Gian merasa suasana hatinya tidak stabil. Ia lantas melakukan berbagai kegiatan fisik seperti push-up, kemudian berlari kecil di dalam rumah dengan kaos oversize dan celana kolor di atas lutut. Sesekali juga melakukan pull up yang alatnya sudah dipasang di depan pintu kamarnya pada menjelang malam itu. Peluh membasahi sekujur tubuhnya yang justru membuat Gian terlihat semakin keren.
“Gian? Kamu di rumah?”
Suara itu membuatnya terlepas dari pull-up bar bersama napasnya yang sedikit tersengal. Demi menjaga situasi, Gian melepas kaos-nya. Menampilkan tubuh kekar yang gagah, menggantinya dengan kaos baru sebelum menyambut tamu.
“Kenapa?” tanya Gian membuka pintu.
“Uhmm… aku mau setoran uang bulan ini,” jawab Hannah.
Gian lantas menengok ke arloji pintarnya. “Besok aja.”
“Kenapa? Kamu nggak pernah suka kalau aku mengulur waktu. Ketepatan waktu adalah pedoman hidup kamu!” seru Hannah yang paham betul soal teman lamanya itu.
Gian mengembuskan napasnya dengan cukup bertenaga. “Besok pagi aja.”
Lantas Hannah memberikan tatapan menyelidik. Ia berusaha menerka tentang rasa apa yang ada di balik dingin rupanya. “Kamu… sakit?”
“Enggak. Lagi males aja.”
“Oke. Kalau gitu kamu tunggu sini.”
Gian mengerutkan keningnya, menatap wanita berambut pendek itu yang berlalu meninggalkannya, seperti hendak mengambil sesuatu. Meski Gian selalu menampakkan gurat ronanya yang datar, ia tetap bisa menghargai orang lain sampai Hannah kembali datang membawa kantong kresek.
Hannah duduk di atas lantai kayu berdampingan dengan Gian.
“Ini!” Hannah memberikan satu wadah permen karet yang dihadiahi tawa kecil Gian. “Kamu ingat? Beberapa waktu setelah orang tuaku meninggal, peremen karet jadi suguhan kamu waktu aku datang ke sini.” Ia berceloteh lalu menikmati permen tersebut. “Kamu bilang… permen karet bisa membuat mood stabil.”
“Aku bilang gitu?” tanya Gian memastikan sambil membuka bungkusnya.
“Uhm!” Hannah mengangguk tegas. “Trus setelah aku makan, lumayan bikin tenang. Rasa manis sekaligus sensasi ngunyah permen yang nggak bisa hancur itu seru juga. Pas rasa manisnya ilang, kita bikin kebahagiaan lain dengan membuat balon.” Ia tertawa kemudian membuat balon dan meletus tak lama kemudian. “Baru kalau benar-benar jadi pahit, bisa kita buang. Sama aja sama kehidupan. Yang pahit dibuang.”
Gian tersenyum manis. “Aku pernah bilang gitu ternyata.”
Hannah memiringkan kepala, menatap lembut sosok Gian. “Terkesan konyol, tapi itu bekerja walaupun kita sudah dewasa.”
“Hannah…”
“Uhm?”
“Makasih, ya, udah mengenang banyak hal baik tentang aku.”
Hannah tertegun dalam diam. Matanya tak berkedip. Hanya menatap Gian dengan pesona. “Masih banyak, Gian. Masih banyak hal baik yang aku kenang tentang kamu.”
Gian mengedipkan matanya. “Tapi aku nggak sebaik itu.” Ia lantas menatap langit yang semakin gelap. Agaknya ia merasa cukup gelisah terhadap sesuatu.
“Apa perlu aku menjelaskan secara terang-terangan, Gian?”
Gian menoleh datar. Keheningan terjadi di antara keduanya meski beberapa orang sedang memenuhi kafe paviliun yang ada di lobi—berdampingan dengan rumah Gian.
“Nggak usah. Aku tau. Aku udah tau,” tukas Gian yang membuat Hannah sempat bingung sekaligus canggung. “Kamu beresin apa yang perlu diberesin, trus pulang dan istirahat. Aku mau pergi. Ini udah malam.”
“Ah!” Gian berbalik, mengambil seluruh permen karet tersebut. “Aku bawa ini, ya.”
Hannah lagi-lagi tertinggal dalam sepi yang meradang bersama suara alam. Sementara pria dingin itu pergi entah ke mana, meninggalkan kawasan paviliun bersama mobil double-cabin kesayangannya. Pikiran wanita itu menjadi semakin acak. Berkelana entah ke mana.
“Jadi, selama belasan tahun ini… Gian tau kalau aku suka dia?” ucap Hannah nyaris tanpa suara. “Tapi kenapa diam aja?”
^^^
“Kak Gian…”
“Kamu ngapain di sini?!” sentak Kiana pada Gian yang tiba-tiba datang di antara mereka.
