Kiana membawa secangkir teh ke anak tangga paviliun. Sore itu ia masih punya waktu sebelum lapar memaksanya turun mencari makan. Tidak ada pasien yang menunggu, tidak ada panggilan ruang operasi, dan tidak ada alasan untuk terus memeriksa jam.
Seharusnya menyenangkan.
Ia justru kembali memikirkan pigura yang dilihatnya pagi tadi.
Hannah sudah menjawab dengan yakin bahwa Gian belum menikah. Lalu siapa perempuan dan anak kecil itu? Kiana mengaduk teh yang gulanya sudah larut, kemudian berhenti saat suara sendok terdengar terlalu sibuk di tangannya sendiri.
'Kepo banget, sih,' gumamnya.
Dari tempat duduknya ia dapat melihat Gian pulang dengan mobil. Lelaki itu memarkir kendaraan, mengambil tas dari kursi sebelah, lalu berhenti untuk membetulkan sepatu yang bagian bawahnya penuh tanah.
Kiana mengangkat cangkir, hendak menyapa.
Gian lebih dahulu menoleh.
'Liburnya sudah selesai?'
'Besok baru kerja.'
'Berarti hari ini kamu tidak perlu mengetuk pintuku karena kesiangan.'
Kiana mendengus. 'Yang mengetuk pintu siapa tadi pagi?'
Gian hampir tersenyum. Ia menaruh tas di bahu dan melanjutkan langkah menuju rumah. Kiana tahu seharusnya percakapan berhenti di sana. Ia juga tahu dirinya akan terus memikirkan boks itu jika tidak mengatakan apa-apa.
'Gian. Aku mau tanya.'
Pria itu berhenti di tepi rumput.
'Masalah tagihan?'
'Bukan.'
Kiana meletakkan cangkir di anak tangga, lalu mendekat. Ia sempat mencari kalimat pembuka yang terdengar santai, tetapi semua versi di kepalanya terasa semakin tidak jujur.
'Aku tadi buka kain di sudut kamar.'
Perubahan pada wajah Gian membuat kata berikutnya tersangkut.
'Kain yang menutupi boks?' tanyanya.
'Iya.'
'Kamu buka boksnya?'
Kiana mengangguk. 'Aku pikir barang penghuni lama. Ada ijazah dan foto...'
'Kamu pikir karena barangnya ada di sana, kamu boleh memeriksanya?'
'Aku cuma lihat sebentar.'
Gian menatapnya tanpa berkedip.
Kiana mendengar jawabannya sendiri, lalu merasa semakin bodoh. Sebentar atau lama tidak mengubah kenyataan bahwa ia telah membuka barang yang tidak ditujukan kepadanya.
'Aku seharusnya tanya dulu,' katanya.
'Ya.'
'Tapi aku sudah lihat. Jadi aku mau tahu harus diapakan. Aku bisa pindahkan kalau kamu...'
'Jangan pindahkan apa pun.'
Nada itu membuat Kiana menegakkan punggung. Beberapa orang berjalan melewati jalan depan, berbicara cukup keras tentang makan malam. Ia berharap mereka lekas berlalu, lalu kesal kepada dirinya sendiri karena sibuk memikirkan siapa yang mendengar.
'Gian, aku nggak sengaja mau mengganggu.'
'Tetapi kamu mengganggu.'
Kiana terdiam.
Gian menatap lantai dua. Pada jendela kamar lima, gorden yang tadi dibuka Kiana bergerak sedikit. Ia menunggu sampai kain itu kembali diam sebelum berbicara lagi.
'Barang-barang itu bukan untuk diperiksa tamu.'
'Aku mengerti.'
'Kamu menyewa kamar. Bukan semua yang ada di dalam boks.'
'Aku bilang aku mengerti.'
Kiana menyadari suaranya meninggi. Ia menarik napas, berusaha menurunkan sesuatu yang mulai terbakar di tenggorokannya. Beberapa menit sebelumnya ia hendak bertanya tentang perempuan di foto. Sekarang ia bahkan tidak ingin mengucapkan nama yang dibacanya pada ijazah.
