Lelaki itu menunduk, lalu buru-buru merapikan pakaiannya. Perempuan di sebelahnya memalingkan wajah. Gian menunggu dengan tangan masih memegang rantai pendek borgol, menahan keinginan untuk mengomel sebelum keduanya benar-benar siap berjalan.
'Kita turun sekarang.'
'Pak, tunggu. Kita bisa jelasin,' kata si lelaki.
'Jelaskan di tempat yang tidak mengharuskan kita berdiri di jalur tertutup.'
Gian mengarahkan mereka menjauhi semak. Perempuan itu hendak mengambil langkah panjang, tetapi tangan yang tertaut kepada temannya membuat keduanya kehilangan keseimbangan. Gian segera menahan lengannya.
'Pelan. Jangan saling tarik.'
'Borgolnya bisa dilepas dulu?'
'Kita berhenti di tempat yang lebih rata.'
Ia tidak meneruskan langkah sebelum lelaki itu menemukan pijakan. Satu alasan tambahan untuk kesal kepada dirinya sendiri: membuat orang menurut tidak selalu membuat mereka lebih mudah dibawa turun. Di belakangnya, seseorang mengeluh sepatunya kemasukan tanah.
Gian meraih radio.
'Garuda satu ke markas. Dua pendaki ditemukan di jalur tertutup bagian barat. Kami kembali untuk pendataan.'
Suara Erik segera menjawab, terlalu nyaring di dekat bahunya. Gian menjauhkan perangkat sedikit sebelum membalas bahwa mereka belum memerlukan bantuan tambahan. Ia menunggu desis sambungan berhenti, baru kembali menoleh kepada kedua tamunya.
'Kalian masuk dari mana?'
Lelaki itu menunjuk ke belakang. Perempuan tersebut justru menunjuk arah lain.
Mereka saling memandang.
'Kami tadi muter,' akhirnya perempuan itu mengaku. 'Nyari tempat yang sepi.'
Gian menatapnya sampai ia menambahkan sesuatu.
'Buat ambil video. Di jalur biasa orang lewat terus.'
'Ada alasan jalur biasa dilewati orang.'
'Kita nggak merusak apa-apa, Pak.'
Gian menunjuk tumbuhan rendah yang batangnya patah dekat kaki lelaki itu. Orang tersebut menunduk, lalu memindahkan sepatu dengan canggung.
'Saya nggak lihat.'
'Itu yang sedang kita bicarakan.'
Mereka tiba di bagian yang cukup lapang untuk berhenti. Gian melepas borgol dan menyimpannya, lalu meminta keduanya berjalan di depannya. Ia menunjuk batu yang goyah agar keduanya melangkah ke sisi lain. Sekarang ia dapat melihat tangan mereka bergerak lebih leluasa saat menjaga keseimbangan.
Perempuan itu memijat pergelangannya.
'Nama Bapak siapa?'
'Gian.'
'Saya bukan mau ngadu. Cuma nanya.'
'Aku menjawab.'
Ia mendengar lelaki di sebelahnya tertawa gugup. Gian tidak ikut tertawa, tetapi kemarahannya sedikit surut ketika mereka akhirnya memperhatikan jalan, bukan sibuk memikirkan bagaimana keluar dari keadaan itu tanpa malu.
Di sebuah belokan, perempuan tersebut berhenti dan merogoh saku jaket.
'Ponsel saya...' Wajahnya berubah. 'Tadi ditaruh di batu.'
Gian memandang jalan yang baru mereka lewati.
'Layar hitam, sarungnya kuning?'
'Iya! Bapak lihat?'
Ia mengeluarkan benda itu dari saku samping tas. Ia telah mengambilnya ketika memeriksa tempat keduanya berdiri, sebelum membawa mereka pergi.
Perempuan itu mengulurkan tangan, kemudian menariknya sedikit ketika Gian belum melepaskan ponsel.
'Ini punya saya, Pak.'
'Aku tahu. Pegang baik-baik. Kita tidak kembali lagi untuk mencari barang yang sama.'
Ia menyerahkannya. Perempuan itu mengucapkan terima kasih dengan suara jauh lebih kecil daripada sebelumnya, lalu memasukkan ponsel sampai benar-benar tersimpan.
