“Oh? Selamat pagi, Dokter Kiana!” sapa Hannah ramah dari balik bilik meja customer service menyambut Kiana yang baru menuruni tangga.
“Ah, ya. Selamat pagi.”
“Nggak ke klinik, Dok?”
“Saya libur kebetulan ini,” jawab Kiana sambil melongok ke kafe yang ternyata staf-nya baru saja datang dan masih dalam persiapan.
“Gimana kalau kita sarapan bareng?” ajak Hannah.
Pada akhirnya Kiana menerima ajakan itu dengan sangat terbuka. Sebab, ia juga sedang lapar sekaligus belum menjajal menu-menu di sekitaran desa. Sungguh, ia datang ke Desa Sembalun bukan untuk berlibur, jadi tidak sempat melakukan berbagai hal.
Kiana membonceng Hannah dengan motornya menjajal desa. Bahkan dengan menghirup udara pagi kaki Gunung Rinjani sudah menjadi obat penenang terbaik yang pernah Kiana dapatkan.
Lantas mata Kiana membelalak saat melihat keramaian di sebuah sudut desa yang bangunan rumahnya tampak masih tradisional tanpa campuran gaya modern. “Wah? Lagi ada syuting, kah?”
“Kayanya iya,” jawab Hannah. “Banyak juga yang bikin pemotretan di dusun itu.”
“Oh… beda dusun, ya, sama tempat kita.”
“Iya. Di sana masih kental suku sasak.”
“Keren!” Kiana berdecak kagum.
“Kamu mau mampir ke sana?”
“Pengen. Tapi nanti aja, lah. Aku laper,” kekeh Kiana.
Keduanya sampai di sebuah kedai makanan tradisional. Suasana di warung tersebut cukup ramai di pagi hari. Banyak sekali para calon-calon pendaki yang sarapan pagi bersama di sana. Kiana sampai kewalahan. Beruntung Hannah sudah mengenal dari anak pemilik kedai tersebut, sehingga keduanya bisa mendapatkan makanan dengan cepat. Dan Kiana sendiri juga tidak pilih-pilih. Ia akan makan apa saja yang Hannah pilihkan.
“Wah… kamu keren banget pokoknya!” Kiana berseru kegirangan saat makanan tersaji dengan cepat di meja mereka.
“Yang ini sayur Ares.” Hannah menunjukkan sebuah mangkuk, memperkenalkan beberapa hidangan khas Lombok. “Kamu nggak akan nemu sayur ini di luar Lombok.”
“Beneran?” Kiana juga tampak antusias mendengar penjelasan Hannah.
“Tapi aku nggak tau kamu bakal suka apa enggak. Kalau nggak suka, aku makan aja. Jadi, sayur ares dibuat dari batang pisang.”
Kiana mengangguk mengerti. “I see.”
“Trus yang ini ayam rarang. Sebenernya lebih cocok buat menu makan siang, sih, ya.”
Kiana tertawa. “Nggak apa-apa… ini juga udah jam sepuluh.”
Keduanya lantas makan bersama di tepi sawah teriring suara berisik para pengunjung yang memenuhi kedai. Tapi tetap masih bisa menikmati makanan dengan baik karena menghadap langsung ke sawah di tikar lesehan.
“Enak!” Kiana mengacungkan ibu jarinya. “Sayur ares aku juga suka, kok. Not bad. Trus… ayam juga udah pasti enak.” Betapa senang ia saat bisa sarapan dengan benar. Biasanya ia hanya makan roti dan bekerja. Tak punya teman makan pagi. Nasibnya tidak sebaik relawan lain yang bisa menghabiskan waktu bersama.
Hannah tersenyum riang. Ia merasa bangga telah memperkenalkan hidangan khas kampung halamannya dengan baik sembari mereka bertukar berbagai percakapan ringan seperti Kiana yang membelalak saat tau bahwa Hannah lebih tua darinya.
“Trus kalau paviliunnya di tinggal kaya gini, nggak apa-apa, Kak Hannah?” tanya Kiana penasaran sambil menikmati makanannya.
“Nggak apa-apa kalau staf kafenya udah datang,” jawabnya yang dihadiahi anggukan kecil Kiana. “Tapi omong-omong… apa kamu sudah pernah kenal Gian sebelumnya?”
Kiana menggeleng, segera menelan makannya. “Enggak. Sama sekali. Kenapa?”
“Ah… enggak. Kelihatan udah akrab gitu. Padahal Gian bukan orang yang gampang akrab sama siapapun.”