Gian memandangnya lagi.
'Jangan sentuh barang itu lagi.'
'Oke. Maaf.'
Lelaki itu mengangguk singkat, kemudian berbalik. Kiana menunggunya mengatakan bahwa ia juga tidak perlu bicara sekasar itu. Gian tidak melakukannya. Ia masuk ke rumah dan menutup pintu, menyisakan Kiana berdiri dekat cangkir yang mulai kehilangan hangatnya.
'Aku cuma nanya,' gumamnya.
Kalimat itu terdengar menyedihkan bahkan di telinganya sendiri.
Ia kembali mengambil teh, tetapi tidak meminumnya. Di kafe, seorang tamu meminta tambahan sendok kepada pelayan. Kiana bergeser agar tidak menutup tangga, lalu naik ke kamar dengan hati yang jauh lebih gaduh daripada ketika turun.
Boks paling atas masih berada di tempatnya. Kain penutupnya miring. Ujung map yang tadi dibacanya terlihat dari celah, seolah membantah usaha Kiana menganggap perbuatannya kecil saja.
Ia menaruh cangkir di meja dan mendekat.
Tangannya sudah terulur ketika teringat larangan Gian.
Kiana menariknya kembali.
Ia mengambil kain dari sisi yang jatuh, mengangkatnya tanpa membuka tutup boks, lalu merapikan sampai semua bagian tertutup. Sesudah itu ia memindahkan tas jinjingnya sendiri yang terlalu dekat dengan tumpukan tersebut.
Hanya barangnya sendiri yang ia pindahkan.
Kiana duduk di tepi kasur. Ketika meraih ponsel, ia sempat ingin bertanya kepada Hannah tentang Anjani. Nama itu sudah diketik sebelum ia menghapusnya lagi. Ia baru saja meminta maaf kepada pemilik barang. Mencari jawaban melalui orang lain sekarang terasa seperti mengulang kesalahan dengan cara yang lebih rapi.
Di rumah sebelah, Gian menaruh tas terlalu keras pada kursi.
Ia berdiri beberapa saat di dekat pintu, mendengar langkah Kiana menaiki tangga. Sepatunya masih kotor, tetapi ia tidak bergerak mengambil sikat. Kepalanya dipenuhi suara yang tidak berasal dari halaman sore itu.
Suara orang memanggil di tengah abu.
Tangis Ara yang begitu dekat saat tubuh kecil itu digendongnya turun. Sesudahnya hanya ada hari-hari menunggu kabar dan perpisahan yang tidak pernah terasa selesai.
Gian memejamkan mata. Ia menarik peredam dari telinga kiri, lalu segera meringis ketika bunyi piring dan kendaraan menyerbu terlalu tajam. Benda itu dipasang kembali dengan jemari yang kurang tenang.
Ia duduk sebelum lututnya menyerah.
Kiana telah menyentuh sesuatu yang belum sanggup diceritakannya. Namun wajah perempuan itu ketika dimarahi juga tidak mau hilang dari pikirannya.
Ketukan singkat membuatnya membuka mata.
Seorang pekerja kafe berdiri di serambi, membawa sikat yang biasanya dipakai membersihkan sepatu. Melihat wajah Gian, orang itu langsung menyodorkannya tanpa berani bertanya.
'Tadi tertinggal di dekat pintu kafe, Pak.'
Gian menerimanya. Ia hampir menjawab terlalu pendek, lalu melihat jari pekerja itu yang masih menahan gagang sikat.
'Makasih. Aku bereskan sendiri.'
Orang itu mengangguk dan kembali bekerja. Gian menatap lumpur yang tercecer dari sepatunya. Ia mengambil alas dari dekat pintu, memindahkan sepatu ke atasnya, kemudian duduk lagi. Tak ada orang yang perlu membersihkan lantainya saat ia sedang berusaha meredakan marah.
Gian meraih air di meja, meneguknya, lalu meletakkan gelas dengan hati-hati. Sore belum benar-benar berakhir. Di luar masih ada orang tertawa, sementara ia duduk menunggu sampai suara di kepalanya tidak lagi memenuhi seluruh rumah.