Eksotisme pagi hari di kaki Gunung Rinjani adalah sebuah harta karun. Tak ada satupun yang ingin melewatkannya. Semua beramai-ramai bangun lebih pagi, setidaknya untuk merasakan sebuah kedamaian yang tak pernah ditemukan di daerah lain. Apalagi di perkotaan.
Saat matahari masih bermalu-malu untuk menampakkan eksistensinya, Gian melakukan lari pagi rutin mengitari desa. Peluh membasahi seluruh tubuhnya. Tapi ia tetap mempesona. Sesekali juga ia menyapa warga yang pergi ke sawah atau ke kebun dengan ramah.
Lantas langkahnya perlahan terhenti saat berpapasan dengan Rama.
“Kayanya kita ditakdirkan buat selalu bersama, Gian,” kata Rama.
Sambil memperbaiki pernapasannya yang tak beraturan, Gian terkekeh. “Nggak usah lebay. Namanya juga tinggal di satu wilayah.”
“Itu artinya kita bisa bekerja sama lagi membangun yayasan.”
“Sudah kuduga. Kamu pasti bakal mengungkit ini terus.” Gian berkacak pinggang sambil menatap matahari yang mulai menampakkan diri di balik perbukitan.
Rama tertawa. “Karena aku tau kamu kesulitan.” Lantas Gian menatapnya sambil mengerutkan kening. “Kita ini berteman udah lama, loh. Dari SMP, Gi. Aku tau kamu yang usil, rame. Tiba-tiba jadi tertutup dan menjadi semakin rapat,” lanjut Rama lantas menunjuk telinganya sendiri. “Aku juga orang pertama yang tau soal telingamu. Bahkan mungkin satu-satunya kalau Pak Huda nggak tau. Tapi kalau sampai Pak Huda tau… itu wajar karena dia bos-mu.”
“Hannah juga tau.”
Rama membelalak. “Hannah? Sejak kapan?”
“Udah lama.”
“Kok bisa?”
“Dia suka sama aku. Udah pasti dia memperhatikan detail bahkan dengan alat sekecil itu di telingaku ini.”
Rama tercengang. “Tunggu? Hannah…” Dia masih sibuk mencerna kalimat Gian. “Sejak kapan suka sama kamu?”
“Ey!” Gian berdecak kesal. “Apa itu penting?”
“Eung… maksudku… kalian tinggal bareng…”
“Siapa yang tinggal bareng?!” sentak Gian.
Rama terkekeh. “Maksudnya… Hannah kerja di tempat kamu udah lama. Trus… selama itu dia suka sama kamu?”
“Tanya aja sendiri.” Gian tak peduli lalu menatap matahari pagi yang teduh.
Sementara Rama masih membayangkan berbagai kemungkinan di kepalanya terkait ikatan perasaan yang terjalin antara Gian dan Hannah.
“Trus apa responmu?” tanya Rama penasaran. “Apa jangan-jangan dari dulu kamu ajak dia pacaran?”
Gian berdiri lurus menatap Rama, lalu melangkah lebih dekat, menepuk bahu kawannya. “Apa aku kelihatan tertarik buat itu?”
“Kan dari pacaran bisa lanjut ke hubungan yang lebih serius, Gi.”
“Berarti memang bukan dia orangnya,” tutup Gian menepuk lagi bahu Rama sebagai tanda perpisahannya pada pagi itu.
“Tapi kamu juga pernah suka banget sama Hannah!” seru Rama menghentikan langkah Gian.
Ia menoleh. “Itu udah lama banget. Waktu SMA, Ram! Dan perasaanku juga bisa terus berubah setelah banyak hal yang aku lewati. Lagi pula aku minta Hannah buat urusin aset keluargaku bukan karena perasaan, tapi karena aku butuh orang dan aku percaya sama Hannah selagi aku tinggal kuliah di Jakarta.”
“Hannah juga kesulitan waktu itu,” tambah Gian.
Kemudian Gian mengangkat satu alis, lalu berjalan santai meninggalkan Rama yang masih mematung di tempat sembari mencerna banyak hal. Sebab, hari ini Gian akan bekerja. Jadi, ia harus bergegas mempersiapkan diri.
Namun, di tengah langkahnya. Ia tertegun. Memperhatikan megahnya Gunung Rinjani di hadapannya sembari mengulas apa saja yang pernah ia alami bersama gunung tersebut. Mulai dari mendapatkan hobi, alam yang indah hingga kisah tragis.
Masih terbayang dengan jelas bagaimana si jago merah berkobaran hingga ladang milik orang tuanya. Juga saat terjadi gempa besar yang menewaskan banyak orang dan Gian sempat tertimpa bebatuan dan dinding rumah saat menyelamatkan banyak orang.
Tapi Gian masih berdiri di sana dengan tangguh.
^^^
Bahkan saat Gian sudah rapi dengan seragamnya, kabut pun masih menggantung di udara. Suasana dingin masih terus-terus mendekap. Jika tidak terbiasa, siapapun akan terlena, tenggelam dalam suasana.
