kamu yakin tidak capek?'
'Aku cek tugasnya dulu tadi. Kalau berubah, aku kabari.'
Kiana meneliti wajahnya. Bayu tidak sedang memasang senyum untuk menghindari pertanyaan. Ia benar-benar tampak sudah memikirkan jawabannya.
'Oke. Sabtu malam.'
'Yes!'
Bayu mengepalkan tangan terlalu tinggi. Seorang rekan menoleh, membuatnya segera meraih sendok agar gerakan itu terlihat seperti bagian dari makan siang.
Kiana menutup mulut menahan tawa.
'Tidak bisa biasa saja, ya?'
'Nggak bisa, Kak. Sudah bawaan lahir.'
Ia menjelaskan bahwa tempat yang akan dikunjungi tidak memerlukan perjalanan panjang seperti mendaki Rinjani. Mereka tetap perlu alas kaki yang nyaman, jaket dan penerangan. Kiana langsung mengangkat ponselnya.
'Senter ini tidak boleh?'
'Boleh. Tapi bawa yang lain juga. Aku ingat bateraimu waktu mati listrik.'
'Semua orang ingat itu, ya?'
'Susah dilupakan.'
Mereka kembali bekerja setelah makan. Bayu masih mempunyai giliran malam Jumat, sehingga Kiana pulang sendiri ketika waktunya tiba. Ia berjalan tanpa terburu-buru, berhenti sebentar memberi jalan kepada kendaraan pengangkut sayur yang hendak berbelok.
Di paviliun, Gian sedang menyikat sepatu di serambi. Satu sepatu sudah bersih, yang lain masih dipegangnya. Kiana melambaikan tangan sebelum menaiki tangga.
'Bayu?' tanya Gian.
'Jaga malam.'
Gian mengangguk, lalu melanjutkan pekerjaannya.
Kiana sempat berhenti di anak tangga pertama. 'Kamu pernah ke Bukit Selong malam-malam?'
Sikat di tangan Gian tidak bergerak lagi.
'Kenapa?'
'Mau lihat bintang.'
'Sama Bayu?'
'Iya.'
Gian menatap sepatunya. 'Dia sudah tahu tempatnya.'
'Aku tanya kamu pernah atau belum.'
'Pernah.'
Kiana menunggu, mengira ia akan mendapat komentar lain. Gian malah mencelupkan sikat ke air dan menggosok bagian sol.
'Dingin, kan?' tanyanya lagi.
'Kalau kamu pergi pakai pakaian seperti sekarang, mungkin pulangnya sibuk mengeluh.'
Kiana melihat kaus tipis di bawah kardigannya, lalu menyilangkan tangan.
'Terima kasih atas ramalannya.'
'Bawa jaket yang benar.'
'Aku punya.'
'Senter juga.'
Kiana tertawa pendek. Ia tidak perlu menceritakan bahwa Bayu sudah mengingatkan hal yang sama. Gian akhirnya mengangkat wajah, tampak tidak mengerti apa yang lucu.
'Ponselmu suka mati saat diperlukan,' tambahnya.
'Aku sudah belajar.'
Gian meraih lap untuk mengeringkan sepatu. Kiana melihat ia melewatkan bagian tumit dan hampir menunjukkannya, tetapi memilih berpamitan dahulu. Ia naik sambil memikirkan jaket parka yang masih terlipat di koper.
Di kamar, ia mengeluarkan jaket, syal dan sepatu. Senter kecil ditemukan di saku tas perlengkapan. Ketika dinyalakan, cahayanya jatuh pada kain penutup boks. Kiana segera mengarahkannya ke lantai, lalu memeriksa baterai tanpa mendekati tumpukan itu.
Pesan Bayu masuk setelah magrib. Ia akan menjemput sesudah tugas dan waktu istirahatnya besok, tidak meminta Kiana menunggu tanpa kepastian di luar.
Kiana membalas, lalu mengirim foto senter yang sudah menyala.
Sudah siap. Jangan bawa lampu operasi.
Jawaban Bayu membuatnya tertawa sebelum sempat menaruh ponsel.
Kalau bawa itu, bintangnya kalah terang, Kak.
Di klinik, Bayu menunggu waktu istirahat untuk menelepon ibunya. Ia baru mengatakan membutuhkan termos kecil ketika ibunya langsung bertanya minuman itu akan dibawa bersama siapa.
'Kak Kiana,' jawabnya, kemudian cepat-cepat menambahkan bahwa mereka hanya akan melihat bintang.
Ibu tertawa di ujung sambungan. Ada suara gunting diletakkan, lalu ia menyebut tempat termos disimpan.
'Besok Ibu buatkan kue sekalian. Tapi kamu jangan mengira bisa mengambil lalu pergi tanpa menyapa.'
'Bayu selalu menyapa, Bu.'
'Kalau gugup, kamu suka lupa semuanya.'
Bayu tertawa pelan. Sesudah menutup telepon, ia melihat jemarinya sendiri masih memutar tutup botol tanpa tujuan. Ia segera merapikannya dan kembali ke ruangan tempat pasien menunggu.
Di serambi bawah, Gian akhirnya membersihkan bagian tumit yang tadi terlewat. Sesudah kedua sepatu berjejer rapi, ia masih duduk sebentar, menatap jalan yang akan dilalui Bayu besok malam.