Hampir saja Kiana tersedak. Ia tergelak penuh tawa. “Akrab? Kamu aja yang nggak tau. Kita bahkan cek-cok mulu.” Ia menggeleng dengan tegas. “Nggak… kita nggak cocok, sekalipun buat temanan.”
“Oya?”
“Uhm!”
“Aku temen SMA-nya.”
Kiana melebarkan matanya. “Berarti Gian lebih tua dong dari aku.”
Hannah tersenyum lembut. “Rumahku lurus sana.” Ia menunjukkan sebuah rute. “Ada di komplek kios itu.”
“Kak Hannah punya toko juga?”
“Enggak. Komplek kios itu punya keluarga Gian yang sekarang Gian kelola sama aku. Dan satu kios untuk aku tinggali. Pure dijadikan rumah buat aku.”
Kiana menyimak dengan baik kisah itu.
“Gian kasih buat aku,” lanjut Hannah.
“Wah! Kok dia bisa baik gitu. Mungkin karena udah kenal lama sama kamu kali, ya, Kak.”
Hannah membayangkan kenangan lawas itu. “Dulu Gian pernah suka sama aku. Tapi aku nggak tau.” Ia lantas menertawakan situasinya. “Tapi sekarang justru sebaliknya.”
Seketika Kiana menghentikan aktivitas mengunyahnya. Ia menatap Hannah yang sedang menekuri lantainya itu dengan iba sekaligus terkejut.
“T-tapi… bukannya Gian udah nikah, ya?”
“Uhm?” Kini giliran mata Hannah yang membulat. “Kata siapa? Gosip dari mana?”
“Ah…” Kiana lantas menertawai dirinya sendiri, lalu memilih untuk bungkam dari pada ia salah bicara setelah menggeledah barang orang di kamarnya. “Ngarang aja aku, Kak. Soalnya, kan, udah 35 tahun. Berarti kakak juga masih single, dong?”
“Ya, gitulah.”
“It’s ok… Aku juga 32 tahun single dengan segala drama.” Kiana terlihat mulai tegar. “Yang penting masih bisa menghidupi diri sendiri, itu udah patut disyukuri.”
“Tapi… kamu nggak penasaran tentang Gian?”
“Aku?” Kiana menunjuk dirinya sendiri, lalu menggeleng. “Enggak.”
“Biasanya siapapun yang menginap di paviliun suka banyak yang nanya soal Gian.”
“Ah… itu mungkin banget karena Gian juga ganteng.”
“Kamu mengakui?”
Kiana tertawa. “Iya, dong. Walaupun nggak cocok, tapi dia emang cakep.” Kemudian ia meletakkan piranti makannya ke atas piring. “Dari pada Gian… aku lebih penasaran sama yang lain.”
“Siapa?”
“Bayu. Dokter Bayu.”
^^^
Baru saja istirahat, Gian harus mendaki lagi demi menjaga paru-paru dunia. Ia bersama tim melakukan patroli. Tak hanya hutan dan tumbuhannya yang harus dijaga, melainkan satwa juga. Sebab, banyak satwa liar yang seharusnya dilindungi, justru dimusnahkan oleh oknum tak bertanggung jawab. Termasuk pendakian ke jalur terlarang.
“Permisi, ada yang perlu dibantu?” sapa Gian pada dua pendaki perempuan dan lelaki yang tampak mencurigakan.
“Ah… e-e…”
“Ini jalur terlarang. Sudah tau? Di peta nggak ada arah ke sini,” sambung Gian.
“Kita…”
“T-tersesat, Pak,” sambung lelaki itu.
Dengan wajah datar, Gian menyelidik penampilan mereka secara tenang sambil diam-diam merogoh sesuatu dari sakunya sekaligus menyusun pergerakan. Dengan cekatan, Gian berhasil merampas kedua tangan mereka—tangan kanan si perempuan dan tangan kiri lelaki itu yang disatukan di dalam borgol.
“Pak? Pak? Apa ini?” Mereka panik.
“Kita bicarakan di bawah,” tegas Gian.
“Tunggu, Pak! Nggak bisa gini, dong. Saya nggak melakukan pencurian atau apapun!”
“Kita jelaskan dulu, Pak!” Si perempuan memohon.
“Kalian mau diterkam harimau?” Gian menunjukkan papan peringatan di ujung sana. “Ini wilayah hewan buas. Bisa-bisanya kalian ini.”
“Tolong lepasin dulu, Pak!” Lelaki itu juga memohon.
Gian tampak tenang dalam hening, kemudian dagunya mengarahkan pada celana si lelaki. “Tutup dulu retsletingnya.”
“Y-ya?”