Setelah mengikat sepatunya, mata Gian mengedarkan pandangannya ke segala arah dan berakhir di gedung kayu di sampingnya—tepatnya di kamar paling pojok. Tampak tertutup rapat dan sepi. Sementara kamar lainnya, beberapa dari mereka sudah mulai keluar menyambut pagi yang fantastis di kaki Gunung Rinjani.
Ia membuka ponselnya, mengarahkan ke telinga sambil menatap ruangan pojok tersebut di lantai dua. Menunggu panggilan yang tak kunjung mendapatkan jawaban.
“Dia belum bangun? Jam segini?” gerutu Gian. “Apa dia nggak kerja?”
Entah dorongan dari mana yang membuat Gian panik. Pria itu lantas memasuki gedung sebelah, menuju lantai dua. Ia juga mengetuk pintu paviliun yang ditinggali Kiana itu berulang kali namun tak mendapat respons.
“Kiana!” seru Gian. “Apa karaokean dadakan sama Bayu buat dia nggak kerja?” lanjutnya menerka. “Kiana bangun!”
Krek…
“Apa?” Dengan wajah bantalnya, Kiana membuka pintu. Rambutnya bahkan terlihat seperti singa betina yang membuat Gian sempat terkejut. Perempuan itu sama sekali tak mempedulikan penampilan di hadapannya.
“Apa?!” tantang Kiana saat Gian tak merespons.
“Nggak kerja?”
“Gue libur. Jangan ganggu!”
Gian lantas tersentak kala Kiana membanting pintunya. “Wah… dia aneh.”
Karena harus bekerja, Gian segera turun dan berpapasan dengan Hannah.
“Gian?”
“Uhm.”
Hannah menelisik. “Kamu dari atas?”
“Iya. Dari Kamar Kiana.”
Jawaban santai Gian membuat Hannah heboh. “Ngapain? Aku tau itu kamar kakakmu tapi kamu nggak seharusnya masuk ke sana saat ada perempuan yang menyewa…”
“Kamu cemburu?”
“Ah?” Hannah mencelang.
“Aku duluan,” tutup Gian melenggang begitu saja.
Hannah mengedipkan matanya berulang kali demi mencerna situasi. Apalagi saat Gian terus-terus berucap tanpa perasaan. Ia lantas mengejar pria itu. “Kalau aku cemburu… apa itu salah?”
Seketika kalimat itu menghentikan langkah Gian. Kemudian ia berbalik bersama gurat rona wajahnya yang datar. Mereka saling menatap di antara udara yang sepi dalam beberapa waktu.
“Enggak. Nggak ada yang salah.”
^^^
Kiana membuka matanya setelah tidur yang sangat berkualitas. Meski sempat diganggu Gian, lucunya ia bisa sempat terlelap lagi tanpa adanya gangguan. Sungguh, desa ini membuatnya mendapatkan kualitas tidur yang lebih baik.
Ia bangun dengan ceria. Segala sesuatu menjadi lebih tenang dan Kiana membersihkan diri—setidaknya mencuci muka dan sikat gigi, mengganti pakaian tidurnya dengan kaos dan celana training.
“Itu apa?” Kiana bertanya-tanya setelah keluar dari kamar mandi.
Sudah sejak lama ada beberapa tumpukan boks di sudut ruangan yang tertutupi kain. Tapi Kiana tidak terlalu memerhatikan, karena selama seminggu ini, ia hanya di rumah untuk istirahat malam dan pergi pagi dengan cepat. Jadi, ia tak sempat melihat-lihat paviliun yang disinggahinya lebih lama.
Kiana mendekat. Membuka kain. Lantas bertanya-tanya akan banyak barang di sana.
“Barang siapa? Ngintip boleh kali, ya,” celotehnya penasaran. “Barangkali barang penghuni kamar ini yang ketinggalan.”
“Woah… ijazah?! Anjani Suaka Alam?” Kiana membaca sebuah ijazah yang tersimpan dalam map. “Cantik banget namanya.”
Kemudian ia menggali yang lainnya, menemukan berbagai benda lain seperti buku novel, bahkan ada parfum dan syal. Dari benda-benda yang ia temukan di boks paling atas itu… Kiana bisa menggambarkan sosok perempuan yang namanya terlukis indah di lembar ijazah itu adalah seseorang yang anggun dan indah.
Dan Kiana pun semakin tercengang saat menemukan satu pigura yang menampilkan sebuah foto satu lelaki, satu perempuan dan satu anak perempuan di antara mereka. Terlihat seperti keluarha kecil yang sangat bahagia sekali dengan latar belakang Gunung Rinjani. Bukan itu yang membuatnya kaget.
Tapi sosok lelaki yang ada di sana.
“Gian?” kaget Kiana. “Ini Gian. Iya, bener.” Dan kemungkinan perempuan di sisinya adalah sosok anggun yang ia gambarkan sebagai pemilik ijazah tersebut. “Jadi, Gian sudah berkeluarga.”