Bahkan Bayu yang hendak bertanya pada pria itu sembari memilah kata yang tepat pun tak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Kiana sudah dirundung kesal.
“Kenapa?” Gian bertanya kembali dengan santai sambil merapatkan jaket dan menatap keduanya secara bergantian. “Aku haus!”
“Kamu bahkan jualan kopi!” Kiana tak bisa menyembunyikan kekesalannya.
“Apa salah? Apa dosa?”
Kiana tak merespons dengan kalimat, namun hentakan napas serta perputaran bola matanya sudah menampakkan segala jawaban bersamaan dengan pramusaji yang membawa pesanan mereka dengan cepat.
“Ah! Hari ini ditraktir Bayu?” Gian mengaduk minumannya. “Makasih, ya.” Satu alisnya naik. Sementara Bayu hanya tersenyum menahan banyak hal.
Kemudian hanya ada suasana sunyi di meja mereka. Sementara kehebohan dan suara lain dihasilkan dari meja lain. Suasana hati Kiana dan Bayu kompak tidak menginginkan adanya Gian di antara mereka.
“Hei!” Gian menepuk meja dua kali. “Kenapa kalian pilih-pilih, sih? Apa yang salah sama aku?” Ia tertawa. “Apa karena aku nggak suka stella jeruk, Kiana?” Kemudian ia menunjuk Bayu. “Apa kamu juga suka stella jeruk?”
Bayu menggeleng. “Aku nggak suka stella jeruk. Nggak pernah suka.”
Gian menjentikkan jemarinya. “Tuh! Bayu juga nggak suka. Tapi kenapa kalian buat circle tanpa aku?”
“Karena gue nggak mau temenan sama lo!” semprot Kiana.
Bayu mengulum bibirnya rapat agar tak menimbulkan suara-suara saat menertawai Gian yang diulti habis-habisan oleh seniornya.
Gian membelalak, lalu terkekeh menyebalkan. “Jadi sekarang pakai lo gue?”
“Ah, berisik banget.” Kiana mengeluh. “Bayu… kita ketemu lain waktu, yuk! Nanti kita kabar-kabaran di-chat aja.”
“Aku nggak diajakin lagi?”
Kiana memejamkan matanya sejenak untuk menetralisir emosinya yang sudah nyaris tak terkendali. Lantas membuka mata dan menatap Gian dengan tegas. “Dari awal… lo, tuh, nggak diajak.”
“Sekarang coba lo pikir… lo perempuan asing, trus pergi sama cowok yang baru lo kenal. Di tempat yang asing pula. Berduaan lagi!” cerocos Gian. “Apa itu baik?”
“Emangnya lo siapa? Lo juga asing. Lo juga laki!” seru Kiana. “Lagian tempat ini rame. Bayu juga rekan kerja gue. Mau apa kita? Hah?!”
“Lagian lo juga kenal gue, kan, Kak,” imbuh Bayu sampai tak sadar jika ia menggunakan lo-gue.
“Tapi lebih baik kaya gini,” kata Gian.
“Kalau mau berpikiran liar. Sekalian aja… kalau kaya gini gue juga bisa digilir sama kalian!” sarkas Kiana menggebu-gebu.
Seketika suasana sekonyong hening. Namun kalimat itu membuat Gian dan Bayu saling bertatapan dengan mata yang membulat. Mematung dalam beberapa waktu sampai akhirnya mereka kompak menampar wajah mereka sendiri.
^^^
IAIAO… IAIAO… This is our page…
IAIAO… IAIAO… Our page!
Telinga Gian berkedut saat sedang mengemudikan mobil membawa Kiana dan Bayu di belakang, bahkan sepeda Bayu pun ada di atas bak mobil. Yang lebih parah lagi, keduanya kompak menyetel dan menyanyikan penuh semangat lagu bertajuk ‘Time of Our Life’ dari band kenamaan Korea, DAY6.
Suasana hati Kiana dan Bayu yang semula suram mendadak kembali bangkit di dalam mobil.
Beruntung Gian menggunakan peredam di telinga, meski rasanya seperti tidak berguna karena mereka bernyanyi dengan lepas.
Kiana tertawa. “Wah?!” Ia takjub. “Kamu MyDay?”
“Iya, Kak!”
“Ah!” Mereka bersorak saling membuat hi-five. “Ya ampun. Asik banget.”
Meskipun rencana untuk saling mengenal sambil ngopi di kafe gagal, Kiana dan Bayu justru semakin dekat saat sempit. Bahkan Gian yang berusaha hadir di antara keduanya pun tidak mempengaruhi suasana.
“Lagu apalagi, ya, Kak?” Bayu menggulir layar ponsel.
“Lagu apa, lagu apa!” sentak Gian. “Dari tadi ini udah sampai depan rumahmu. Nggak mau turun?”