Setelah mereka memasuki jalur yang lebih terbuka, Gian memperlambat langkah. Telinga kirinya berdenyut. Ia merapikan letak peredam dengan ujung jari dan menunggu sebentar, berpura-pura sedang memeriksa arah.
'Bapak capek?' tanya lelaki itu.
'Kalian masih bisa jalan?'
'Bisa.'
'Kalau begitu, lanjut.'
Ia tidak ingin percakapan berbalik kepada dirinya. Ia juga tidak ingin kedua orang itu memutuskan berjalan lebih cepat demi membuktikan sesuatu. Sampai gapura terlihat, ia mempertahankan jarak yang memungkinkan mereka memanggil tanpa harus berteriak.
Erik menunggu di bawah dengan air minum. Ia sempat membuka mulut untuk bercanda, tetapi Gian menyerahkan keterangan singkat lebih dahulu. Pemuda itu menangkap maksudnya dan mengantar kedua pendaki ke meja petugas.
Pak Huda keluar ketika mendengar mereka datang.
'Duduk dulu. Ceritakan dari awal.'
Perempuan itu langsung mengeluarkan ponsel, menunjukkan video perjalanan mereka. Pada salah satu bagian, papan penutupan tampak di belakang bahu temannya.
Lelaki itu menunduk.
'Kami pikir cuma supaya orang nggak berdesakan ke sana.'
'Kalian sempat bertanya kepada petugas?' tanya Huda.
Tidak ada jawaban.
Gian mengambil kursi di sisi meja. Ia menyampaikan lokasi penemuan serta keadaan saat dibawa turun. Ketika perempuan itu mengatakan dirinya ditarik, ia tidak memotong. Ia menjelaskan gerak yang dilakukannya, lalu membiarkan Huda mendengar keberatan mereka sampai selesai.
'Besok ada penyuluhan untuk pengunjung dan anak-anak sekolah,' kata Huda kemudian. 'Kalian bersedia hadir sebagai peserta? Sebelum membayangkan konten berikutnya, dengarkan dulu orang yang merawat tempat ini.'
'Besok pagi?' Lelaki itu menatap temannya.
'Kami belum pulang,' jawab perempuan tersebut. Setelah ragu, ia mengangguk. 'Bisa, Pak.'
Petugas mencatat kehadiran yang mereka sepakati dan menjelaskan bahwa urusan pelanggaran kunjungan mereka tetap diperiksa. Gian tidak menjanjikan semua selesai hanya karena keduanya bersedia duduk mendengarkan esok hari.
Sebelum beranjak, perempuan itu melihat lagi video yang hendak diunggahnya.
'Kalau saya ceritakan kita salah masuk, boleh?'
'Ceritakan yang sungguh terjadi,' jawab Gian. 'Jangan mengajak orang lain mencari tempat yang sama.'
Lelaki di sebelahnya mengangguk dan membantu memilih bagian perjalanan di jalur biasa. Mereka tidak lagi tertawa ketika papan larangan muncul pada layar.
Ketika mereka beranjak, perempuan itu berhenti di dekat pintu.
'Makasih ponselnya, Pak Gian.'
Gian mengangguk. Kali ini ia melihat kedua orang itu berjalan berdampingan tanpa saling menarik.
Ia baru hendak kembali ke ruang kerja ketika Huda menyebut namanya. Atasannya menunggu sampai Erik menutup pintu depan sebelum menunjuk kursi di gazebo.
'Telingamu bagaimana hari ini?'
'Bisa dipakai kerja.'
'Aku bertanya bagaimana rasanya.'
Gian mengalihkan pandangan ke gelas kopi yang belum dihabiskan Huda. Bunyi sendok menyentuh piring dari dalam kantor membuat rahangnya menegang.
'Kadang berdenyut,' akhirnya ia menjawab.
Huda tidak tampak puas, tetapi juga tidak langsung membuka pembicaraan tentang berhenti bekerja.
'Kalau perlu istirahat, bilang sebelum kamu jatuh di depanku.'
Gian mengembuskan napas. 'Saya masih harus menyelesaikan laporan.'
'Kerjakan sambil duduk. Kursinya tidak akan merasa menang kalau kamu pakai.'
Ia hampir tersenyum. Setelah mengambil air, Gian kembali ke meja dan membuka catatan patroli. Kali ini ia menarik kursi lebih dekat sebelum mulai menulis.